Jakarta|EGINDO.co BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menaikkan target harga saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menjadi Rp3.300 per saham dari proyeksi sebelumnya. Kenaikan target tersebut didorong oleh revisi naik asumsi harga batu bara kokas (coking coal) yang dinilai berpotensi memperkuat kinerja perseroan.
BRIDS sekaligus mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham ADRO. Dalam riset terbarunya, asumsi harga coking coal untuk 2026–2028 masing-masing dinaikkan menjadi US$230, US$220, dan US$200 per ton, dari sebelumnya hanya US$170 per ton untuk seluruh periode.
Revisi harga tersebut mendorong kenaikan estimasi laba BRIDS masing-masing 4,3% pada 2026, 2,6% pada 2027, dan 2,9% pada 2028.
Analis BRIDS Erindra Krisnawan dan Kafi Ananta Azhari menilai harga premium hard coking coal Australia menguat signifikan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Penguatan tersebut terutama dipicu gangguan pasokan dari China dan Mongolia.
BRIDS memperkirakan harga coking coal masih mendapat dukungan pada kuartal IV/2026 sebelum kembali normal seiring membaiknya pasokan pada 2027.
Logistik ADMR Masih Jadi Tantangan
Di sisi lain, anak usaha ADRO, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), masih menghadapi kendala logistik. BRIDS memperkirakan penjualan ADMR pada kuartal III/2026 hanya sekitar 500.000–700.000 ton akibat kondisi Sungai Barito yang belum sepenuhnya mendukung aktivitas tongkang.
Meski demikian, BRIDS tetap mempertahankan proyeksi penjualan ADMR sepanjang 2026 sebesar 6 juta ton, sedikit di bawah target awal manajemen sebesar 6,3 juta ton.
BRIDS memperkirakan pengiriman ADMR dapat mengejar ketertinggalan pada kuartal IV/2026 apabila kondisi logistik kembali normal. Sebagian besar penjualan yang telah dikontrakkan juga dinilai dapat membantu menjaga pencapaian target tersebut.
Namun, ADMR diperkirakan belum dapat menikmati sepenuhnya lonjakan harga coking coal pada Agustus 2026 karena mekanisme harga jual mengikuti indeks dengan jeda waktu.
Dari sisi valuasi, ADRO diperkirakan diperdagangkan pada 6,4 kali P/E 2027, sekitar 13% lebih rendah dibandingkan perusahaan sejenis. BRIDS menilai valuasi tersebut telah mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap implementasi Kepmen 365/2026.
BRIDS melihat dampak musim hujan terhadap ADMR masih dapat dikelola, sementara pasokan coking coal yang ketat berpotensi menjaga harga tetap kuat.
Meski prospeknya positif, BRIDS mengingatkan dua risiko utama bagi ADRO, yakni implementasi Kepmen 365/2026 yang lebih ketat dari perkiraan serta potensi pelemahan harga batu bara kokas. (Sn)