Catatan: Fadmin Malau
HARI itu Rabu 7 Oktober 2026, Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten Karo membawa ratusan buyer dari dalam negeri dan dari luar negeri (mancanegara) ke Desa Budaya Desa Dokan Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Desa Budaya Dokan adalah destinasi wisata budaya tradisional yang berjarak sekira 25 menit perjalanan dari kota Kabanjahe. Nama “Dokan” berasal dari ungkapan bahasa Karo “Ndoh kam!” Dimana kalimat “Ndoh kam! Ndoh kam!” memiliki arti “Pergilah jauh! Pergilah kalian yang jauh!” Kemudian kalimat “Ndoh kam! Ndoh kam!” seiring waktu berubah pelafalannya oleh masyarakat Karo menjadi Dokan.
Penduduk awal Desa Dokan mayoritas bermarga Ginting berasal dari Ajinembah yang membentuk perkampungan baru dan Desa Dokan kini menjadi desa yang masih menjaga keaslian sejarah dan peradaban leluhur suku Karo.

Aroma peradaban leluhur suku Karo masih terlihat ketika ASPPI Sumatera Utara (Sumut) membawa ratusan buyer ke desa budaya Desa Dokan Tanah Karo dalam menggelar event Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 yang berlangsung pada 5 hingga 8 Oktober 2026.
Penulis yang lebih dahulu sampai dari rombongan menyempatkan diri melihat suasana Desa Dokan pagi itu. Aktivitas masyarakat berlangsung seperti biasanya. Warung kopi dalam bahasa Karo disebut kede kopi dan parkede atau penjaga warung berktivitas melayani pembelinya, ada kopi tubruk beradu dengan wangi gula aren yang baru matang.
Ada penjual air nira, ada lalulalang warga desa bersiap-siap berangkat ke ladang dengan membawa peralatannya. Di kejauhan terlihat matahari membelah kabut tipis yang merayap turun dari perbukitan Merek. Desa Budaya Dokan, sebuah perkampungan yang bukan sekadar destinasi, melainkan sebuah mesin waktu yang membawa siapa saja kembali ke rahim peradaban awal suku Karo.

Kini Desa Dokan memilih merawat ingatan sebab masih ada tersisa Siwaluh Jabu yang menjadi benteng terakhir menjaga keaslian arsitektur dan falsafah hidup warisan leluhur. Konon usia Siwaluh Jabu 200 hingga 300 Tahun, bangunannya masih terlihat kokoh. Atap ijuknya mulai tebal berbalut lumut, seolah menyimpan jejak waktu yang panjang.
Bangunan Siwaluh Jabu tersusun dari kayu-kayu besar dengan teknik konstruksi tradisional, tanpa menggunakan perekat seperti yang lazim ditemukan pada bangunan modern. Kini tidak banyak lagi bangunan Siwaluh Jabu di Desa Dokan hanya tinggal 5 Siwaluh Jabu lagi dari yang dahulu ada 20 Siwaluh Jabu kata Kepala Desa (Kades) desa Dokan, Kecamatan merek, Sumatra Utara, Martinus Sembiring ketika berbicara dalam jamuan makan siang para peserta event Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara.

Menurut Kepala Desa Dokan, Martinus Sembiring pada leluhur masyarakat telah menyimpan garam dalam wadah khusus yang diletakkan pada bagian atas rumah dan tradisi itu kemudian dikenal luas sebagai Garam Dokan.
Katanya dalam kepercayaan tradisional masyarakat Dokan, garam tersebut diyakini berkaitan dengan perlindungan desa serta menjadi pertanda baik atau buruk bagi masyarakat. Dijelaskan Martinus Sembiring bahwa garam itu disimpan dalam wadah tanah liat tradisional yang disebut tabu-tabu, bagian atas rumah adat Karo. Garam Dokan dipercaya dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit serta untuk melindungi diri. Garam tersebut tidak pernah habis, meskipun telah lama diambil dalam satu upacara adat.
“Garam Dokan tidak pernah habis itu menjadi daya tarik cerita budaya mengenal cara leluhur memahami alam, kehidupan sehari-hari. Kembali tahun 2026 ini akan dilaksanakan upacara adat Garam Dokan pada 30 Oktober 2026 mendatang dan telah didukung oleh Kementerian Kebudayaan,” kata Martinus Sembiring menjelaskan.

