Washington | EGINDO.co – Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membatalkan sanksi terhadap Rusia serta tarif atas barang-barang dari negara tersebut—tepat beberapa hari sebelum kebijakan itu diberlakukan—akan membuat Moskow semakin berani untuk terus menyerang Ukraina. Demikian disampaikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Sabtu (17 Oktober), seraya memprediksi akan ada lebih banyak lagi pelonggaran sanksi dari AS.
“Keputusan untuk membatalkan semua ini, untuk menghentikan semuanya, menurut saya adalah langkah yang keliru,” tulis Zelenskyy di platform X. “Hal ini jelas hanya menguntungkan pihak Rusia.”
Sebuah perintah eksekutif yang diterbitkan oleh Trump pada Jumat malam mencabut sanksi dan tarif utama AS terhadap Rusia—termasuk bea atas barang-barang Rusia serta penalti bagi pihak yang membeli minyak dan gas dari negara tersebut. Kebijakan ini sedianya akan mulai berlaku pekan depan berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai *Graham Act*, yang telah ditandatangani Trump bulan lalu.
Trump menyatakan bahwa pembatalan sanksi tersebut dilakukan demi kepentingan nasional Amerika Serikat.
Undang-undang tersebut dirancang untuk meningkatkan tekanan terhadap Rusia atas invasi mereka ke Ukraina yang dimulai pada 2022. Namun, Trump justru menunjukkan sikap yang lebih lunak terhadap Moskow, sementara di saat yang sama melontarkan kritik terbuka kepada Zelenskyy—bahkan sempat menyiratkan bahwa Kyiv memerlukan pemimpin yang baru.
Zelenskyy mengatakan bahwa langkah terbaru Trump ini justru memberi keberanian lebih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Hal ini hanya akan memuaskan mereka dan memperkuat keinginan mereka untuk terus membunuh orang,” tulis Zelenskyy, seraya menambahkan bahwa pada hari Jumat, Rusia telah menyerang lebih dari 15 lokasi pembangkit dan transmisi listrik di Ukraina. “Langkah ini jelas tidak menghentikan perang.”
Pemimpin Ukraina itu menuding Rusia berencana untuk meningkatkan intensitas serangan di wilayah Ukraina bagian barat. “Apakah Rusia sedang bersiap untuk melakukan itu? Saya rasa begitu,” tulis Zelenskyy.
Utusan Rusia Sambut Baik Pembatalan Sanksi
Utusan investasi Rusia, Kirill Dmitriev, menyebut pembatalan sanksi oleh Trump sebagai “momen yang sungguh bersejarah”. Melalui unggahan di X pada hari Jumat, ia menyatakan bahwa jika sanksi tersebut benar-benar diberlakukan, hal itu dapat menghentikan seluruh kerja sama ekonomi antara Rusia dan AS.
paruh waktu AS, di mana Partai Republik yang diusung Trump berupaya mempertahankan kendali tipis mereka di kedua majelis Kongres—sebenarnya berisiko memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya beban biaya yang ditanggung masyarakat Amerika, yang sebagian besar dikaitkan dengan konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Trump menandatangani Undang-Undang Sanksi terhadap Rusia dan Iran (Lindsey O. Graham Sanctioning Russia and Iran Act) tahun 2026 pada pertengahan September.
Pendukung utama undang-undang tersebut di Kongres adalah mendiang Senator AS Lindsey Graham, seorang anggota Partai Republik dari South Carolina. Undang-undang ini sedianya akan mengenakan tarif hingga 100 persen dalam waktu 30 hari terhadap semua barang yang masuk ke AS dari lima negara pengimpor minyak mentah atau gas Rusia terbesar, serta negara mana pun yang dengan sengaja membeli minyak atau gas tersebut 30 hari setelah undang-undang diberlakukan, atau termasuk dalam lima negara teratas yang membantu Rusia menghindari sanksi.
Saudara perempuan Graham, Darline Graham, ditunjuk untuk mengisi kursi Senat yang ditinggalkannya setelah ia meninggal dunia pada bulan Juli, dan Trump mendukung pencalonannya untuk masa jabatan penuh menjelang pemilihan paruh waktu. Dalam sebuah kegiatan kampanye pada hari Sabtu, ia tidak secara langsung mengkritik Trump karena memberikan pengecualian sanksi, namun ia menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengambil keputusan tersebut.
“Secara pribadi, saya akan memilih untuk tetap memberikan tekanan pada Rusia,” ujarnya kepada para wartawan, sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media. “Karena saya tidak memercayai Putin dan saya tidak memercayai Rusia.”
Namun, Tiongkok dan India—yang merupakan pembeli minyak Rusia terbesar—telah menyampaikan kekhawatiran terkait undang-undang tersebut.
Beijing menyatakan bahwa mereka “secara konsisten menentang yurisdiksi ekstrateritorial yang tidak memiliki dasar dalam hukum internasional,” sementara India memperingatkan Washington bahwa penerapan tarif baru dapat berdampak pada hubungan bilateral.
Akan tetapi, undang-undang tersebut juga memberikan wewenang kepada presiden untuk memberikan pengecualian sanksi dengan cara memberi tahu Kongres bahwa ia telah memutuskan bahwa sanksi tersebut tidak sejalan dengan kepentingan nasional. Perintah eksekutif yang dikeluarkan pada hari Jumat menyatakan bahwa pengecualian tersebut akan tetap berlaku sampai Trump atau pejabat tinggi pemerintahannya memutuskan bahwa “tindakan lebih lanjut dianggap tepat.”
Anggota DPR AS Don Beyer, seorang politisi Partai Demokrat dari Virginia, mengatakan bahwa Trump telah tunduk kepada Putin.
“Tindakan Trump yang kembali tunduk kepada Putin ini sekali lagi mengkhianati mitra kita di Ukraina dan mengabaikan niat jelas Kongres dalam menyusun undang-undang yang dirancang untuk menghukum Rusia atas perang agresi ilegalnya,” ujar Beyer dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.
Lindsey Graham merupakan pendukung kuat bantuan AS untuk Ukraina. Disahkannya undang-undang yang menggunakan namanya ini sempat memberikan harapan akan terus adanya dukungan bipartisan bagi Kyiv, tulis Zelenskyy. Namun, dengan kepergian Graham, pemimpin Ukraina tersebut memprediksi bahwa AS di bawah pemerintahan Trump akan terus memberikan pelonggaran sanksi bagi Rusia—melampaui pengecualian yang berlaku hingga Jumat ini serta kesepakatan ekspor diesel yang diumumkan awal bulan ini.
“Menurut saya, kesepakatan soal diesel dan langkah terkait Undang-Undang Lindsey Graham ini bukanlah akhir dari segalanya. Sayangnya, memang demikian,” tulis Zelenskyy, seraya mengungkapkan penyesalannya atas absennya Graham. “Ini sungguh disayangkan karena kami semua sangat menghormati Lindsey… Jujur saja, rasanya sulit tanpa kehadiran beliau.”
Sumber : CNA/SL