Bagaimana Penciptaan Lapangan Kerja di Indonesia, Begini Hasil Survei LPEM FEB UI

Geliat ekonomi masyarakat menengah kebawah pada malam hari di kawasan Mangga Dua Jakarta Barat. (Foto: Fadmin Malau)
Lapangan Kerja non-formal jadi geliat ekonomi masyarakat malam hari di kawasan Mangga Dua Jakarta Barat. (Foto: Fadmin Malau)

Jakarta | EGINDO.com – Penciptaan lapangan kerja di Indonesia, mayoritas ekonom menilai kondisi penciptaan lapangan kerja di Indonesia memburuk.  Hal itu berdasarkan Survei Ahli Ekonomi Semester II-2026 yang dilakukan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), sebanyak 73% responden memberikan penilaian negatif terhadap penciptaan lapangan kerja dalam enam bulan terakhir.

Adapun survei tersebut melibatkan 63 ahli ekonomi dan dilaksanakan pada 21 September hingga 13 Oktober 2026. Dari jumlah responden, sebanyak 46 ekonom menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah dibandingkan enam bulan sebelumnya. Secara terperinci, sebanyak 30 ekonom atau 48% responden menilai penciptaan lapangan kerja lebih rendah.

Kemudian 16 ekonom atau 25% menilai kondisinya jauh lebih rendah. Dimana 15 ekonom atau 24% menilai penciptaan lapangan kerja tidak berubah. Hanya dua ekonom atau 3% yang menilai penciptaan lapangan kerja lebih tinggi dibandingkan enam bulan sebelumnya.

Penilaian terhadap kondisi pasar tenaga kerja juga mengalami penurunan. Skor rata-rata penilaian ekonom turun dari minus 0,55 pada Semester I-2026 menjadi minus 0,95 pada Semester II-2026. Perubahan tersebut signifikan secara statistik pada tingkat 1%. Prospek Penciptaan Kerja Masih Suram Pandangan kurang optimistis juga terlihat dalam proyeksi enam bulan ke depan.

Ada sebanyak 38 dari 63 ekonom atau 60% responden memperkirakan penciptaan lapangan kerja akan lebih rendah. Rinciannya, 28 ekonom atau 44% memperkirakan penciptaan lapangan kerja lebih rendah, sedangkan 10 ekonom atau 16% memprediksi kondisinya jauh lebih rendah. Sebanyak 22 ekonom atau 35% memperkirakan kondisi penciptaan lapangan kerja tidak berubah. Adapun tiga ekonom atau 5% memperkirakan penciptaan lapangan kerja akan lebih tinggi.

Skor rata-rata ekspektasi penciptaan lapangan kerja tercatat minus 0,71, lebih rendah dibandingkan minus 0,52 pada Semester I-2026. Namun, perubahan skor tersebut tidak signifikan secara statistik. Survei yang sama juga menunjukkan penilaian negatif terhadap efektivitas kebijakan pemerintah di pasar tenaga kerja. Sebanyak 31 ekonom menilai kebijakan pemerintah tidak memberikan dampak.

Lalu kemudian, 18 ekonom menilai kebijakan tersebut tidak efektif dan 12 ekonom menilainya sangat tidak efektif. Hanya dua ekonom yang menilai kebijakan pemerintah efektif. Tidak ada responden yang menilai kebijakan tersebut sangat efektif.@

Bs/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top