Madinah Kota Nabi; Debat Politik Sejarah Manusia di Balik Tembok Saqifah Bani Sa’idah

Melihat tembok Saqifah Bani Sa'idah dari kejauhan yang menjadi saksi bisu tentang peradapan kekuasaan politik dalam Islam. (Foto: Fadmin Malau)
Melihat tembok Saqifah Bani Sa'idah dari kejauhan yang menjadi saksi bisu tentang peradapan kekuasaan politik dalam Islam. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

Madinah Kota Nabi, kota bermula peradapan manusia yang sangat manusiawi. Banyak ummat Islam yang berpikiran bahwa kaum muslimin jangan berpolitik, begitu juga dengan para pendakwah mengajak ummat Islam tidak membawa Islam dalam berpolitik. Sesungguhnya tidak demikian, sebab 1400 tahun yang lalu debat politik dalam sejarah manusia telah terjadi di Kota Madinah.

Tersebut Tsaqifah Bani Sa’idah yang terletak di sebelah barat laut Masjid Nabawi atau sekira 300 meter dari pintu King Saud Madinah dimana dahulunya tempat itu adalah sebuah balai pertemuan atau saloon atau hall milik kaum Anshar. Kini ditempat itu telah berubah menjadi area taman terbuka yang dipagari.

Kisah tentang debat politik dalam peradapan manusa itu dapat ditemui di balik megahnya payung-payung raksasa Masjid Nabawi. Ya, hari ini kita atau Anda dapat melihat sebuah taman kecil berpagar besi yang tenang.

Bisa jadi bagi pengunjung, peziarah awam atau jemaah umrah, jemaah haji tempat itu mungkin hanya dikira sebagai oasis hijau biasa. Namun, jika mesin waktu ditarik mundur pada tahun 11 Hijriah atau tahun 632 Masehi maka di titik itu persis disitulah masa depan dunia Islam ditentukan lewat salah satu debat politik paling menegangkan dalam sejarah manusia: Musyawarah Saqifah Bani Sa’idah.

Debat politik di balik tembok Saqifah Bani Sa’idah dekat Masjid Nabawi Madinah. (Foto: Fadmin Malau)

Kala itu Madinah sebagai sebuah kota yang mendadak kehilangan detak jantungnya. Madinah baru saja dirundung duka terdalam atas wafatnya Nabi Muhammad SAW dan ditengah isak tangis yang belum reda serta jenazah suci sang Nabi Muhammad SAW yang belum dimakamkan, sebuah krisis kepemimpinan yang akut mendadak mengintai, sebuah tanya yang tajam bagaimana kepemimpinan sebuah negara. Apakah mungkin sebuah negara tanpa pemimpin, negara Islam apakah harus terancam bubar.

Pertanyaan kegelisahan itu melahirkan pertemuan rahasia pada sebuah balai pertemuan di bawah atap rimbun Saqifah atau balai pertemuan milik kabilah Bani Sa’idah dan ketegangan mulai memuncak. Kala itu kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah yang telah mempertaruhkan nyawa melindungi dakwah Islam berkumpul dengan tergesa-gesa.

Pasalnya mereka mencium adanya aroma perpecahan dan mereka merasa berhak memegang kemudi kepemimpinan. Muncullah pemerkasa bernama Sa’ad bin Ubadah, sang pemimpin karismatik suku Khazraj. Tujuannya soal kepemimpinan, soal pergantian kepemimpinan, soal politik kekuasaan pun terjadi kala itu. Keinginan berkuasa muncul dimana sebuah usulan yang mengatakan satu pemimpin dari kalangan Anshar, dan satu pemimpin dari kalangan Muhajirin.

Format kepemimpinan ganda yang diusulkan demi keadilan, namun berisiko memecah umat menjadi dua poros. Akhirnya tentang akan adanya pertemuan darurat itu sampai kepada para sahabat senior di Masjid Nabawi. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah datang ke pertemuan rahasia dan darurat itu.

