Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar per Agustus 2026, Didorong ULN Sektor Publik

Ilustrasi Aktivitas pembangunan infrastruktur nasional yang pesat.
Ilustrasi Aktivitas pembangunan infrastruktur nasional yang pesat.

Jakarta|EGINDO.co Bank Indonesia (BI) mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per akhir Agustus 2026 mencapai US$459,3 miliar atau sekitar Rp8.153,26 triliun (berdasarkan kurs Jisdor BI 31 Agustus 2026 sebesar Rp17.746 per dolar AS). Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,6% secara tahunan (year on year/YoY), yang terutama dipicu oleh peningkatan utang sektor publik di tengah tren penurunan utang luar negeri swasta.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Indrayana, menjelaskan bahwa dinamika ini mencerminkan penguatan koordinasi moneter dan pembiayaan publik untuk menopang stabilitas serta pembangunan ekonomi nasional.

Pertumbuhan ULN Sektor Publik dan Penggunaan Dana

ULN publik—yang mencakup utang pemerintah dan bank sentral—menjadi motor utama kenaikan total utang luar negeri.

  • ULN Pemerintah: Tercatat sebesar US$220,9 miliar atau tumbuh 3,3% (YoY). Kenaikan ini sebagian besar dipengaruhi oleh masuknya aliran modal asing pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) internasional.

  • Pengalokasian Strategis: ULN pemerintah diarahkan untuk pembiayaan sektor-sektor produktif, dengan porsi terbesar dialokasikan pada:

    1. Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial: 22,0%

    2. Administrasi Pemerintah, Pertahanan, & Jaminan Sosial Wajib: 20,7%

    3. Jasa Pendidikan: 16,2%

    4. Konstruksi: 11,4%

    5. Transportasi & Pergudangan: 8,5%

Pihak bank sentral menilai posisi ULN pemerintah masih berada dalam tingkatan aman dan terkendali, mengingat porsi terbesar didominasi oleh utang jangka panjang. Pemerintah berkomitmen penuh menjaga kredibilitas pengelolaan fiskal melalui pemenuhan kewajiban pokok dan bunga secara tepat waktu serta terukur.

Sementara itu, pertumbuhan ULN bank sentral terutama didorong oleh meningkatnya kepemilikan non-residen pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini sejalan dengan strategi operasi moneter pro-market BI untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.

ULN Swasta Melanjutkan Tren Kontraksi

Berbeda dengan sektor publik, ULN swasta justru mencatatkan penurunan. Per Agustus 2026, ULN swasta berada di level US$195,6 miliar, terkontraksi 0,8% (YoY).

Penurunan ini bersumber dari dua kelompok peminjam utama:

  • Lembaga Non-Keuangan (Nonfinancial Corporations): Turun 0,8% (YoY).

  • Lembaga Keuangan (Financial Corporations): Turun 0,6% (YoY).

Adapun pangsa ULN swasta masih didominasi oleh empat sektor utama, yakni Industri Pengolahan, Jasa Keuangan & Asuransi, Pengadaan Listrik & Gas, serta Pertambangan & Penggalian. Total kontribusi keempat sektor ini mencapai 80,5% dari seluruh utang luar negeri swasta.

Rasio ULN Terhadap PDB Tetap Terkendali

Dengan perkembangan tersebut, rasio total ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 30,9% per Agustus 2026, yang juga didominasi oleh struktur utang jangka panjang.

Bank Indonesia bersama Pemerintah menyatakan akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau dan mengelola struktur utang luar negeri secara prudent, guna memastikan pembiayaan pembangunan tetap optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. (Sn)

Scroll to Top