New York | EGINDO.co – Euro diperkirakan akan mencatat penurunan m ingguan kelima berturut-turut pada hari Jumat; kenaikan awal mata uang ini memudar seiring harga minyak yang kembali naik setelah sempat turun, namun tekanan jual mereda karena pasar obligasi Prancis yang sebelumnya terguncang mulai stabil.
Mata uang zona euro sempat menyentuh level terendah dalam 17 bulan di angka $1,1161 pada hari Senin. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran investor mengenai rekor utang publik Prancis dan sulitnya proses politik untuk memangkas anggaran, yang kontras dengan kondisi ekonomi dan mata uang AS yang tampak kuat.
Indeks dolar, yang mengukur nilai mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang lainnya, naik 0,13 persen menjadi 102,25. Indeks ini mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,3 persen dan berada di jalur untuk mencetak kenaikan mingguan keempat berturut-turut, rekor terpanjang sejak Mei 2025.
Euro terakhir diperdagangkan turun 0,1 persen di level $1,1198, dengan penurunan mingguan sekitar 0,5 persen, bersiap mencatat rekor penurunan mingguan terpanjang terhadap dolar sejak awal tahun 2025.
Premi risiko untuk obligasi pemerintah Prancis dan Italia cenderung menurun secara mingguan setelah sempat melonjak pada akhir September, karena investor menantikan perkembangan baru sebelum menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko fiskal dan politik.
Trump Isyaratkan Tidak Akan Menyerang Iran
Pasar obligasi global sempat tenang pada hari Jumat setelah harga minyak turun. Penurunan ini terjadi menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November, serta adanya pembicaraan produktif dengan Teheran terkait konflik tersebut.
“Saat ini, ada kombinasi berbagai faktor—harga minyak yang lebih tinggi dan masalah di Prancis—sehingga sulit untuk menentukan faktor mana yang paling memengaruhi pergerakan pasar,” ujar Eugene Epstein, kepala perdagangan dan produk terstruktur di Moneycorp yang berbasis di Stamford, Connecticut. “Namun secara praktis, menurut saya hari ini pasar cenderung dalam posisi menunggu (wait-and-see); semua pihak menantikan pernyataan dari berbagai pejabat The Fed, karena terlihat jelas bahwa nilai tukar dolar saat ini sangat sensitif terhadap komentar dari para pejabat tersebut,” ujar Epstein.
Meski demikian, harga minyak mentah sempat bangkit dari level terendahnya setelah UKMTO—lembaga yang berafiliasi dengan Angkatan Laut Inggris—melaporkan bahwa sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di lokasi 13 mil laut di sebelah barat Al Jazeera, Uni Emirat Arab.
Harga minyak mentah AS naik 0,6 persen menjadi $92,04 per barel setelah sempat turun ke level $90,01, sementara minyak mentah Brent naik ke $104,88 per barel—meningkat 0,58 persen hari itu—setelah sempat turun ke $102,33.
Imbal hasil obligasi di seluruh dunia telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir akibat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral serta kekhawatiran mengenai kondisi keuangan pemerintah.
Kebijakan Bank Sentral Menjadi Sorotan
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed dalam pertemuan kebijakan akhir bulan ini masih rendah; pasar memperkirakan peluang sebesar 19,4 persen untuk kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin—menurut data CME FedWatch—meskipun data ekonomi terkini menunjukkan adanya tekanan inflasi yang terus berlanjut. Di sisi lain, investor memperkirakan peluang sebesar 85,8 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan bank sentral bulan Desember.
Pada hari Jumat, survei konsumen dari University of Michigan menunjukkan bahwa sentimen konsumen AS kembali merosot pada awal Oktober, seiring dengan meningkatnya biaya hidup akibat konflik di Timur Tengah yang memperburuk pandangan rumah tangga terhadap kondisi ekonomi.
Sementara banyak pejabat The Fed mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lebih lanjut untuk meredam inflasi, pejabat lainnya menolak perlunya kenaikan segera dan menyarankan agar The Fed bersikap sabar serta fleksibel dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Obligasi pemerintah Prancis berada di bawah tekanan karena para politisi kesulitan mengendalikan defisit anggaran menjelang pemilihan umum tahun 2027 yang diperkirakan akan berlangsung sengit. Keputusan untuk mengadakan pemilihan umum dini di Spanyol pada awal pekan ini juga turut menambah tekanan terhadap mata uang euro. Sterling menguat 0,08 persen menjadi $1,3235, namun berada di jalur penurunan mingguan ketujuh berturut-turut—periode penurunan terpanjang sejak November 2024.
Terhadap yen, dolar menguat 0,25 persen menjadi 158,25. Mata uang Jepang tersebut mencatatkan penurunan mingguan keempat berturut-turut terhadap dolar AS, dengan pelemahan sekitar 0,2 persen sepanjang minggu ini.
Sumber : CNA/SL