ASPPI dan Buyer Jelajahi Siwaluh Jabu
Siwaluh Jabu merupakan cerita yang menarik dimana dalam Siwaluh Jabu dihuni delapan kepala keluarga atau delapan keluarga dalam satu atap. Ada daya tarik yang memukau pandangan mata saat menginjakkan kaki di desa Dokan yakni berdiri kokohnya Siwaluh Jabu. Uniknya, rumah adat itu dibangun tanpa menggunakan paku besi. Mengandalkan sistem pasak kayu dan ikatan tali ijuk, struktur arsitektur kuno ini justru terbukti sangat adaptif dan tahan terhadap guncangan gempa bumi.
Kemudian bila diartikan secara harfiah, Siwaluh Jabu berarti artinya “delapan rumah” atau delapan keluarga. Ketika rombongan peserta event JWB ke-4 ASPPI Sumatera Utara menaiki tangga dan memasuki Siwaluh Jabu. Di dalam ruang besar tanpa sekat, delapan kepala keluarga hidup berdampingan secara harmonis. Mereka berbagi ruang tidur, merawat tungku memasak masing-masing, dan menurunkan ego demi menjaga ketenteraman satu keluarga besar. Di sinilah filosofi musyawarah dan toleransi tertinggi masyarakat Karo dipraktikkan setiap hari, langsung di depan perapian dapur mereka sendiri.
Lalu ada satu detail historis yang sarat haru pada tangga kayu menuju loteng rumah. Kain panjang sengaja diikatkan pada struktur tangga tersebut. Pada masa lampau, ikatan kain menjadi pegangan erat bagi para ibu yang berjuang melahirkan buah hati mereka dengan posisi jongkok secara tradisional.
Kehidupan di Desa Dokan bergerak selaras dengan alam dimana warganya mendapat tanah Karo yang subur. Ketika berjalan menyusuri Desa Dokan masih terlihat pohon alpukat tumbuh subur dan kepulan asap tipis menandai sedang berlangsung proses pembuatan gula aren tradisional serta sesekali melintas aroma khas biji kopi Dokan merebak ke udara.
Desa Dokan tersembunyi dibalik perbukitan dan keautentikan desa Dokan menjadi pusat perhatian dalam ajang Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4. Ratusan pelaku pariwisata internasional dan buyer mancanegara dari Malaysia, Singapura, hingga Thailand datang mengeksplorasi desa Dokan.
Para peserta Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 larut dalam kehangatan salam “Mejuah-juah”, ikut menari dalam balutan kain uis Karo, serta mengagumi pameran produk lokal lewat Community Market Linkage Expo. Uis Karo adalah kain tenun tradisional khas Suku Karo dari Sumatra Utara yang memiliki nilai seni, budaya, dan filosofi tinggi.
Bagi masyarakat Dokan, kedatangan para pelancong luar bukan sekadar urusan memutar roda ekonomi akan tetapi juga panggung pembuktian bahwa identitas budaya kuno memiliki tempat terhormat. Sejalan dengan itu Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara bersama Pemerintah Kabupaten Karo dan ratusan buyer dari dalam negeri dan dari luar negeri melaksanakan Jelajah Wisata Budaya Karo di Desa Budaya Dokan Tanah Karo.
Alasan Desa Budaya Dokan Karo menjadi lokasi jelajahi wisata budaya karena Desa Budaya Dokan di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, menjadi pusat perhatian dunia setelah dipilih sebagai destinasi utama bagi 100 pelaku pariwisata internasional dari Malaysia, Singapura, dan Thailand maka digelar event Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 yang berlangsung pada 5 hingga 8 Oktober 2026.
Para peserta Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 disambut dengan tradisi menghormati tamu dalam adat suku Karo dengan cara melemparkan atau menaburkan beras disebut Njujungi Beras Piher atau sering disebut juga dengan Manabur Beras Piher. Dalam pelaksanaannya, prosesi adat itu memiliki makna mendalam yakni Makna Beras Piher atau kata piher berarti keras, teguh, atau kokoh. Beras piher merupakan simbol keteguhan jiwa, kekuatan tendi atau roh atau jiwa, keselamatan, serta kesehatan bagi orang yang disambut.
Lalu kemudian dilanjutkan dengan memperkenalkan potensi budaya dan wisata Desa Dokan kepada para pelaku industri pariwisata, termasuk buyer dari dalam maupun luar negeri. Turut Wakil Bupati Karo Komando Tarigan, S.P. menyambut para peserta dan tamu JWB ke-4 di Desa Dokan Merek Tanah Karo.
Wakil Bupati Karo mengajak para peserta berinteraksi dengan masyarakat setempat, menikmati kuliner khas daerah, hingga mengagumi arsitektur rumah adat tradisional Siwaluh Jabu. Wakil Bupati Karo, Komando Tarigan, S.P mengapresiasi dan berterimakasih kepada Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) yang telah memilih Kabupaten Karo sebagai lokasi penyelenggaraan Jelajah Wisata Budaya Ke-4.
Menurutnya Desa Dokan bukan hanya sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan ruang hidup kebudayaan Karo karena dapat melihat jejak kehidupan masyarakat, rumah adat, tradisi, kearifan lokal, serta nilai-nilai budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Dinilai Wakil Bupati Karo bahwa pengembangan pariwisata dan kebudayaan tidak dapat berjalan sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi serta sinergi dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, hingga komunitas pelaku wisata seperti Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Sumatera Utara.
Wakil Bupati Karo juga berharap kegiatan yang dilakuakan dapat menjadi momentum untuk membangun jejaring pemasaran pariwisata Desa Dokan serta mendorong penciptaan paket-paket wisata berkualitas yang siap dipasarkan kepada para wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemerintah Kabupaten Karo juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi dan menjadi mitra aktif bagi para pelaku pariwisata guna meningkatkan lama tinggal atau length of stay dan kunjungan wisatawan ke kawasan ekosistem pariwisata Danau Toba.

