Madinah Kota Nabi; Berziarah di Makam Rasulullah, Ada Jendela Tak Pernah Tertutup 1.400 Tahun Depan Makam

Makam Rasulullah Muhammad SAW. (Foto: Fadmin Malau)
Makam Rasulullah Muhammad SAW. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

MADINAH kota nabi dan di kota Madinah Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Tentunya bagi jutaan umat Islam yang datang ke kota Madinah dipastikan ingin berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW di kota Madinah. Untuk itu tidak heran para peziarah memadati Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah.

Dari kejauhan ketika kita atau Anda berada di Masjid Nabawi akan melihat ada kubah hijau menjulang tinggi. Di bawah naungan kubah hijau itu, riuh rendah bisikan doa dan isak tangis tertahan menjadi latar dari sebuah kerinduan kolektif umat manusia kepada kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW.

Ketika kita atau Anda masuk dan berada di bawah naungan kubah hijau itu yang memiliki kemegahan arsitektur modern dengan barisan pilar marmer yang kokoh, ada sebuah detail kecil yang kerap luput dari pandangan sekilas dari para peziarah. Sebuah detail kecil adalah jendela yang tidak pernah tertutup hingga kini selama 1.400 tahun berada di depan makam Nabi Muhammad SAW.

Jutaan umat Islam datang ke kota Madinah dipastikan ingin berziarah ke makam Rasulullah Muhammad SAW. (Foto: Fadmin Malau)

Sebelumnya bagi para peziarah yang berkesempatan hadir di Masjid Nabawi atau khususnya saat berada di area Raudhah atau melintasi bagian depan makam harusnya mengucapkan salam.

Ucapan salam dengan penuh takzim, tenang dan suara lembut: “Assalāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh.”

Menyampaikan salam sahabat, boleh menitipkan atau menyampaikan salam untuk Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab yang dimakamkan berdampingan dengan Rasulullah Muhammad SAW dan harap menjaga adab dengan menghindari berteriak, berbicara terlalu keras, atau berdesak-desakan di depan makam demi menghormati kemuliaan tempat tersebut.

Ketika melintasi koridor keluar dari area makam Nabi Muhammad SAW atau tepatnya berseberangan langsung dengan makam Rasulullah Muhammad SAW terlihat ada sebuah jendela kayu berwarna cokelat tua berukuran sekitar 2 x 1,5 meter.

Jendela yang tidak pernah tertutup hingga kini selama 1.400 tahun berada di depan makam Nabi Muhammad SAW. (Foto: Fadmin Malau)

Jendela itu bingkainya sangat kokoh dan dihiasi tralis besi berornamen kuning emas serta diatasnya ada dua kamera pengawas atau CCTV modern untuk mengawasi setiap gerak para peziarah. Jendela itu selalu terbuka lebar, tidak pernah ditutup. Jendela itu dibuka telah sangat lama yakni lebih dari 1.400 tahun.

Faktanya telah beberapa kali terjadi pergantian khilafah, pemimpin, keruntuhan dinasti hingga kini pada era modernisasi di Arab Saudi, jendela itu tetap terbuka. Faktanya lagi tidak ada satu penguasa yang berkuasa berani menyentuh atau memerintahkan agar daun jendela tersebut ditutup.

Jendela itu tetap terbuka, tidak pernah ditutup memiliki kisah tersendiri. Kisah itu pada tahun 17 Hijriah, masa dimana Islam berkembang pesat dibawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Madinah saat itu menjadi episentrum baru dunia. Konsekuensinya, gelombang manusia yang datang untuk beribadah dan berziarah tidak lagi tertampung oleh luas asli Masjid Nabawi.

Melihat kondisi yang ada, banyaknya manusia yang datang untuk beribadah dan berziarah di Masjid Nabawi sehingga dibutuhkan perluasan wilayah masjid. Ketika rencana perluasan Masjid Nabawi, sang Khalifah Umar bin Khattab harus berpikir cerdas dan bijaksana dimana tepat di sisi selatan makam Nabi Muhammad SAW, berdiri rumah-rumah sederhana milik para Ummul Mukminin yakni istri-istri Nabi, termasuk rumah Sayyidah Hafshah binti Umar yang juga adalah putri kandung Khalifah Umar.

Sang Khalifah Umar bin Khattab memang harus berpikir cerdas dan bijaksana karena tidak bisa bisa serta merta meratakan bangunan bangunan yang ada di sekitr makam Nabi Muhammad SAW. Sedangkan bagi Hafshah binti Umar, rumah yang dibangun dari tanah liat dan pelepah kurma itu bukan sekadar bangunan. Rumah itu adalah ruang suci penuh memori dimana Hafshah menghabiskan sisa hidupnya merawat kenangan bersama Rasulullah Muhammad SAW.

