H. Amsyal: “Mamaku Kuntilanak” Menghidupkan Perfilman di Sumut, Mencari Aktor/Aktris dari Medan

H. Amsyal produser film Mamakku Kuntilanak
H. Amsyal produser film Mamakku Kuntilanak

Medan | EGINDO.com – “Mamaku Kuntilanak” sebuah film layar lebar diproduksi di Medan untuk menghidupkan kembali perfilman di Sumatera Utara (Sumut) dan sekaligus mencari aktor/aktris baru berbakat dari kota Medan yang dahulu dikenal sebagai daerah penghasil aktor/aktris terbaik di Indonesia.

Hal itu dikatakan H. Amsyal menjawab pertanyaan EGINDO.com pada Senin (12/10/2026) di Medan sehubungan dengan diproduksinya film layar lebar berjudul Mamaku Kuntilanak.

Amsyal sebagai produser film Mamakku Kuntilanak mengatakan ketika dilakukan casting atau pemilihan calon aktor/aktris untuk pemeran film Kuntilanak ternyata diikuti 120 orang peserta dan yang berhasil lulus seleksi oleh sutradara sebanyak 20 orang. Hal itu kata Amsyal membuktikan minat masyarakat untuk bergabung di dunia perfilaman di Medan masih baik.

Melihat minat yang baik itu maka potensi berkembangnya perfilman di Sumatera Utara cukup baik dan pihaknya akan terus mengembangkan potensi yang ada itu dengan melakukan pembinaan melalui kursus atau kelas aktor/aktris sesuai dengan kelompok usia dari para peserta.

Nama H. Amsyal bukan orang baru dalam lingkungan seni peran di Sumatera Utara. Amsyal lahir di Makassar pada 7 Agustus 1957 dari keluarga asal Bayur, Maninjau, Sumatera Barat itu optimis perfilaman di Sumatera Utara khususnya dan umumnya di Indonesia akan bangkit.

Buktinya kata Amsyal ketika mencari talenta dari Sumatera Utara yakni proses casting di Medan mendapat perhatian sejumlah pelaku seni dan teater Sumatera Utara dan hadir H. Amsyal, pimpinan sekaligus sutradara Teater Cendana; Erwin Parende, Ketua Persatuan Artis Indonesia (PARFI) Cabang Sumut; Khadizah Lubis dari Teater Imago Medan; Mansyur Nst dari Teater Serumpun; serta Rindy dari Teater Dermaga Belawan. “Kehadiran mereka menjadi dukungan tersendiri bagi upaya membuka ruang bagi talenta lokal untuk masuk ke produksi layar lebar,” kata Amsyal.

Sementara itu Syamsul Hilal, penulis skenario sekaligus sutradara asal Jakarta mengatakan casting bukan sekadar mencari wajah yang enak dipandang kamera akan tetapi harus bertemu dengan karakter yang telah hidup lebih dahulu di dalam skenario. Ingin mendapatkan pemain yang benar-benar sesuai dengan karakter yang sudah dibangun dalam cerita. Karena itu, proses casting dilakukan dengan seleksi yang serius.

Syamsul mengatakan selain kemampuan berakting, tim produksi mempertimbangkan kesesuaian usia, penampilan, dan karakter peserta dengan tokoh yang akan diperankan. Seleksi akan terus mengerucut sebelum nama-nama pemain ditetapkan dan produksi dimulai.

“Mamaku Kuntilanak” sebuah film layar lebar diproduksi di Medan

Film Mamaku Kuntilanak adalah film horor layar dimana tangisan bayi dari dalam kubur menjadi pintu masuk kisah dalam film itu. Film horor layar lebar yang menghidupkan cerita ganjil tentang kematian, ilmu hitam, dan kasih seorang ibu yang bahkan tak selesai di liang lahat. Mamaku Kuntilanak berangkat dari cerita tentang seorang perempuan hamil yang meninggal dunia.

Beberapa hari setelah pemakaman, seseorang yang tengah menekuni ilmu hitam membongkar kuburannya. Tujuannya cuma satu: mengambil tali pocong dari jenazah perempuan itu. Setelah mendapatkan benda yang dicari, pelaku pergi begitu saja. Makam yang telah terbongkar itu kemudian menyisakan kejadian yang sukar diterima akal. Penjaga makam mendengar suara tangisan bayi dari dalam kuburan.

Perempuan yang telah meninggal tersebut ternyata melahirkan setelah tubuhnya berada di liang lahat. Bayi itu diselamatkan. Penjaga makam kemudian menyerahkannya kepada lurah setempat. Sang bayi tumbuh menjadi anak usia sekolah. Hidupnya semula berjalan sebagaimana anak-anak lain sampai suatu hari muncul perempuan misterius. Sosok itu bukan manusia biasa. Ia adalah kuntilanak. “Kau anakku, sayang,” katanya kepada bocah tersebut.

Kehadiran makhluk itu menggemparkan warga sebelum kemudian menghilang ke angkasa. Sang lurah membawa anak tersebut pulang ke rumah. Di situlah satu demi satu rahasia mulai terkuak. Lurah mengakui bocah tersebut bukan anak kandungnya. Pertanyaan tentang siapa ibu sebenarnya menjadi simpul utama cerita yang menggabungkan horor, misteri, konflik keluarga, dan ikatan ibu-anak dalam dunia supranatural.@

Fd/timEGINDO.com

Scroll to Top