Airlangga Klaim Ekonomi RI Tangguh di Tengah Gejolak Global, Tumbuh di Atas 5%

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dan stabil meskipun situasi global sedang diliputi ketidakpastian, termasuk dampak konflik di Timur Tengah. Ia menilai kondisi saat ini jauh lebih solid dibandingkan krisis 1998, terutama dari sisi fundamental makroekonomi.

Dalam paparan kepada media internasional pada Senin (13/4/2026), Airlangga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11% secara tahunan (yoy), menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan tercepat di antara anggota G20, hanya berada di bawah India. Untuk tahun 2026, pemerintah optimistis pertumbuhan dapat menembus di atas 5,3%, dengan kinerja kuartal I diperkirakan berada di kisaran 5,5%.

Dari sisi fiskal, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih terjaga di bawah batas 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yakni sekitar 2,92%. Sementara itu, rasio utang pemerintah berada di kisaran 40% PDB dan didominasi pembiayaan domestik, sehingga dianggap lebih tahan terhadap tekanan eksternal. Pemerintah juga menilai tingkat kepemilikan asing pada surat utang negara relatif rendah, sehingga risiko arus modal keluar dapat diminimalkan.

Airlangga juga menyoroti rendahnya potensi resesi Indonesia yang diperkirakan hanya sekitar 5%, berdasarkan laporan sejumlah lembaga riset global. Faktor utama yang menopang ketahanan ekonomi adalah kuatnya konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh PDB, serta dukungan sektor pangan dan energi. Cadangan devisa nasional yang berada di kisaran US$148,2 miliar atau setara kebutuhan impor sekitar enam bulan turut memperkuat stabilitas eksternal.

Dari sisi kesejahteraan, pemerintah mencatat perbaikan indikator sosial, dengan tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25%, pengangguran terbuka berada di 4,7%, serta ketimpangan yang ikut menurun. Inflasi juga diklaim masih dalam kendali.

Sejumlah lembaga internasional seperti International Monetary Fund dan World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia berada pada kisaran 2,6% hingga 3,3%, jauh lebih rendah dibandingkan proyeksi Indonesia.

Dalam berbagai analisis yang dikutip dari media internasional seperti Reuters dan Bloomberg, Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara berkembang dengan ketahanan ekonomi yang relatif kuat berkat basis konsumsi domestik yang besar serta kebijakan fiskal yang dinilai cukup disiplin.

Dengan kombinasi pertumbuhan yang stabil, defisit yang terjaga, serta indikator sosial yang membaik, pemerintah menilai ekonomi Indonesia masih berada di jalur ekspansi yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. (Sn)

Scroll to Top