Bendung Gejolak Global, Bank Indonesia Optimalkan Intervensi dan Insentif Hedging

Ilustrasi visualisasi interaksi antara Dolar AS dan Rupiah di tengah pergerakan pasar keuangan global.
Ilustrasi visualisasi interaksi antara Dolar AS dan Rupiah di tengah pergerakan pasar keuangan global.

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) mempertegas komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah lonjakan volatilitas pasar keuangan global. Menyikapi tingginya ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), bank sentral siap mengoptimalkan seluruh instrumen pasar moneter secara terukur dan berkesinambungan.

Langkah strategis tersebut disampaikan Gubernur BI, Destry Damayanti, seusai menghadiri Rapat Terbatas Ekonomi bersama Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (19/10/2026).

Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang domestik utamanya dipicu oleh tren higher for longer di AS, di mana tingkat inflasi negara tersebut masih berada di atas target bank sentral. Prospek kenaikan suku bunga acuan Fed Funds Rate turut menjadi tantangan eksternal bagi rupiah, meski probabilitas kenaikannya pada Oktober ini diperkirakan cenderung memengecil.

“Global situasinya masih dipenuhi volatilitas tinggi. Namun, dalam dua hari terakhir stabilitas rupiah berhasil kita jaga. Perlambatan pergerakan ini juga sejalan dengan dinamika yang dialami berbagai negara berkembang (emerging markets),” ujar Destry.

Optimalisasi Bauran Instrumen dan Aliran Modal Masuk

Sesuai arahan Presiden Prabowo, BI akan terus bersiaga di pasar (stay in the market) melalui bauran kebijakan yang agresif namun terukur. Penjagaan stabilitas ini mencakup tiga pilar utama:

  • Intervensi Pasar: Kehadiran aktif di pasar spot.

  • Derivatif Nilai Tukar: Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

  • Skema Lindung Nilai (Hedging): Pemberian insentif biaya hedging bagi pelaku pasar yang telah berjalan sejak akhir Juni 2026.

Kebijakan insentif hedging tersebut terbukti efektif memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. Destry mengonfirmasi bahwa instrumen ini berhasil menarik aliran modal masuk (inflow) ke pasar keuangan domestik dalam jumlah signifikan.

“Insentif biaya hedging telah mendatangkan inflow, baik dalam bentuk transaksi swap maupun DNDF, dengan nilai berkisar antara US$8 miliar hingga US$9 miliar hingga saat ini,” pungkasnya.

Melalui penguatan insentif dan kehadiran berkelanjutan di pasar derivatif maupun spot, Bank Indonesia optimistis dapat meredam dampaknya terhadap perekonomian nasional serta mengawal ketahanan rupiah di tengah gejolak eksternal. (Sn)

Scroll to Top