Dapur dan Tapak Bangunan

Dapur dan Tapak Bangunan
Dapur dan Tapak Bangunan

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Ada dua nasehat Ompung. Satu lahir di tapak bangunan, satu lahir di dapur. Jika disatukan, keduanya menjelaskan mengapa bangunan bisa miring dan mengapa nasi bisa mentah.

Nasehat pertama dari tapak bangunan: Marimbang do hapandeon dohot hapistaran, alai unang habur mangulahon. Berharga memang kepandaian dan kepintaran, tetapi jangan mengerjakannya dengan tergesa-gesa.

Nasehat kedua dari dapur: Humarojor mabola hudonna, humalaput tata indahanna. Terlalu lama mengunyah sirih, habis waktunya. Terlalu gopoh memasak nasi, mentah jadinya.

Dua kata kuncinya ada di situ. Habur artinya cepat, lekas, ingin segera selesai. Humalaput artinya tergesa-gesa, gopoh-gopoh, panik. Satu masih soal kecepatan, satu sudah soal kecerobohan.

Gambar tiga tukang yang mencangkul, berlutut menarik bonang, dan mengukur dengan theodolite itu adalah gambaran dua jenis kepandaian. Hapandeon adalah kebijaksanaan yang lahir dari tanah dan pengalaman. Hapistaran adalah kepintaran intelektual. Keduanya marimbang, sama-sama berharga. Tetapi keduanya diikat oleh satu benang yang sama, yaitu bonang, benang merah kebenaran.

Jika bonang itu ditarik dengan cara habur, pondasi akan miring. Jika dikerjakan dengan cara humalaput, yang terjadi persis seperti di dapur: nasi menjadi tata, mentah di dalam. Terlihat matang dari luar, tetapi tidak bisa dimakan bersama.

Inilah yang diingatkan Ompung dalam falsafah yang baku: Pantun do hangoluan, tois do hamagoan. Hati-hati adalah kehidupan, kelalaian adalah kebinasaan.

Dan pasangannya yang tak terpisahkan: Manat mardalan, bisuk mangaloppa. Hati-hati berjalan, bijak memasak.

Maknanya dalam. Hidup di luar rumah, di huta, di musyawarah besar, kita harus manat. Hati-hati menarik bonang persatuan. Tidak habur menghakimi, tidak humalaput ingin nama menjulang seperti Menara Babel. Sementara hidup di dalam rumah, di dapur, di keluarga, kita harus bisuk mangaloppa. Bijak memasak. Persaudaraan tidak bisa dimasak dengan api besar yang gopoh. Ia harus dimasak dengan api kecil yang sabar, hingga matang merata.

Kita hari ini tidak kekurangan orang pintar. Kita kekurangan orang yang mau berlutut menarik bonang dengan pelan. Kita terlalu habur ingin diakui paling benar, sehingga kita menjadi tois, lalai. Dan setiap kelalaian adalah jalan menuju hamagoan.

Pada akhirnya, Ompung tidak pernah mengajarkan kita membangun rumah yang paling tinggi. Ompung mengajarkan membangun rumah yang atapnya merunduk, rumah yang bisa dihuni bersama. Karena nasi yang tata tidak akan pernah menghidupi satu huta. Hanya nasi yang matanglah yang bisa dibagi.@

***

Penulis Wilmar Eliaser Simandjorang adalah Pegiat lingkungan dan Budaya basis GEOPARK

Scroll to Top