Perawang Riau | EGINDO.com – Musim asap tahun ini, satelit dapat membantu mengidentifikasi lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran. Namun, satelit tidak selalu memberikan gambaran utuh. Tutupan awan, asap tebal, dan kondisi di lapangan sering kali membatasi apa yang terlihat dari angkasa. Di sinilah jaringan deteksi Asia Pulp and Paper (APP) Group mengambil peran. Menara pemantau, CCTV, drone, patroli lapangan, hingga tim verifikasi menjadi lapisan informasi tambahan yang membantu memastikan apa yang sebenarnya terjadi dan menggerakkan respons cepat ketika kebakaran terkonfirmasi.
EGINDO.com mengutip siaran pers APP Group menyebutkan deteksi satelit menunjukkan titik baru di layar pusat pemantauan terbesar APP di Perawang, Riau. Hanya satu piksel, terdeteksi dari orbit sebagai anomali panas di suatu lokasi di Riau. Titik tersebut disertai koordinat yang presisi, namun tetap memerlukan verifikasi lebih lanjut di lapangan.
Peringatan seperti itu penting karena memberi petunjuk arah. Namun, deteksi hanyalah awal dari proses penanganan. Di bentangan konsesi yang mencakup hutan, kanal, berbagai jenis medan, dan area dengan akses terbatas; setiap sinyal membutuhkan tindakan kombinasi berbagai sistem dan banyak pihak yang bekerja sama.
Bagi Richard S. Sihombing, Head of Fire Operations Management wilayah Riau, pengelolaan kebakaran tidak bergantung pada satu sumber informasi saja. APP Group menggabungkan pemantauan hotspot dengan menara api, CCTV berbasis Kecerdasan Buatan (AI), patroli drone, patroli pemadam RPK, serta laporan dari masyarakat sekitar. Semua metode ini saling melengkapi sebagai “mata-mata” tambahan di lapangan.
“Satelit hanya bisa mendeteksi panas,” ujar Richard.“Satelit tidak bisa melihat api maupun asap secara langsung. Sinyal panas bisa saja berasal dari tanah terbuka yang memanas karena matahari, atap dari bahan seng, atau aktivitas industri. Karena itu, setiap hotspot kami perlakukan dengan tingkat kewaspadaan yang sama seperti kebakaran yang sudah terkonfirmasi. Kami tidak bisa mengambil risiko dengan menganggapnya bukan kebakaran,” katanya.
Karena itu, tim verifikasi selalu berangkat dengan kesiapan untuk segera melakukan pemadaman jika memang ditemukan kebakaran. Dalam praktiknya, sebagian hotspot yang diperiksa ternyata berasal dari sumber lain. Namun hal itu tidak mengubah prosedur. Setiap peringatan tetap diperiksa, dan keputusan apakah perlu dilakukan pemadaman atau tidak ditentukan berdasarkan temuan di lapangan. Menara pemantau, CCTV berbasis AI, drone, dan patroli membantu memberikan bukti tambahan selama proses verifikasi berlangsung.
Lapisan pertama sistem pemantauan APP Group adalah teknologi yang juga digunakan secara luas di berbagai negara, yaitu satelit pengorbit kutub yang memantau area sangat luas dan mendeteksi sumber panas. Keunggulan utamanya adalah jangkauan yang luas, memungkinkan deteksi dini di wilayah yang terlalu besar untuk dijangkau patroli lapangan.
APP Group menerapkan pendekatan pemantauan berlapis (blanket monitoring), di mana seluruh area konsesi dipantau oleh setidaknya satu sistem pemantauan. Untuk wilayah yang memiliki risiko kebakaran ekstrem, pengawasan diperkuat melalui kombinasi beberapa sistem sekaligus. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip sederhana: setiap teknologi memiliki sudut pandang dan keterbatasannya masing-masing.
