Lembaga Konsultan; Daya Beli Turun, Penjualan Hunian Menengah Menurun 10,5 Persen

Paparan Jakarta Property Market Update Q3 2026 pada Rabu (28/10/2026) di Kantor CBRE Indonesia, Jakarta
Paparan Jakarta Property Market Update Q3 2026 pada Rabu (28/10/2026) di Kantor CBRE Indonesia, Jakarta

Jakarta | EGINDO.com – Lembaga Konsultan Properti CBRE Indonesia menilai daya beli masyarakat turun, penjualan hunian menengah menurun 10,5 persen. Lembaga Konsultan Properti CBRE Indonesia juga mencatat era suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) Rate yang tinggi bukan satu-satunya faktor penyebab turunnya penjualan properti residensial segmen menengah.

Menurunnya sebesar 10,5 persen pada kuartal II/2026, berdasarkan data Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI. Head of Research & Consulting CBRE Indonesia Anton Sitorus menyampaikan bahwa daya beli menjadi faktor dominan di balik tren penurunan tersebut.

Katanya disamping itu, faktor lain seperti ketersediaan pasok hingga aspek pembiayaan. “Kalau kita melihat saat ini yang dominan memang sebenarnya karena daya beli. Di satu sisi, daya beli khususnya yang menengah itu kurang,” kata Anton dalam paparan Jakarta Property Market Update Q3 2026 pada Rabu (28/10/2026) di Kantor CBRE Indonesia, Jakarta.

Menurutnya, dalam situasi perekonomian saat ini, masyarakat cenderung mengedepankan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dibanding pengeluaran yang bersifat belanja modal seperti rumah. Di sisi lain, Anton mencermati bahwa hal ini juga tak terlepas dari ketersediaan pasok hunian segmen menengah yang terbatas dari pengembang.

Dengan harga lahan yang kian mahal, pengembang disebutnya cenderung memilih untuk menjual properti residensial untuk segmen besar dengan harga lebih tinggi, sehingga pasokan segmen menengah menjadi berkurang. “Kalau pasokannya tidak ada, lalu daya belinya juga tidak matching, mungkin jadi seperti itu. Saya yakin berlaku untuk dua-duanya, baik landed atau rumah tapak ataupun ke apartemen,” ujarnya.

Menurutnya, hal inilah yang menjadi pertimbangan pengembang swasta dalam berekspansi di segmen hunian menengah. Anton memandang pemerintah melalui BUMN Karya sejatinya memiliki peluang untuk menggarap segmen ini, tetapi masih menghadapi tantangan tata kelola internal seperti kesehatan finansial.

Sebelumnya sebagaimana diketahui bahwa Bank Indonesia memutuskan untuk menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 5,75% berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20 dan 21 Oktober 2026. Angka tersebut menandai berlanjutnya era suku bunga tinggi sejak pertengahan tahun 2026 ini.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top