Coe ; Upaya Pemberantasan Doping di Kenya Menunjukkan Perbaikan

Presiden World Athletics, Sebastian Coe
Presiden World Athletics, Sebastian Coe

Nairobi | EGINDO.co – Presiden World Athletics, Sebastian Coe, menyatakan bahwa kemajuan telah dicapai dalam upaya memerangi doping di Kenya. Namun, ia mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan seiring persiapan negara tersebut menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 2029.

Coe berada di Nairobi pada hari Rabu untuk mempromosikan kejuaraan yang dipercayakan kepada Kenya—salah satu negara tersukses di dunia dalam cabang atletik, namun juga negara yang terus menghadapi kekhawatiran terkait masalah doping.

Sejak Athletics Integrity Unit (AIU) dibentuk pada tahun 2017, lebih dari 140 atlet Kenya telah dijatuhi sanksi akibat pelanggaran aturan doping.

“Kita memang sedang membuat kemajuan,” ujar Coe kepada para wartawan. “Beberapa tahun lalu, saya sempat meyakinkan pemerintah untuk mengalokasikan pendanaan yang lebih besar guna menghadapi tantangan ini.”

“Menurut saya, kita telah mencapai kemajuan yang baik di beberapa bidang, meski masih ada aspek lain yang perlu terus dibenahi.”

Coe menjelaskan bahwa pembentukan AIU yang independen—salah satu reformasi yang ia perkenalkan setelah menjabat sebagai Presiden World Athletics pada tahun 2015—telah memperkuat pendekatan olahraga ini dalam memerangi doping.

“Salah satu langkah awal yang saya ambil saat menjadi Presiden World Athletics 11 tahun lalu adalah melakukan reformasi,” kata Coe, yang merupakan peraih dua medali emas Olimpiade di nomor lari 1.500 meter. “Inti dari reformasi tersebut tentu saja adalah pembentukan Athletics Integrity Unit.”

“Dari sudut pandang AIU, proses pengujian kini jauh lebih intensif, lebih luas, dan lebih berbasis pada intelijen dibandingkan dengan sistem yang lama.”

Coe menggambarkan pentingnya pengujian yang agresif melalui sebuah analogi sederhana.

“Seperti pepatah yang sering diucapkan: jika ingin menangkap ikan, Anda harus pergi memancing,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa doping mungkin tidak akan pernah bisa diberantas sepenuhnya, namun menegaskan bahwa dunia atletik saat ini berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan 10 tahun lalu.

“Kita tidak akan pernah hidup di dunia yang sempurna. Kita harus menerima kenyataan itu; saya pun harus menerimanya,” katanya.

Coe menambahkan bahwa status sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia dapat membantu Kenya untuk lebih fokus dalam menangani masalah tersebut. “Apakah masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan? Ya. Akankah kejuaraan ini membuat upaya tersebut lebih diperhatikan? Tentu saja,” ujarnya. “Athletics Integrity Unit menegaskan dalam laporan mereka kepada saya bahwa kemajuan telah dicapai. Namun, perlu diingat, kita menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk sampai di titik ini.”

Nairobi akan menjadi kota pertama di Afrika yang menggelar Kejuaraan Dunia. Ibu kota Kenya ini sebelumnya sempat gagal dalam upayanya untuk menjadi tuan rumah ajang tersebut pada tahun 2025, yang akhirnya diberikan kepada Tokyo. Sebelumnya, Nairobi pernah menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia U18 pada tahun 2017 dan Kejuaraan Dunia U20 pada tahun 2021.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top