Edison Sinaga: Danau yang Tak Beriak, Tapi Menyimpan Dalam

Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga kini sedang bermukim di lereng dolok Pusuk Buhit
Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga kini sedang bermukim di lereng dolok Pusuk Buhit

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Dari Villa Trinity, Lembang, Jawa Barat. Lihatlah gambar ini. “Aek tarlindak hudon mabola.” Air tertumpah dari periuk yang retak.

Seorang boru yang terkejut, memeluk periuk yang retak itu, airnya muncrat ke mana-mana. Ia panik. Ia ribut. Ia tidak bisa menahan apa yang bocor. Itulah gambaran manusia yang tidak tenang. Sedikit retak, langsung tumpah. Sedikit disinggung, langsung meledak. Sedikit ditekan, langsung berteriak.

Dan di tengah zaman yang seperti ini, saya merenung tentang satu sosok: Edison Sinaga. Ia bukan periuk yang retak. Ia adalah danau.

  1. Danau Yang Tak Beriak

Danau itu di atasnya tenang. Tidak beriak kalau tidak ada angin besar. Tidak bergelombang kalau tidak ada badai. Begitulah Edison Sinaga.

Dalam rapat, dalam musyawarah, dalam perdebatan yang panas, ada orang yang memilih berteriak agar didengar. Edison memilih diam dulu, mendengar dulu, menimbang dulu, baru bicara.

Tenang bukan berarti tidak punya pendapat. Tenang bukan berarti kalah. Tenang bukan berarti tidak berani. Tenang itu adalah kekuatan yang sudah dikendalikan. Itulah yang disebut orang Batak: kalam.

Danau yang tak beriak bukan berarti danau yang dangkal. Justru danau yang paling tenang, biasanya adalah danau yang paling dalam.

  1. Tapi Menyimpan Dalam

Di bawah permukaan yang tenang itu, danau menyimpan dalam. Menyimpan air, menyimpan ikan, menyimpan kehidupan. Begitulah Edison Sinaga. Ia menyimpan dalam pikiran, menyimpan dalam pertimbangan, menyimpan dalam doa.

Ia tidak mengumbar semua yang ia tahu. Ia tidak menumpahkan semua yang ia rasakan. Ia menyimpan, ia mengendapkan, ia menunggu waktu yang tepat untuk mengalirkan. Itulah bedanya dengan periuk yang retak. Periuk yang retak tidak bisa menyimpan. Sedikit saja diisi, langsung tumpah.

Danau bisa menyimpan, karena dasarnya kuat, karena dindingnya tidak retak oleh dendam, tidak retak oleh iri, tidak retak oleh ambisi.

  1. Kalam Itu Adalah Pembuluh Darah Yang Sehat

Saya sering menulis: Mupakat Bulat itu seperti pembuluh darah. Kalau darah itu panas, tekanan tinggi, pembuluh bisa pecah. Kalau pemimpin itu panas, emosi tinggi, organisasi bisa pecah.

Edison Sinaga adalah sosok yang membuat tekanan darah organisasi itu turun. Ia tidak menambah panas. Ia mendinginkan. Ketika ada yang memaksakan kehendak, ia tidak ikut memaksakan. Ketika ada yang menendang-nendang kursi, ia tidak ikut menendang. Ia tetap duduk, tetap mendengar, tetap menjaga agar darah tetap mengalir dengan tenang.

Pemimpin yang kalam itu seperti jantung yang sehat. Detaknya teratur. Tidak berdegup karena amarah, tidak berhenti karena ketakutan.

  1. Penutup: Jangan Jadi Hudon Mabola

Di era digital ini, semua orang mudah meledak. Satu status di Facebook, satu komentar di WA, langsung ribut satu marga. Kita butuh lebih banyak sosok seperti Edison Sinaga. Sosok danau yang tak beriak, tapi menyimpan dalam.

Bukan karena ia tidak tahu apa-apa. Tapi karena ia tahu: yang tenang itu yang menang dalam jangka panjang. Yang ribut mungkin menang suara hari ini. Tapi yang kalam akan menang wibawa selamanya.

Itulah Parhatian Sibola Timbang, Parninggala Sibola Tali. Timbangannya seimbang, talinya sama panjang. Tidak berat sebelah karena emosi. Pagi ini dari Lembang, saya titipkan pesan ini:

“Jangan jadi periuk yang retak. Jadilah danau yang tenang. Biarlah air tetap di dalam, jangan tumpah karena amarah. Sebab orang yang tenang dan kalam, dialah yang menjaga agar darah Pomparan tetap mengalir, tidak tumpah, tidak pecah. ”Au Do Ho, Ho Do Au; Hita Toga Sinaga.@

***

Penulis adalah Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga kini sedang bermukim di lereng dolok Pusuk Buhit

Scroll to Top