Dengan mengintegrasikan pemantauan satelit, menara pantau, patroli drone, hingga pemeriksaan lapangan, potensi celah dalam deteksi dini dapat diminimalkan. Namun, satelit memiliki keterbatasan. Tutupan awan dan asap pekat dapat menghalangi pandangan ke permukaan bumi. Selain itu, sinyal panas belum tentu berasal dari api; bisa berasal dari tanah terbuka, aktivitas industri, atau sumber lainnya. Karena itu, pemantauan satelit hanya menjadi salah satu bagian dari jaringan deteksi yang lebih luas. Koordinat hotspot kemudian dipetakan melalui sistem GIS yang menghubungkannya dengan peta konsesi, data tinggi muka air, dan riwayat kejadian sebelumnya di lokasi tersebut.
Informasi itu membantu tim memahami kondisi sekitar sebelum memutuskan langkah berikutnya. Pendekatan berlapis penting karena kebakaran tidak selalu terdeteksi melalui jalur yang sama. Asap mungkin pertama kali terlihat dari menara pemantau. Patroli lapangan bisa menemukan api saat berkeliling area konsesi. Drone dapat mengidentifikasi aktivitas di lokasi yang tidak terlihat dari menara. Bahkan laporan warga sekitar terkadang menjadi informasi awal sebelum sistem lain memberikan petunjuk yang cukup untuk bertindak.

Pandangan dari Atas Menara
Seringkali orang pertama yang memverifikasi adanya indikasi kebakaran adalah petugas pemantau yang bertugas di menara api, yan rata-rata tinggnya 35 meter. APP Group memiliki setidaknya satu menara pemantau di setiap distrik atau satu menara per 20.000 hektare area konsesi.
Saat melakukan pemantauan, petugas di menara terus berkoordinasi dengan ruang kontrol sambil mengamati cakrawala menggunakan teropong untuk mencari tanda-tanda asap. Namun, satu pengamatan saja tidak cukup menjadi dasar tindakan. Ketika seorang petugas melihat asap, ia akan meminta konfirmasi dari petugas di menara terdekat. Dengan dua titik pengamatan, posisi asap dapat diperkirakan melalui triangulasi. Setelah itu, tim lapangan dikirim untuk melakukan pemeriksaan langsung sambil membawa perlengkapan pemadaman jika diperlukan.
Menara pemantau dapat mengonfirmasi keberadaan asap hanya dalam hitungan menit atau memastikan suatu area aman tanpa perlu mengerahkan tim ke lapangan. Namun kemampuan pengawas tetap dibatasi oleh garis pandang. Menara tidak dapat melihat area yang terhalang perbukitan, tumbuhan rapat, atau lokasi yang jauh di dalam kawasan hutan.
Karena itu APP Group semakin mengandalkan berbagai metode deteksi yang saling melengkapi. Drone, misalnya, diterbangkan setiap hari untuk memantau area yang tidak dapat dijangkau pengamatan dari menara. Hasil pemantauan kemudian dilaporkan kepada Incident Management Team (IMT) yang sedang bertugas dan dicatat sebagai bagian dari dokumentasi pemantauan.
Bagi anggota tim lapangan APP Group, perjalanan menuju titik dugaan kebakaran menjadi bagai rutinitas. Jika lokasi berada jauh dari akses jalan, mereka menggunakan sepeda motor sebisa mungkin. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, menembus hutan mengikuti koordinat GPS yang mengarah ke sumber hotspot. Jarak tempuhnya tidak pernah sama. Medan berbukit sering kali menjadi tantangan terbesar, ditambah kondisi tanah yang berubah dari gambut ke mineral, atau kombinasi keduanya. Selama perjalanan, tim membawa perlengkapan pemadaman karena proses verifikasi dan respons dianggap sebagai satu rangkaian yang tidak terpisahkan.
Menurut Richard, begitu laporan asap atau kebakaran diterima IMT, tim lapangan langsung bergerak dengan membawa peralatan pemadaman. Jika kebakaran benar terjadi, mereka dapat segera melakukan tindakan tanpa harus kembali mengambil perlengkapan. Penanganan kebakaran dilakukan melalui empat tahap. Pertama adalah containment, yaitu membatasi penyebaran api di perimeter area terdampak. Berikutnya control, memperlebar dan memperkuat batas pengendalian tersebut. Tahap ketiga adalah mop-up, ketika tim menyisir area untuk memastikan tidak ada lagi titik panas atau asap tersisa. Kebakaran baru dinyatakan selesai setelah seluruh area diperiksa dan dipastikan aman.