Suasana dalam balai langsung dengan hawa politik yang terasa sangat pekat. Ketika itu Umar bin Khattab sudah bersiap mendengarkan argumen dari kaum Anshar. Namun, dengan ketenangan luar biasa, Abu Bakar menahan pundak Umar. Abu Bakar mengambil alih panggung diplomasi dengan tutur kata yang santun membuat suasana jadi berubah. Abu Bakar memuji kemuliaan kaum Anshar yang luar biasa, akan tetapi dia juga mengingatkan bahwa sebuah realitas sosiologis Arab kala itu yani bangsa Arab tidak akan tunduk pada kepemimpinan di luar garis keturunan Quraisy atau kaum Muhajirin.

Akhirnya demi menjaga kesatuan geopolitik jazirah Arab, tampuk kekuasaan tertinggi harus dipegang oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar akan menjadi menteri-menteri atau wazir yang setia. Bicara geopolitik jazirah Arab sempat membuat suasana buntu. Namun, kembali ketika Abu Bakar menarik tangan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah, lalu berkata, “Aku rida jika kalian membaiat salah satu dari dua orang ini,” katanya.

Nah, mendengar hal itu, Umar langsung menolak keras. “Bagaimana mungkin aku memimpin suatu kaum yang di dalamnya ada Abu Bakar,” kata Umar.

Tanpa membuang waktu, Umar menjulurkan tangannya, menggenggam jemari Abu Bakar, dan mengikrarkan sumpah setia atau baiat sebagai Khalifah. Apa yang dilakukan Umar memicu efek domino. Abu Ubaidah menyusul, disusul oleh para tokoh Anshar seperti Basyir bin Sa’ad. Dalam hitungan menit, ketegangan yang nyaris memicu pertumpahan darah itu mencair menjadi kesepakatan bulat atau ijma’. Akhirnya Abu Bakar Ash-Shiddiq resmi menjadi Khalifah pertama dalam Islam.

Kini tembok Saqifah Bani Sa’idah tidak jauh dari Masjid Nabawi yang dikunjungi ratusan orang setiap hari merupakan sebuah fragmen sejarah yang menyisakan ruang diskusi yang luas dan membentuk lanskap teologi Islam.

Betapa tidak bahwa 1400 tahun yang lalu telah terjadi peristiwa yang dipandang sebagai bentuk ijtihad dan musyawarah darurat yang sangat brilian. Peristiwa politik kekuasaan terjadi dan seiring dengan itu muncul langkah cepat para sahabat yang berhasil menyelamatkan umat dari kehancuran total akibat kekosongan kekuasaan.

Saqifah Bani Sa’idah jadi taman kota, saksi bisu tentang kekuasaan politik, tidak banyak yang tertarik melihatnya meski jadi fondasi kepemimpinan Islam pertama. (Foto: Fadmin Malau)

Dari peristiwa bersejarah Saqifah Bani Sa’idah jelaslah bahwa Islam itu bukan tidak boleh berpolitik, Islam itu berpolitik dalam kekuasaan dan anggapan ummat Islam tidak perlu, tidak boleh berpolitik sesungguhnya tidak benar. Ternyata Islam itu ditegakkan dan maju dari politik kekuasaan.

Hal itu juga telah terjadi ketika semasa Nabi Muhammad SAW hidup, Rasullullah SAW berhasil menduduki kota Madinah dan kemudian menaklukkan kota Makkah dengan damai, santun dan berkeadilan yang pertama dalam peradapan ummat Islam.

Kini, hari ini, Saqifah Bani Sa’idah telah bersolek menjadi taman kota yang rapi, tidak jauh dari pintu barat laut Masjid Nabawi menjadi saksi bisu tentang peradapan kekuasaan politik dalam Islam. Yah, kini memng tidak ada lagi hiruk-pikuk perdebatan politik di lokasi Saqifah Bani Sa’idah.

Hari ini yang ada hanyalah tersisa semilir angin kota Madinah dan rimbunnya pepohonan.

Namun, bagi mereka yang memahami sejarah, tentu tempat itu akan selalu dikenang sebagai ruang dimana sebuah keputusan besar diambil, tempat dimana fondasi Kekhalifahan atau kepemimpinan Islam pertama sekali dilakukan.@

***

Bersambung Jum’at pekan depan; Madinah Kota Nabi……

Scroll to Top