Jakarta|EGINDO.co Pemerintah mendorong Jakarta memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital sebagai kekuatan utama untuk mewujudkan ambisi menjadi kota global. Transformasi tersebut diharapkan menjadi salah satu pencapaian penting dalam menyambut 500 tahun Jakarta pada 2027.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, Jakarta memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat layanan (service city) sekaligus pusat inovasi teknologi. Namun, upaya tersebut harus didukung pembangunan infrastruktur modern yang tidak hanya berfokus pada jalan dan pengendalian banjir, tetapi juga jaringan internet berkecepatan tinggi melalui fiber optik.
Menurut Airlangga, perkembangan industri manufaktur yang semakin tersebar ke luar Jakarta membuat ibu kota perlu memperkuat sektor jasa, ekonomi kreatif, dan teknologi digital sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.
Ia juga melihat peluang bagi Jakarta untuk menjadi pusat pengembangan AI. Posisi Jakarta yang dekat dengan sumber daya manusia berkualitas serta kawasan pusat data (data center) di sejumlah wilayah penyangga, seperti Karawang, menjadi keunggulan tersendiri.
Airlangga mengatakan, kondisi geopolitik global yang menyulitkan akses China terhadap sejumlah semikonduktor tertentu turut membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam industri teknologi dunia.
Selain AI, pemerintah juga mendorong pengembangan teknologi masa depan, seperti digital twin, Industri 4.0, dan komputasi kuantum (quantum computing). Penguatan ekonomi berbasis digital dan gig economy juga dinilai penting untuk memperluas peluang kerja serta meningkatkan produktivitas masyarakat.
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Airlangga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perguruan tinggi. Menurutnya, universitas harus menjadi pusat penyedia talenta dan tenaga ahli yang mampu menjawab kebutuhan industri teknologi baru.
Ia mencontohkan London dan New York yang berhasil membangun kekuatan ekonomi kreatif dan digital dengan dukungan universitas berkualitas.
Airlangga juga menyoroti kesenjangan pendapatan antara Jakarta dan rata-rata nasional. Saat ini, pendapatan per kapita Jakarta telah mencapai sekitar 20.000 dolar AS, sementara Indonesia masih berada di kisaran 4.000 dolar AS.
Karena itu, ia berharap kemajuan ekonomi Jakarta dapat menjadi pendorong bagi daerah lain untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperkecil kesenjangan ekonomi nasional.
Dengan dukungan infrastruktur digital, pengembangan AI, serta sumber daya manusia unggul, Jakarta diharapkan tidak hanya menjadi pusat bisnis nasional, tetapi juga mampu bersaing sebagai kota global berbasis teknologi dan ekonomi digital. (Sn)