Utusan ASEAN Akan Kunjungi Myanmar pada Rabu

Bagan, Mandalay Region - Myanmar
Bagan, Mandalay Region - Myanmar

Bangkok | EGINDO.co – Utusan khusus ASEAN untuk Myanmar, Maria Theresa Lazaro—yang juga menjabat sebagai Sekretaris Luar Negeri Filipina—akan mengunjungi Naypyidaw pada hari Rabu (28 Oktober) dan Kamis, menurut keterangan rekan sejawatnya dari Thailand.

Belum ada informasi lebih lanjut apakah ia akan bertemu dengan mantan pemimpin demokratis Aung San Suu Kyi, yang telah ditahan di Myanmar sejak digulingkan dalam kudeta militer tahun 2021.

Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow—yang negaranya merupakan anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN)—menyampaikan kepada wartawan di Bangkok pada hari Selasa bahwa agenda kunjungan tersebut “sedang disusun”.

Konsensus Lima Poin ASEAN

Menyusul kudeta militer tahun 2021, ASEAN telah mengecualikan Myanmar dari pertemuan-pertemuan tingkat tinggi karena negara tersebut belum menunjukkan kemajuan berarti dalam melaksanakan “Konsensus Lima Poin” ASEAN yang bertujuan untuk mengakhiri permusuhan.

Dalam sebuah pertemuan pada April 2021, seluruh pemimpin ASEAN mencapai konsensus mengenai situasi di Myanmar.

Kelima poin tersebut adalah:

Pertama, harus ada penghentian kekerasan segera di Myanmar dan semua pihak harus menahan diri sepenuhnya.

Kedua, dialog konstruktif di antara semua pihak terkait harus dimulai untuk mencari solusi damai demi kepentingan rakyat.

Ketiga, utusan khusus ketua ASEAN akan memfasilitasi mediasi dalam proses dialog tersebut, dengan bantuan Sekretaris Jenderal ASEAN.

Keempat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui AHA Centre.

Kelima, utusan khusus beserta delegasinya akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak terkait.

Pada bulan Juli, Lazaro menyatakan akan mengunjungi Myanmar tahun ini sebagai upaya untuk memperluas akses bantuan kemanusiaan di negara tersebut, yang kini terjerumus ke dalam perang saudara akibat kudeta yang dipimpin oleh kepala militer yang kemudian menjadi pemimpin sipil, Min Aung Hlaing.

Filipina, selaku ketua ASEAN, sempat meminta “akses singkat” bagi utusannya untuk bertemu dengan Aung San Suu Kyi awal tahun ini, namun permintaan tersebut ditolak.

Pada bulan Agustus, Aung San Suu Kyi sempat bertemu dengan perwakilan dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Pertemuan ini menjadi pertemuan pertama yang dipublikasikan antara Aung San Suu Kyi dengan pejabat asing sejak ia digulingkan. Menanggapi hal tersebut, Filipina menyerukan agar tokoh yang kini berusia 81 tahun itu “dibebaskan sepenuhnya tanpa syarat”, serta kembali mengajukan permintaan untuk mendapatkan akses menemuinya.

Sihasak mengatakan bahwa kunjungan Lazaro dijadwalkan agar sang utusan dapat menyampaikan laporan dalam pertemuan para menteri ASEAN, menjelang konferensi tingkat tinggi (KTT) para pemimpin ASEAN.

“Rincian kunjungan dan jadwal perjalanannya sedang disusun,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers bersama dengan mitranya dari Malaysia.

“Ia akan berkunjung ke sana sebagai utusan khusus ASEAN, dan kami berharap akan ada kemajuan yang berarti—atau setidaknya beberapa kemajuan—yang dapat ia laporkan saat para menteri luar negeri ASEAN bertemu di Manila menjelang KTT ASEAN.”

Pada hari Kamis, putra Aung San Suu Kyi, Kim Aris, diizinkan untuk berbicara dengannya melalui telepon untuk pertama kalinya dalam lebih dari lima tahun. Percakapan tersebut dilakukan melalui sambungan telepon dari kedutaan besar Myanmar di London.

Aris, yang tinggal di Inggris, mengatakan kepada AFP setelah pembicaraan itu bahwa ibunya terdengar “cukup sehat”, namun ia menambahkan: “Saya tetap sangat khawatir dengan kesejahteraannya.”

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top