Dari SUN Plaza Medan, Dua Maestro Mengulas Ulos Membawa Wastra Batak

Edward Hutabarat dan Torang Sitorus menjelaskan tentang ulos yang dipakai mode bermutasi jadi fesyen. (Foto: Fadmin Malau)
Edward Hutabarat dan Torang Sitorus menjelaskan tentang ulos yang dipakai mode bermutasi jadi fesyen. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

Ketika kita melihat satu barang tradisional maka terbayang kepada masa lalu yang penuh dengan tradisi nenek moyang dan dinilai satu barang jaman dulu (jadul) kata generasi sekarang ini. Ulos satu diantara banyak barang tradisional milik bangsa Indonesia. Ulos barang tradisi leluhur yang menjadi Wastra Batak.

Ya, wastra adalah istilah dari bahasa Sanskerta yang berarti sehelai kain dan di Indonesia, wastra merujuk khusus pada kain tradisional yang dibuat dengan teknik dan alat manual, serta sarat akan nilai sejarah, filosofi, dan simbol budaya setempat atau tradisi leluhur.

Ulos sebagai tradisi leluhur bersinggungan dengan imajinasi modern, lahirlah sebuah mahakarya yang melampaui sekat zaman. Hal itu terjadi pada puncak acara Medan Fashion & Culture Festival (MFCF) 2026 di Sun Plaza Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Peragaan busana ulos Batak pada Medan Fashion & Culture Festival 2026 di Main Atrium SUN Plaza dalam memperingati Hari Ulos Nasional. (Foto: Fadmin Malau)

Pasalnya, ketika dua orang maestro fesyen Indonesia, Edward Hutabarat dan Torang Sitorus, berkolaborasi dalam sebuah talk show sekaligus peragaan busana teatrikal untuk memperingati Hari Ulos Nasional bertajuk “Ulos in Innovation” maka ketika itu pada 13 hingga 18 Oktober 2026 di Main Atrium SUN Plaza Medan menjadi panggung peragaan busana yang tidak seperti biasanya yang ditampilkan berbagai busana, melainkan peragaan busana yang bergerak dari sebuah busana yang membawa wastra Batak.

Edward Hutabarat yang akrab disapa Edo, menjadikan ulos kain tradisional sebuah entitas luhur yang menuntut rasa hormat tertinggi menjadi busana modern, berkelas internasional. Edo memang dikenal berpengalaman lebih dari 40 tahun melanglang buana dalam mendokumentasikan budaya nusantara.

Keberaniannya memiliki prinsip yang kuat yakni memotong motif kain tradisional atau ulos dengan cermat dan berkali-kali mengatakan bukan busana adat, sedangkan bahan busananya adalah ulos. Benar saja, dalam acara MFCF 2026 di SUN Plaza Medan itu, lelaki kelahiran kota Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara Sumatera Utara itu menampilkan ulos dalam wujud busana siap pakai (ready-to-wear) kelas atas (high-end) yang elegan, bergaris desain tegas (clean cut), dan fungsional.

Edward Hutabarat dalam talk show dan peragaan busana teatrikal untuk memperingati Hari Ulos Nasional itu ada beberapa kali mengatakan kepada pengunjung SUN Plaza yang menyaksikan talk show bahwa yang ditampilkannya bukan busana adat dan bukan dipakai untuk menghadiri acara adat meskipun pada acara talk show itu tidak terlihat hadir para tokoh adat Batak akan tetapi dihadiri dari berbagai lintas generasi dan yang lebih banyak generasi millinial.

Menarik dan memukau lewat tangannya, ulos bertransformasi menjadi jubah panjang (long coat), gaun modern, hingga pakaian sehari-hari yang sangat stylish untuk masyarakat kosmopolitan dunia. Dalam rancangan busananya untuk masyarakat kosmopolitan dunia itu menghadir ulos dalam bentuk asli.

Artinya, ulos utuh sehingga nilai filosofis ulos tetap terjaga. Namun, sesungguhnya Edward Hutabarat telah mengubah ulos dari perspektif mikro yakni fungsi ulos yang sesungguhnya menjadi ulos dari perspektif makro yakni berani memposisikan ulos bukan lagi sekadar pakaian adat, melainkan gaya hidup atau lifestyle internasional.

