Jakarta|EGINDO.co Penurunan harga minyak mentah dunia tidak secara otomatis berimbas pada penurunan cepat harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Pemerintah menegaskan adanya jeda waktu dan mekanisme kalkulasi yang matang dalam setiap kebijakan penyesuaian harga energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa skema penyesuaian harga BBM—baik saat tren pasar sedang menguat maupun melemah—membutuhkan waktu pergerakan sekitar dua minggu.
“BBM itu kalau [harga minyak dunia] turun hari ini, butuh waktu sekitar dua minggu baru terlihat penyesuaiannya. Begitu pula saat naik, tidak langsung naik di hari yang sama,” ujar Bahlil dalam acara Rapat Kerja Nasional Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) 2026 di Jakarta, Senin (12/10/2026).
Komitmen Menjaga Subsidi hingga Akhir Tahun
Di tengah fluktuasi pasar global, Bahlil menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Harga BBM bersubsidi, seperti Pertalite, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan hingga menutup tahun 2026.
Langkah ini diakui sebagai tantangan besar bagi anggaran negara, namun menjadi prioritas utama demi melindungi perekonomian rakyat. “Bagaimana caranya kami jaga untuk tidak naik sampai 30 Desember 2026. Ini bukan pekerjaan gampang, ini pekerjaan berat, tetapi untuk rakyat kita harus melakukan yang terbaik,” tegasnya.
Bayang-Bayang Geopolitik Global
Pergerakan harga minyak mentah dunia sendiri masih dibayangi oleh dinamika geopolitik. Berdasarkan data CNBC International per Senin (12/10/2026), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Desember terkoreksi 1,65% ke level US$102,99 per barel. Sementara itu, jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November melemah 1,92% menjadi US$90,09 per barel. Meski melandai, angka ini masih berada jauh di atas rata-rata harga sebelum memanasnya konflik di Timur Tengah awal tahun ini.
Di sisi lain, sentimen positif mulai berhembus dari ranah diplomatik global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kesepakatan gencatan senjata di sektor energi antara Rusia dan Ukraina, di mana kedua belah pihak sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing.
Kesepakatan ini diharapkan mampu meredakan potensi gangguan pasokan energi global dan memberikan efek relaksasi pada pasar pasokan mentah dunia. (Sn)