Sedangkan kepada masyarakat Desa Dokan, pesan disampaikan agar senantiasa menjaga identitas serta kekayaan budaya sebagai fondasi utama pembangunan pariwisata daerah dimana pada Jelajah Wisata Budaya (JWB) ke-4 itu hadir berbagai pejabat dan pemangku kepentingan penting yakni Direktur Pemasaran BPODT,Wahyu Dito Galih Indharto, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara Kementerian Kebudayaan RI, Sukronedi, Konsul Kehormatan Thailand Medan, Mr. Martono Anggusti, Ketua DPD ASPPI Sumatera Utara, Ahmad Fauzi Lubis, Para buyer pariwisata nusantara dan luar negeri, Perwakilan pimpinan BUMN/BUMD pendukung yakni Bank Sumut Cabang Kabanjahe, PT PNM Cabang Kabanjahe, PT Telkomsel Kabanjahe, Forum pelestarian budaya Kabupaten Karo, Jajaran Kepala Perangkat Daerah terkait, Camat Merek, Kepala Desa Dokan, serta para Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat setempat.
Ketua ASPPI DPD Sumut, Achmad Fauzi Lubis mengatakan melalui agenda strategis lintas daerah, pemerintah setempat dan ASPPI Sumut optimistis dapat memperluas pasar pariwisata Sumatera Utara di tingkat internasional sekaligus menciptakan iklim kemitraan investasi yang kondusif di sektor pariwisata Tanah Karo.
ASPPI Sumut optimistis dengan Jelajah Wisata Budaya keempat di Tanah Karo akan memperluas pasar pariwisata Sumatera Utara pada tingkat nasional dan tingkat internasional serta memajukan sektor pariwisata dan industri yang akan meningkat perekonomian rakyat.@
***