Hampir sama dengan Edward Hutabarat maka Torang Sitorus bergerak dari kedalaman akar penenunan ulos dimana ketika menjadi desainer sekaligus kolektor ribuan ulos antik, Torang menghabiskan waktu lebih dari dua dekade membina ratusan perajin tenun (partonun) di pelosok Sumatra Utara dengan tujuan menghidupkan kembali teknik tenun kuno yang hampir punah. Keahlian Torang Sitorus memiliki keberanian merekayasa struktur kain ulos dimana kain ulos tradisional sering dinilai terlalu tebal atau kaku untuk pakaian modern. Memang ulos juga dipakai sebagai penghangat tubuh yang dipakai di bonapasogit yang suhu udaranya dingin.

Torang Sitorus berinovasi memadukan motif tenun Batak dengan benang sutra berkualitas tinggi. Hasilnya adalah helai ulos baru yang jauh lebih ringan, lembut dan nyaman pada kulit ketika dipakai. Namun, tetap memancarkan aura magis identitas Batak.

Kesemuanya itu hadir di panggung MFCF Atrium SUN Plaza Medan dimana koleksi gaun malam dan jaket kontemporer rancangan Torang Sitorus tampil memukau membuktikan bahwa inovasi tekstur mampu membuat tradisi bergerak dinamis mengikuti zaman membuat pengunjung yang menyaksikannya berdecak kagum. Lengkap sudah, dua orang maestro mengulas ulos membawa Wastra Batak ke panggung modern melestarikan kebudayaan dan nilai adat Batak kepada generasi mendatang.

Medan Fashion & Culture Festival 2026 di SUN Plaza dimeriahkan peragaan busana menampilkan desainer yakni Torang Sitorus, Yuni Pohan, Yenti Lim, Feby Ayang, dan Haze Be Wear. (Foto: Fadmin Malau)

Pusat Perbelanjaan Ruang Hidup Pelestarian Budaya

Peringatan Hari Ulos di SUN Plaza Medan dengan menghadirkan talk show sekaligus peragaan busana teatrikal bertajuk “Ulos in Innovation” itu menurut Direktur SUN Plaza Medan Yoyana bahwa pusat perbelanjaan ruang hidup pelestarian budaya.

Mall Director Sun Plaza, Yoyana menyatakan dukungannya dengan memfasilitasi hari ulos di SUN Plaza agar pusat perbelanjaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi juga bertransformasi menjadi ruang hidup bagi pelestarian budaya.

“Dengan menghadirkan wastra lokal langsung ke pusat keramaian publik, tradisi dapat berdialog secara harmonis dengan gaya hidup masyarakat modern sehari-hari. Lewat festival ini, kami ingin menjadikan SUN Plaza sebagai ruang dimana budaya terus hidup, dikenal dan diapresiasi lintas generasi,” kata Yoyana.

Menurut Yoyana yang juga Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bahwa ketika seorang pelajar tampil membawakan karya busana kontemporernya atau seorang pengrajin bertemu dengan pembelinya di mall maka hal itu merupakan wujud nyata bahwa warisan budaya Sumatera Utara akan terus hidup, berkembang dan diwariskan ke masa depan.

Adapun cerita hari ulos Batak menurut Ketua Yayasan Pusut Buhit Efendy Naibaho mengatakan pada 14 Oktober 2014 lalu di Hotel Millenium Jakarta dirinya memaparkan  argumentasi akademik dihadapan para ahli Warisan Budaya Takbenda Nasional dan hasilnya Kemendikbud Indonesia menetapkan Ulos Batak menjadi warisan budaya tak benda Nasional. Penetapan ditandai dengan penyerahan sertifikat pada 17 Oktober 2014 di Museum Nasional Jakarta yang sekaligus cikal bakal peringatan hari ulos.

Tentang peringatan Hari Ulos di SUN Plaza Medan menurut Efendy Naibaho sangat bagus karena dengan tampilan yang disajikan akan memperkaya khazanah, ilmu pengetahuan tentang ulos maka dengan sendirinya Ulos Batak semakin dikenal masyarakat secara luas dan lebih khusus lagi generasi muda dengan tampilan modern.@

***

Scroll to Top