Jakarta|EGINDO.co Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) meningkat hingga sekitar US$92 per barel.
Bahlil menjelaskan, harga ICP saat ini telah melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sekitar US$70 per barel. Kondisi tersebut berpotensi menambah kebutuhan anggaran pemerintah untuk menopang subsidi energi.
Meski demikian, pemerintah berkomitmen menjaga harga BBM bersubsidi agar tetap stabil di tengah kenaikan harga minyak global. Pemerintah juga terus memantau perkembangan ICP dan menghitung dampaknya terhadap kebutuhan anggaran negara.
“Pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi, tidak ada kenaikan,” ujar Bahlil seusai menghadiri Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Bahlil memperkirakan harga ICP masih berpeluang bertahan di bawah US$100 per barel apabila tren saat ini berlanjut. Menurutnya, perkembangan tersebut relatif masih dapat dikelola pemerintah, meskipun harga minyak telah melampaui asumsi APBN.
“Sekarang rata-rata ICP di angka US$92 per barel. Padahal di dalam APBN itu sekitar US$70. Kita targetkan kalau begini terus mungkin di bawah US$100 per barel. Jadi relatif oke. Untuk BBM subsidi insyaallah tidak ada kenaikan,” katanya.
Pemerintah akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengantisipasi tekanan terhadap anggaran subsidi energi. Dengan komitmen tersebut, harga BBM bersubsidi dipastikan tidak naik meskipun harga minyak mentah Indonesia berada di atas asumsi APBN. (Sn)