Estafet Dari Hometown Kota Bintang Bekasi

Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga bersama Vincent - Salah satu penjaga, dari Hometown Kota Bintang, Bekasi
Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga bersama Vincent - Salah satu penjaga, dari Hometown Kota Bintang, Bekasi

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga

Horas Amang, Inang, Saudara terkasih! Pagi ini di Kota Bintang Bekasi ada sebuah estafet kecil: Dari saya Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga kepada cucu saya Daniel Alexander Napitupulu yang mempersunting Boru Sinaga. Di atas meja ada dua gelas teh yang dingin, dan satu buku yang hangat: Penyelamatan Kawasan Danau Toba – karangan saya Wilmar Eliaser Simandjorang Sinaga bersama Vincent .

Buku ini bukan milik saya sendiri. Danau ini apalagi. Saya hanya salah satu dari banyak anak Danau yang bersama sahabat menuliskan kerinduan di kaki Pusuk Buhit. Hari ini, kerinduan yang kami tulis berdua itu saya teruskan. Kenapa harus diestafetkan? Inilah landasan teologinya:

  1. Creatio: Danau adalah Ciptaan yang Baik

Kejadian 1:31 – Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik. Danau Toba bukan proyek milik siapa-siapa. Ia adalah Raja ni sude na tao, ciptaan Tuhan yang baik. Menjaganya adalah ibadah kita bersama.

  1. Imago Dei: Kita Semua adalah Penatalayan, Bukan Pemilik

Kejadian 2:15 – Mengusahakan dan memelihara (abad dan shamar). Mazmur 24:1 – Tuhanlah yang empunya bumi. Estafet ini bukan pemberian hak milik. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengaku pemilik Kawasan Danau Toba. Kita semua hanya penatalayan.

  1. Hamartiologi & Soteriologi: Kerusakan adalah Dosa Kita Bersama

Kerusakan KDT 6 dekade adalah buah dari dosa ekologis kita bersama. Pemulihannya pun harus jadi kerja penebusan kita bersama (Roma 8:19-23).

  1. Eklesiologi: Dalihan Na Tolu adalah Kerja Kolektif

Dunia menyebutnya Best Practice UNESCO Global Geopark. Leluhur kita menyebutnya Dalihan Na Tolu – keseimbangan 3 tungku. Dan keseimbangan itu hidup dalam prinsip: Si Sada Lulu Anak, Si Sada Lulu Boru – Satu hati ke anak, satu hati yang sama juga diberikan ke boru.

Penutup Estafet

Tugas generasi saya hampir di ujung senja. Tugas generasi Daniel baru di ujung fajar. Tapi tugas sesungguhnya ada di tangan kita semua, komunitas penjaga Danau. Yang saya teruskan hari ini adalah hasil karya bersama saya dan Vincent , bukan warisan keluarga, melainkan titipan kecil dari salah satu penjaga untuk penjaga berikutnya.

Estafet kecil ini telah berpindah. Dari Wilmar ke Daniel. Dari Ompung ke pahompu. Untuk selanjutnya diteruskan kepada semua anak dan boru penjaga takhta Raja ni Sude Na Tao. Amin. Tuhan memberkati.

***

Scroll to Top