Jakarta|EGINDO.co Tren ekspansi pusat data (data center), infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga masifnya transisi energi global terbukti menjadi mesin penggerak utama lonjakan permintaan tembaga. Kondisi pasar yang kian mengetat ini memberi angin segar bagi emiten tambang domestik seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM).
Berdasarkan data perdagangan bursa COMEX pada Selasa (13/10/2026), harga tembaga menguat melebihi US$6,70 per pon, kian mendekati rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level US$6,80 per pon yang dicapai pada September 2026.
Kesenjangan Pasokan dan Permintaan Menguat hingga 2040
Equity Research Analyst OCBC Sekuritas, Devi Praharsa, menjelaskan bahwa penguatan harga tembaga sepanjang tahun 2026 didorong oleh ekspektasi pengetatan pasokan di masa depan. Peran tembaga sebagai konduktor utama dalam infrastruktur AI dan pusat data menjadi penggerak vital di sisi permintaan.
“Proyeksi permintaan kapasitas data center global diperkirakan melonjak hingga 3,5 kali lipat dari 2025 hingga 2030, yang utamanya didominasi oleh beban kerja (workload) AI. Kondisi ini memperlebar celah (gap) antara pasokan dan permintaan tembaga hingga 2035,” ujar Devi.
Pandangan senada disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta. Ia menilai kebutuhan tembaga untuk sistem kelistrikan, pengkabelan, transformator, hingga pendingin data center akan menjadi katalis struktural jangka menengah hingga panjang.
Riset S&P Global Energy & Market Intelligence turut memproyeksikan lonjakan konsumsi tembaga dunia dari 28 juta metrik ton pada 2025 menjadi 42 juta metrik ton pada 2040. Tanpa adanya perluasan kapasitas produksi yang signifikan, pasar berpotensi menghadapi defisit pasokan hingga 10 juta metrik ton.
Faktor Penopang dan Risiko Pasar
Selain sektor teknologi, ketahanan permintaan tembaga ditopang oleh elektrifikasi transportasi, pertumbuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), pengembangan energi terbarukan, serta modernisasi jaringan transmisi daya.
Namun, industri ini tetap menghadapi sejumlah tantangan operasional dan dinamika makroekonomi:
-
Sisi Penawaran (Supply): Penurunan kadar bijih (ore grade), minimnya penemuan cadangan baru, kenaikan biaya produksi, dan risiko gangguan operasional di negara produsen utama.
-
Sisi Permintaan (Demand): Kecepatan realisasi infrastruktur, efisiensi material, perkembangan daur ulang, serta potensi hambatan makro seperti perlambatan ekonomi China dan penguatan nilai tukar Dolar AS.
Analisis Emiten dan Rekomendasi Saham
Melihat kuatnya fundamental komoditas tembaga, Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan tiga saham emiten pertambangan nasional dengan target harga (target price/TP) sebagai berikut:
1. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN)
-
Rekomendasi: Akumulasi Beli
-
Target Harga: Rp6.500
-
Ulasan: Memiliki eksposur langsung terhadap tambang tembaga dan emas, sehingga paling berpotensi mendapat manfaat optimal dari kenaikan harga komoditas. Investor disarankan tetap memantau volume produksi, biaya operasional, dan realisasi belanja modal (capex).
2. PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA)
-
Rekomendasi: Add Position
-
Target Harga: Rp3.440
-
Ulasan: Terdukung oleh portofolio tembaga dan emas serta eksekusi proyek-proyek strategis. Kendati demikian, risiko pendanaan dan struktur investasi perlu cermat diperhitungkan.
3. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM)
-
Rekomendasi: Akumulasi Beli
-
Target Harga: Rp3.990
-
Ulasan: Berfungsi sebagai pilihan diversifikasi portofolio berkat lini bisnis yang beragam (emas dan nikel), meskipun sensitivitas kinerjanya terhadap fluktuasi harga tembaga tidak sebesar AMMN atau MDKA.
Catatan Investor: Pemilihan saham sebaiknya tidak semata-mata mengandalkan momentum kenaikan harga komoditas, melainkan juga mempertimbangkan valuasi, arus kas, struktur utang, serta prospek pertumbuhan laba secara berkelanjutan. (Sn)