Selamat Tinggal Seng: Prabowo Gedor Proyek ‘Gentengisasi’, 2,4 Juta Unit Mulai Meluncur dari Majalengka

Ilustrasi Armada truk bersiap mendistribusikan 2,4 juta genteng Majalengka ke wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Ilustrasi Armada truk bersiap mendistribusikan 2,4 juta genteng Majalengka ke wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Jakarta|EGINDO.co Pemerintah resmi memulai langkah besar untuk melenyapkan penggunaan atap seng di hunian masyarakat. Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengumumkan bahwa proyek “gentengisasi” yang digagas Presiden Prabowo Subianto mulai memasuki tahap distribusi fisik pada Jumat (6/11/2026).

Tahap perdana program ini ditandai dengan pengiriman sebanyak 2,4 juta genteng tanah liat yang diproduksi langsung oleh para pelaku UMKM di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Distribusi Masif Melibatkan 600 Truk

Untuk mengangkut jutaan genteng tersebut, pemerintah mengerahkan armada besar sebanyak 600 truk. Peluncuran pengiriman secara resmi dijadwalkan berlangsung pada Minggu (8/11/2026).

Maruarar—yang akrab disapa Ara—menjelaskan bahwa sebanyak 446 truk difokuskan untuk mendistribusikan genteng melalui program pemerintah ke wilayah DKI Jakarta, Banten, dan titik-titik strategis di Jawa Barat. Sisanya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan lokal Majalengka, dukungan program bedah rumah pemerintah daerah, serta pasokan bagi mitra pengembang dan sektor swasta.

“Ini melibatkan banyak orang. Saya minta semuanya dipersiapkan secara detail, mulai dari jumlah genteng, kualitas, waktu pengiriman, sampai kesiapan sopir dan tenaga kerja,” ujar Ara dalam rapat persiapan di Kantor Kementerian PKP, Jakarta Pusat.

Angkat Kelas UMKM Majalengka lewat SNI

Program gentengisasi tidak hanya berfokus pada perbaikan fisik rumah warga, tetapi juga menjadi dorongan besar bagi perekonomian lokal. Pengiriman tahap awal ini menyerap produk dari 34 unit usaha UMKM di Majalengka, sekaligus menggerakkan ribuan tenaga kerja dari sektor produksi, pengemudi, hingga logistik.

Ara menyoroti peningkatan standar kualitas yang berhasil dicapai para pengrajin lokal melalui program pendampingan pemerintah.

“Dari yang sebelumnya belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI), sekarang sudah ada 34 UMKM yang ber-SNI dan 11 lainnya masih dalam proses. Ini membuktikan UMKM kita bisa ditingkatkan kualitasnya,” jelas Ara.

Kementerian PKP menargetkan pesanan genteng dari Majalengka akan melonjak dari 2,4 juta unit pada tahun ini menjadi sedikitnya 4 juta unit pada 2027, seiring peningkatan kapasitas produksi dan kebutuhan program perumahan nasional.

Kembali ke Kearifan Lokal

Langkah agresif pemerintah ini berawal dari arahan tegas Presiden Prabowo Subianto yang meminta percepatan penghentian penggunaan atap seng pada rumah-rumah rakyat. Atap seng dinilai kurang sehat dan tidak adaptif terhadap lingkungan tropis Indonesia.

Prabowo mendorong masyarakat untuk kembali menggunakan material tradisional seperti genteng tanah liat yang sudah menjadi kearifan lokal sejak lama.

“Aslinya bangsa Indonesia tidak pakai seng. Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng, kok. Genteng bukan teknologi baru,” tegas Prabowo saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang pertengahan tahun ini.

Melalui sinergi antara program bedah rumah, partisipasi pengembang swasta, dan penguatan UMKM lokal, proyek gentengisasi ini diharapkan menjadi awal kembalinya estetika dan kenyamanan hunian berbasis kearifan lokal di Indonesia. (Sn)

Scroll to Top