Jakarta|EGINDO.co Memasuki tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, ekosistem startup Indonesia masih dihadapkan pada tantangan berat terkait pertumbuhan dan penarikan investasi. Berakhirnya era uang murah, tingginya suku bunga, hingga persoalan tata kelola perusahaan memaksa industri ini memasuki fase konsolidasi.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David E. Sumual, mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia memiliki lebih dari 3.100 startup aktif—menjadikannya ekosistem terbesar keenam di dunia—belum ada unicorn baru yang lahir sejak 2024.
“Masalah utama kita ada di tahap menengah: hanya sekitar 15% startup tahap awal yang berhasil naik ke Seri A,” ujar David, Selasa (27/10/2026).
Tren Pendanaan dan Pergeseran Jalur Likuiditas
Tren investasi startup sempat merosot tajam pada 2025 sekitar 50% menjadi US$358 juta. Memasuki Oktober 2026, nilai pendanaan mulai pulih ke angka US$392 juta. Namun, pemulihan ini belum merata karena masih didominasi oleh pendanaan tunggal fintech Ajaib sebesar US$270 juta pada Agustus lalu.
Di tengah tingginya suku bunga yang membuat investor makin selektif dan menuntut imbal hasil tinggi, startup skala kecil menjadi kelompok paling rentan akibat tingginya biaya operasional awal dan ketergantungan pada modal eksternal.
Selain itu, arus likuididad kini mengalami pergeseran:
-
Merger & Akuisisi (M&A): Telah menggeser IPO sebagai jalur likuiditas utama.
-
Pasar Sekunder: Perlu terus didorong untuk menjaga kesinambungan antar-tahap pendanaan.
Strategi Memilih Pendanaan Sesuai Skala Bisnis
David menekankan pentingnya bagi pendiri (founder) startup untuk memilih sumber pendanaan yang relevan sesuai tahap perkembangannya:
-
Awal (Early Stage): Angel investor (menawarkan jejaring dan pendampingan).
-
Tahap Lanjutan: Venture Capital / Modal Ventura (menyediakan dana lebih besar dan memperkuat tata kelola).
-
Mendekati IPO: Private Equity (menyarankan profitabilitas dan porsi kepemilikan pengendali).
-
Tahap Matang: Pembiayaan Perbankan (membutuhkan aset sebagai agunan) dan Pasar Modal untuk ekspansi bagi yang sudah mencetak laba.
Prospek dan Rekomendasi Kebijakan
Pemulihan ekosistem startup diperkirakan berlangsung bertahap dan selektif, serta sulit kembali ke masa euforia pandemi. Sektor berbasis teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) dan Teknologi Finansial (Fintech) diproyeksikan tetap memiliki peluang tumbuh paling kuat.
Untuk mendukung keberlanjutan ekosistem, beberapa langkah strategis yang direkomendasikan bagi pemerintah dan pelaku industri meliputi:
-
Skema Co-investment: Mendorong kerja sama investasi guna menstimulasi partisipasi sektor swasta.
-
Insentif Pajak: Memberikan kemudahan bagi kegiatan riset dan pengembangan (R&D).
-
Integrasi Sektor Riil: Menghubungkan solusi startup dengan kebutuhan manufaktur dan pengadaan barang/jasa pemerintah.
-
Penguatan Tata Kelola: Menerapkan standar tata kelola (governance) yang terukur guna mengembalikan kepercayaan investor. (Sn)