Manila | EGINDO.co – Bank sentral Filipina menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen pada hari Kamis—angka yang lebih besar dari perkiraan pasar. Langkah ini disebut sebagai tindakan “tegas” untuk memerangi tekanan harga, sekaligus menunjukkan kesiapan bank sentral untuk memperketat kebijakan lebih lanjut guna meredam inflasi.
“Dewan Moneter menyadari perlunya respons kebijakan moneter yang kuat terhadap tekanan harga yang meluas serta risiko kenaikan inflasi lebih lanjut,” ungkap Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) dalam sebuah pernyataan.
Kenaikan suku bunga ini merupakan yang keempat kalinya secara berturut-turut dan melampaui ekspektasi pasar; sebelumnya, 27 ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kenaikan hanya sebesar seperempat poin (25 bps).
“Respons yang tegas ini akan membuat kebijakan moneter menjadi cukup restriktif,” ujar pihak BSP. “Langkah ini akan menahan dampak lanjutan (second-round effects) dan menjaga ekspektasi inflasi agar tetap terkendali dengan kuat.”
Nilai tukar peso Filipina sempat menguat setelah bank sentral mengumumkan kenaikan suku bunga yang cukup besar tersebut, namun kemudian kembali melemah mendekati rekor terendahnya. Hal ini terjadi karena inflasi yang persisten dan perlambatan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi kekhawatiran utama.
Rekor terendah peso baru-baru ini menambah tekanan bagi BSP untuk mengambil tindakan, mengingat mata uang yang lemah meningkatkan risiko inflasi impor di negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar. Nilai tukar peso telah anjlok hampir 10 persen sejak dimulainya konflik yang melibatkan Iran, yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Setelah melambat selama empat bulan berturut-turut, inflasi kembali meningkat pada bulan September. Kondisi ini menyoroti tantangan yang dihadapi BSP dalam mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, di tengah pertumbuhan ekonomi yang lemah pada paruh pertama tahun ini.
BSP mempertahankan perkiraan rata-rata inflasi untuk tahun ini di angka 6,1 persen, namun menaikkan proyeksi untuk tahun depan dari 5,4 persen menjadi 6,0 persen, dengan alasan tingginya harga minyak global dan ancaman fenomena El Niño. Bank sentral memperkirakan inflasi akan kembali ke kisaran target pada tahun 2028 dan melandai ke angka 3,3 persen.
Gubernur BSP, Eli Remolona, menyatakan bahwa para pengambil kebijakan masih memiliki ruang untuk menyesuaikan kebijakan, mengingat adanya ekspektasi bahwa perekonomian akan pulih, yang didukung oleh berbagai langkah fiskal.
“Kami tetap terbuka untuk melakukan kenaikan suku bunga lebih lanjut,” kata Remolona. Lavanya Venkateswaran, ekonom senior untuk kawasan ASEAN di OCBC Bank, memperkirakan BSP akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tanggal 17 Desember mendatang—menyusul kenaikan yang lebih besar dari perkiraan pada hari Kamis—namun peluang untuk kenaikan lebih lanjut tetap terbuka jika inflasi inti terus berada di tingkat yang tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Sumber : CNA/SL