Nah, ketika hendak dilaksanakan perluasan kawasan Masjid Nabawa dan hendak meratakan rumah tersebut, maka Hafshah menangis pilu dan menolak keras penghancuran rumahnya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan tempat yang paling dekat dengan pusara sang suami.

Ketika berada di Masjid Nabawi akan melihat ada kubah hijau menjulang tinggi. (Foto: Fadmin Malau)

Dalam kebingungan dan kebuntuan itu, Abdullah bin Umar, sang adik dari Khalifah Umar bin Khattab mendiskusikannya untuk mencari solusi, sebuah kompromi tercapai. Hafshah bersedia pindah ke rumah baru atau bekas kamar saudaranya, Abdullah yang berbatasan langsung dengan area luar makam, dengan satu syarat mutlak yang kelak dicatat sejarah dengan tinta emas.

“Buatkan aku sebuah jendela di rumah baru ini yang menghadap langsung ke makam Rasulullah MuhammadSAW dan jendela itu tidak boleh ditutup untuk selamanya. Aku ingin angin dan cahaya dari tempat suamiku bersemayam tetap bisa menyentuhku, dan mataku bisa terus menatapnya tanpa sekat,” kata Sayyidah Hafshah binti Umar.

Akhirnya kesepakatan didapat antara Khalifah Umar dan putrinya Sayyidah Hafshah maka itulah yang hingga kini ada jendela yang tidak pernah ditutup hingga kini. Merujuk pada literatur sejarah Islam, bahwa jendela itu dikenal dengan beberapa nama.

Imam As-Suyuthi dalam catatan sejarahnya menyebutnya sebagai “Jendela Umar bin al-Khattab”, sementara sejarawan Ibnu Katsir mengabadikannya dengan nama “Jendela Keluarga Umar”. Namun, bagi para pencinta sejarah, jendela itu disebut sebagai Jendela Sayyidah Hafshah.

Melihat arsitektural, jendela yang tetap terbuka itu menjadi anomali yang indah pada masa modernisasi. Jendela itu tetap dipertahankan di koridor tempat jemaah mengantre untuk keluar setelah mengucapkan salam perpisahan atau salam wada’ kepada Rasulullah Muhammad SAW.

Keberadaan Jendela itu menjadi pengingat visual bahwa sebelum miliaran umat manusia merindukan Nabi Muhammad SAW, bahwa ada seorang wanita yang telah mengabadikan kerinduannya dalam bentuk sepotong jendela yang menolak untuk ditutup.

Tentunya ketika kita atau Anda berdiri di koridor tersebut maka akan menatap makam di sebelah kiri dan Jendela Hafshah itu di sebelah kanan, atmosfer spiritual yang tercipta sangatlah kuat dan kepatuhan pada adab.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Abu Dawud bersabda, “Tidaklah seseorang mengucapkan salam kepadaku, melainkan Allah akan mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya.”

Ketika kita sadar bahwa sang Nabi Muhammad “menjawab” salam maka yang membuat para peziarah untuk mewujudkan etika tertinggi yakni pertama memposisikan suara kita atau Anda sesuai dengan tuntunan Surah Al-Hujurat ayat 2, dilarang keras mengeraskan suara di atas suara Nabi. Ucapkanlah salam dengan nada lirih, takzim, dan penuh penghayatan: “Assalāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh.”

Jamaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan bersama ustad Ahmad Sidiq dengan latarbelakang kubah hijau. (Foto: dok Miqot)

Kemudian untuk menyambung silaturahmi para sahabat maka setelah memberi salam kepada Rasulullah Muhammad SAW lalu geser langkah Anda sekira satu meter ke kanan. Hal itu karena di sana adalah makam Abu Bakar al-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Saat mata kita atau Anda menangkap daun Jendela Hafshah yang terbuka, resapilah makna yang ada dibaliknya. Para peziarah akan terharu dari kisah jendela yang terbuka itu di depan makam Nabi Muhammad SAW.

Lihatlah Jendela yang terbuka itu sebagai petanda pembuktian cinta yang tulus dimana seperti halnya dengan Jendela yang terbuka itu tidak akan pernah lekang oleh waktu. Jendela Hafshah adalah sebuah monumen diam. Namun, jendela itu membuktikan bahwa dalam Islam, sejarah itu harus dijaga, tidak boleh dihancurkan atas nama modernitas sebab mengandung nilai-nilai penghormatan dan cinta yang luhur kepada Rasulullah Muhammad SAW. Subhanallah.@

***

Bersambung Jum’at pekan depan; Madinah Kota Nabi……

Scroll to Top