AIS Forum Momentum Pembangunan Ekonomi Biru

Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Odo Manuhutu di KTT AIS Forum di Nusa Dua, Bali.
Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Odo Manuhutu di KTT AIS Forum di Nusa Dua, Bali.

Jakarta|EGINDO.co Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum menjadi momentum pembangunan ekonomi biru bagi dunia. Ekonomi biru akan menjadi penggerak, pemulihan, dan transformasi dengan berpegang pada kelestarian lingkungan dan keberlanjutan.

”Manfaat forum mungkin tidak akan langsung dirasakan oleh kita saat ini. Namun dalam 10 hingga 15 tahun ke depan forum ini akan memberikan kontribusi yang nyata bagi dunia termasuk Indonesia di dalamnya,” kata Deputi Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) Odo Manuhutu melalui keterangannya, Senin (9/10/2023).

​Menurutnya, untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan bagi lautan negara pulau dan kepulauan perlu mengembangkan solusi cerdas dan inovatif yang berbasis alam. Sehingga diharapkan, dengan harapan pertemuan di KTT AIS Forum dapat memupuk kolaborasi solid dalam upaya mengatasi tantangan multi-segi di wilayah.

Baca Juga :  Harga Minyak Turun Hampir 4% Mingguan , Kurangnya Permintaan

Odo menekankan, pentingnya kolaborasi untuk mengatasi tantangan bersama yang dihadapi oleh negara-negara AIS terutama dalam empat hal. Di antaranya, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, pengembangan ekonomi biru, penanganan sampah plastik laut, dan tata kelola maritim yang baik.

Sementara itu, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Usman Kansong mengatakan, agenda pertemuan akan berfokus kepada tiga aspek penting. Yaitu pembangunan ekonomi biru, tantangan perubahan iklim, dan mempererat solidaritas antara negara pulau dan kepulauan.

“Melalui forum ini kita ingin membangun solidaritas negara-negara pulau dan kepulauan untuk mengatasi ancaman terhadap lingkungan. Jadi, kalau terjadi bencana lingkungan, yang terkena pertama-tama itu adalah negara kepulauan,” kata Usman.

Baca Juga :  Sinarmas Asset Management Kerja Sama Dengan KB Bukopin

Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan Kemenko Marves Sora Lokita mengatakan, KTT AIS Forum akan menjadi tonggak kesadaran bagi semua elemen masyarakat. Bahkan pemegang kepentingan pun memiliki solusi nyata menghadapi ancaman perubahan iklim yang telah berdampak besar pada sektor kelautan.

“Menekankan pada prinsip utama yaitu saling ketergantungan (interdependence), saling membantu (mutual aid), dan saling menguntungkan (mutual benefit). Hal ini diadaptasi dari konsep gotong royong yang menenun jalinan masyarakat sebagai negara pulau dan kepulauan,” kata Sora.

Atas dasar kesamaan kondisi geografis dan tantangan, maka KTT AIS Forum 2023 menjadi wadah penting bagi negara-negara pulau dan kepulauan untuk bertukar informasi. Sehingga menemukan solusi atas tantangan bersama, seperti perubahan iklim, tata kelola kelautan, hingga polusi.

Baca Juga :  KKP Ajak Generasi Muda Kembangkan Ekonomi Biru

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :