Jakarta|EGINDO.co Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan langkah pengeluaran saham-saham ber-High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak akan mempengaruhi total nilai kapitalisasi pasar (market cap) pasar modal Indonesia.
Kebijakan rebalancing IHSG ini melibatkan 81 emiten—termasuk saham-saham berbobot besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA)—dan dijadwalkan efektif berlaku mulai 2 November 2026 hingga 29 Januari 2027.
Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, menjelaskan bahwa penghapusan saham HSC hanya berlaku untuk kalkulasi pergerakan indeks, bukan penghitungan market cap secara keseluruhan.
“Dengan keluarnya HSC dari IHSG tidak akan menurunkan market cap secara keseluruhan. Hal ini karena saham-saham HSC tersebut hanya dikeluarkan dari perhitungan IHSG, sementara market cap dihitung dari semua saham, termasuk saham HSC,” terang Iding, Selasa (27/10/2026).
Sebelum kebijakan ini diterapkan, bobot saham-saham HSC mencakup sekitar 18% dari IHSG, dengan kontribusi market cap mencapai 30% dari total kapitalisasi pasar modal.
Penyesuaian Bobot Saham Big Cap
Seiring dengan dikeluarkannya 81 saham HSC tersebut, BEI melakukan penyesuaian bobot (weighting) bagi sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) lainnya di dalam IHSG. Beberapa emiten yang mencatatkan kenaikan bobot signifikan antara lain:
-
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA): naik dari 8,75% menjadi 9%
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI): naik dari 7,93% menjadi 9%
-
PT Astra International Tbk. (ASII): naik dari 3,35% menjadi 4,15%
Langkah ini diharapkan dapat memberikan gambaran pergerakan indeks yang lebih mencerminkan kondisi pasar riil serta mengurangi dampak volatilitas dari saham-saham dengan kepemilikan terpusat. (Sn)