Taipei | EGINDO.co – Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa tindakan maritim Tiongkok di lepas pantai timur Taiwan “sangat mengganggu stabilitas” dan hanya memperburuk ketegangan, menyusul laporan Reuters mengenai penampakan pertama kapal milisi Tiongkok di perairan tersebut pada bulan Agustus.
Tiongkok, yang memandang Taiwan sebagai wilayahnya sendiri, telah meningkatkan aktivitas di lepas pantai timur pulau itu sejak bulan Juni melalui patroli rutin penjaga pantai.
Para pejabat Taiwan—yang menolak klaim kedaulatan Beijing—meyakini bahwa Tiongkok sedang berlatih untuk kemungkinan blokade maritim dengan menggunakan kombinasi aset militer, paramiliter, dan sipil.
Taipei menganggap wilayah di lepas pantai timurnya sebagai jalur pasokan yang krusial dari sekutu pada masa perang, seandainya terjadi blokade atau konflik.
Amerika Serikat tetap prihatin dengan aktivitas Tiongkok di sebelah timur Taiwan, ujar juru bicara Departemen Luar Negeri saat menanggapi pertanyaan mengenai penampakan kapal milisi tersebut.
“Tindakan Tiongkok sangat mengganggu stabilitas,” tambah juru bicara itu.
“Dengan menegaskan otoritas di wilayah maritim yang telah dikelola Taiwan secara damai selama lebih dari 70 tahun, Tiongkok hanya memperparah ketegangan dan merusak penyelesaian masalah secara damai yang selama ini mereka klaim sebagai tujuan mereka.”
AS mendesak Beijing untuk menghentikan tekanan terhadap Taiwan dan sebaliknya melakukan “dialog yang bermakna dengan otoritas Taiwan yang terpilih secara demokratis,” tambah juru bicara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Tiongkok tidak segera menanggapi permintaan komentar. Tiongkok tidak mengakui klaim kedaulatan apa pun dari Taiwan, termasuk atas perairan di sekitarnya.
AS merupakan pendukung internasional terpenting bagi Taiwan, meskipun Presiden Donald Trump belum menyetujui paket penjualan senjata baru senilai US$14 miliar untuk pulau tersebut.
Penjaga Pantai Taiwan menyatakan dalam sebuah keterangan mengenai kapal milisi dan kapal-kapal pendampingnya bahwa seluruh aktivitas mereka berlangsung di luar “perairan terbatas”.
Dalam praktik yang sudah ada sejak tahun 1950-an, milisi maritim Tiongkok—yang lebih sering terlihat di titik-titik rawan Laut Tiongkok Selatan—terdiri dari kapal-kapal nelayan yang awaknya menerima pelatihan dan dukungan untuk beroperasi di perairan sengketa, sering kali bersama kapal-kapal penjaga pantai. Pada bulan Juni, Inggris, Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat menyatakan kekhawatiran mengenai aktivitas Tiongkok di lepas pantai timur Taiwan, yang dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan dan kebebasan navigasi.
Sumber : CNA/SL