New York/London | EGINDO.co – Aksi jual tajam pada saham-saham teknologi di Wall Street menyeret indeks global MSCI turun 1,5 persen pada hari Jumat. Kondisi ini mendorong para investor beralih ke aset yang lebih aman, yakni obligasi AS, di tengah kekhawatiran bahwa investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI)—yang menghabiskan banyak kas—mungkin tidak memberikan imbal hasil yang memadai.
Saham produsen cip Intel (INTC.O) anjlok 28,6 persen, sementara saham Amazon turun 1,4 persen. Laporan kinerja kedua perusahaan tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran kas untuk investasi dalam pengembangan terkait AI. Intel juga menyatakan bahwa permintaan PC telah melambat, dan kondisi ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan.
Saham Alphabet, perusahaan induk Google, kembali turun 1,4 persen—setelah sebelumnya merosot 12,6 persen pada hari Kamis—menyusul laporan bahwa pengeluaran masif untuk AI membuat arus kas perusahaan menjadi negatif.
“Kita telah menyaksikan kenaikan yang sangat signifikan di seluruh sektor ini,” ujar Sahak Manuelian, direktur pelaksana untuk penjualan dan perdagangan ekuitas global di Wedbush Securities, merujuk pada saham-saham yang terkait dengan AI. “Ketika terjadi pergerakan yang menyerupai kurva parabola, dampaknya bisa berupa penurunan yang sangat tajam. Menurut saya, itulah yang sedang kita lihat saat ini. Selain itu, ada pula investor yang mulai menarik dana mereka dan mengalihkannya ke sektor lain.”
Sebelumnya, Gene Goldman, kepala investasi di Cetera, menggambarkan perdagangan saham pada hari Jumat sebagai sebuah “pertunjukan horor”, dengan pengeluaran untuk AI sebagai penyebab utamanya. Tingginya konsumsi kas dan belanja modal (capex) memicu pertanyaan apakah imbal hasil dari investasi AI tersebut akan “sepadan dengan pengeluaran yang telah dikeluarkan.”
Goldman menambahkan bahwa tekanan akibat kenaikan harga minyak—dipicu oleh serangkaian serangan di Timur Tengah—serta kekhawatiran mengenai peretasan di Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, turut memperburuk sentimen negatif. Nilai Bitcoin dan mata uang kripto lainnya pun ikut melemah. Dow Jones Industrial Average turun 572,25 poin, atau 1,09 persen, menjadi 51.770,31; S&P 500 turun 140,32 poin, atau 1,82 persen, menjadi 7.580,07; dan Nasdaq Composite turun 747,73 poin, atau 2,86 persen, menjadi 25.437,00.
Indeks saham global MSCI turun 17,15 poin, atau 1,51 persen, menjadi 1.115,47. Sebelumnya, indeks pan-Eropa STOXX 600 ditutup melemah 0,36 persen.
Di Wall Street, aksi jual saham Intel merembet ke sektor cip. Indeks semikonduktor PHLX ditutup turun lebih dari 7 persen setelah menyentuh level terendahnya sejak Mei, yang menandai penurunan harian terbesar sejak akhir Juni. Indeks teknologi S&P 500 kehilangan 4,2 persen, mencatatkan kinerja terlemahnya sejak awal Juni.
Para investor yang mencari aset lebih aman beralih ke sektor barang kebutuhan pokok (consumer staples) dan utilitas. Namun, sektor dengan kinerja terbaik hari itu adalah energi, yang didorong oleh kenaikan harga minyak serta laporan keuangan dari Exxon Mobil dan Chevron. Perusahaan-perusahaan minyak besar tersebut mencatatkan laba yang kuat berkat margin penyulingan yang tinggi, yang dipicu oleh gangguan pasokan akibat serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta konflik di Iran.
Di pasar mata uang, yen mencatatkan kenaikan harian ketiga berturut-turut terhadap dolar pada hari Jumat setelah Bank of Japan mempertahankan suku bunga namun merevisi naik prakiraan inflasinya. Sementara itu, gelombang aksi jual baru pada saham-saham kecerdasan buatan (AI) memicu permintaan terhadap aset aman (safe haven) di luar mata uang dolar.
Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap sekelompok mata uang lain termasuk yen dan euro, naik 0,04 persen menjadi 101,92, sementara euro turun 0,13 persen menjadi $1,1163. Terhadap yen Jepang, dolar melemah 0,1 persen menjadi 157,54.
Di pasar mata uang kripto, bitcoin turun 2,49 persen menjadi $76.877,30. Ethereum melemah 1,01 persen menjadi $2.236,76.
Obligasi pemerintah AS (US Treasuries) menguat, dengan imbal hasil (yield) acuan tenor 10 tahun mencatatkan penurunan bulanan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir, seiring aksi jual saham sektor teknologi yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe-haven).
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 5,8 basis poin menjadi 4,931 persen, sementara imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 1,97 basis poin menjadi 5,3093 persen.
Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun—yang biasanya bergerak sejalan dengan ekspektasi suku bunga Federal Reserve—turun 6,64 basis poin menjadi 4,59 persen.
Harga minyak ditutup pada level tertinggi dalam enam bulan seiring antisipasi para pedagang terhadap potensi eskalasi konflik yang melibatkan Iran pasca-pemilihan paruh waktu AS pada hari Selasa. Konflik tersebut telah berlangsung selama delapan bulan tanpa penyelesaian. Pada hari Jumat, sebuah kapal tanker di Selat Hormuz diserang, yang menyoroti risiko berkelanjutan terhadap pasokan.
Minyak mentah AS ditutup naik 2,08 persen, atau $2,12, menjadi $104,12 per barel. Minyak Brent ditutup pada harga $117,63 per barel, naik 2,4 persen atau $2,76 per barel pada hari tersebut.
Harga logam mulia mengalami penurunan. Emas jatuh ke level terendah dalam satu tahun pada hari Jumat, sementara perak turun ke bawah $50 per ons untuk pertama kalinya sejak November 2025. Kenaikan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga AS akan tetap berada di level tinggi.
Harga emas spot turun 3,63 persen menjadi $3.874,58 per ons, dan harga perak spot turun 6,36 persen menjadi $49,06 per ons.
Sumber : CNA/SL