Kemajuan teknologi telah memperluas area yang dapat dipantau. Namun menurut Sihombing, beberapa tantangan terbesar justru muncul setelah kebakaran berhasil ditemukan. Salah satunya adalah keterbatasan komunikasi. “Bagian yang paling sulit adalah ketika tidak ada sinyal komunikasi di lokasi kebakaran,” ujarnya.
Di area dengan jangkauan telepon atau radio yang lemah, koordinasi antar tim dan pelaporan kondisi lapangan kepada IMT menjadi lebih sulit dilakukan. Ia juga menyoroti tantangan lain yang lebih bersifat manusiawi, yaitu menjaga konsistensi. Meski berbagai jalur deteksi telah tersedia, keterbatasan akses komunikasi di daerah terpencil terkadang menyebabkan laporan dari menara atau patroli terlambat diterima oleh IMT.
Masyarakat dan komunitas di sekitar konsesi juga dapat melaporkan kebakaran melalui telepon maupun grup WhatsApp yang terhubung dengan Masyarakat Peduli Api (MPA). Laporan tersebut kemudian dievaluasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran. Menurut Sihombing, banyak laporan yang diterima justru berasal dari area di luar batas konsesi APP Group.
Meski demikian, risiko kebakaran tidak mengenal batas administrasi. Asap, cuaca, dan api dapat menyebar melintasi berbagai wilayah. Karena itu informasi dari masyarakat sekitar menjadi bagian penting dalam memahami kondisi yang terjadi di bentang alam yang lebih luas. Sebuah peringatan dapat masuk ke sistem melalui berbagai jalur: hotspot yang terdeteksi satelit, asap yang terlihat dari menara atau CCTV, temuan drone maupun patroli RPK, hingga laporan masyarakat.
Begitu informasi yang mengindikasikan adanya asap atau api diterima IMT, tim lapangan akan melakukan verifikasi sambil membawa perlengkapan pemadaman. Jika kebakaran terkonfirmasi, IMT segera mengerahkan personel dan peralatan dari pusat respons terdekat.
Tim terus melaporkan perkembangan situasi selama proses pemadaman berlangsung, mulai dari tahap containment, control, hingga mop-up, sampai api benar-benar padam. Pada akhirnya, kualitas pengelolaan kebakaran sangat ditentukan oleh seberapa sedikit waktu yang terbuang antara munculnya pertanyaan dan pengambilan tindakan. Seiring meningkatnya risiko kebakaran yang diperkirakan menyertai kondisi El Niño pada 2026, fokus APP Group bukan sekadar menambah cara untuk mendeteksi kebakaran. Yang lebih penting adalah memperpendek jarak, baik secara fisik maupun operasional, antara deteksi dan respons.
Tahun ini, APP menambah 34 pos pengendalian akses dan mitigasi di area rawan. Pos-pos tersebut didukung oleh kelompok MPA, para pemimpin desa, serta personel Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di 116 desa, sekitar 404 anggota MPA turut membantu kegiatan pemantauan dan pencegahan kebakaran, sementara personel TNI dan Polri ditempatkan di wilayah berisiko tinggi. “Dengan tambahan pos-pos ini, kami berharap respons terhadap kebakaran dapat dilakukan lebih cepat,” kata Richard.
Pada akhirnya, inti dari “jarak terakhir” sebuah hotspot bukan sekadar kemampuan melihat lebih banyak wilayah. Yang paling penting adalah mempercepat proses dari mendeteksi sesuatu, memahami apa yang sedang terjadi, hingga memastikan orang dan peralatan yang tepat berada di lokasi yang tepat. Satelit memperluas jarak pandang terhadap potensi ancaman. Drone memperluas jangkauan pengamatan menara.@
Rel/fd/timEGINDO.com