Minyak Melemah, Investor Pertimbangkan Prospek Pasokan & Ketegangan Teluk

Harga Minyak Turun
Harga Minyak Turun

New York | EGINDO.co – Harga minyak turun lebih dari 1 persen pada hari Kamis seiring para investor menimbang risiko pasokan akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, dibandingkan dengan upaya Amerika Serikat untuk menekan biaya pengiriman minyak dengan melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal tertentu.

Harga minyak mentah Brent berjangka turun $1,64, atau 1,6 persen, menjadi $104,42 per barel pada pukul 03.37 GMT, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 98 sen, atau 1 persen, menjadi $94,11 per barel, membalikkan kenaikan yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Harga WTI sempat mencapai level tertinggi dalam tiga minggu pada sesi sebelumnya setelah kelompok Houthi menyerang kantor pusat Saudi Aramco, dan Iran menyatakan akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz guna menjaga harga minyak tetap tinggi.

Pejabat maritim melaporkan pada hari Rabu bahwa sebuah kapal kontainer dan sebuah kapal kargo curah kering tenggelam di dekat selat tersebut dalam 24 jam terakhir setelah terkena proyektil dalam insiden terpisah.

Serangan di sekitar jalur perairan tersebut meningkat tajam dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan bahwa mereka meningkatkan serangan sebagai respons terhadap blokade AS atas pelabuhan-pelabuhan Iran serta sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.

Seorang pejabat AS mengatakan pada hari Rabu bahwa, mengingat konflik yang melibatkan Iran telah mengganggu pelayaran dan mendorong biaya pengangkutan ke rekor tertinggi, pemerintahan Trump mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal yang termasuk dalam “armada bayangan” (shadow fleet)—kapal-kapal yang selama ini mengangkut minyak dan produk minyak dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela—dengan harapan dapat membantu menurunkan harga.

Pejabat tersebut menambahkan bahwa diskusi baru ini berfokus pada kemungkinan AS mengizinkan pengangkutan “minyak legal” menggunakan kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi.

Peningkatan produksi dari Rusia dan Timur Tengah turut menahan kenaikan harga. Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan pada hari Rabu bahwa produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada bulan September menjadi 8,43 juta barel per hari, meskipun angka tersebut masih lebih rendah 870.000 barel per hari dibandingkan tahun sebelumnya.

IEA juga mencatat bahwa ekspor minyak mentah dari negara-negara produsen di kawasan Teluk Timur Tengah meningkat sebesar 4,4 juta barel per hari pada bulan September, mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang. “Meskipun hanya ada sedikit bukti konkret mengenai kesepakatan damai dalam waktu dekat, minyak tetap dapat sampai ke tangan pembeli melalui jalur alternatif dan pengaturan logistik,” ujar Priyanka Sachdeva, kepala wawasan pasar di Phillip Nova, dalam sebuah catatan untuk klien.

“Langkah-langkah alternatif ini telah membantu mencegah guncangan pasokan yang lebih parah, meskipun harus dibayar dengan biaya yang lebih tinggi dan membuat arus pasokan global rentan terhadap gangguan lebih lanjut.”

Di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah dan distilat mengalami penurunan, sementara stok bensin justru meningkat pada pekan lalu, ungkap sumber pasar pada hari Rabu, dengan mengutip data dari American Petroleum Institute.

Stok minyak mentah turun sebesar 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober, menurut sumber tersebut. Angka penurunan ini jauh lebih besar daripada perkiraan para analis yang disurvei oleh Reuters.

“Meskipun terjadi penurunan stok yang tajam, harga minyak hampir tidak bereaksi. Kegagalan harga untuk naik di tengah berita yang positif menunjukkan bahwa para investor bersikap hati-hati untuk terus mendorong harga lebih tinggi pada level saat ini,” tulis Haitong Futures dalam sebuah catatan pada hari Kamis.

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS (US Energy Information Administration) dijadwalkan akan dirilis pada pukul 12.00 siang waktu EDT (16.00 GMT), setelah mengalami penundaan satu hari akibat libur Columbus Day pada hari Senin.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top