Jakarta|EGINDO.co Keyakinan konsumen Indonesia kembali melemah pada September 2026. Namun menariknya, di tengah penurunan optimisme ekonomi, masyarakat justru meningkatkan porsi pendapatan untuk konsumsi.
Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 sebesar 118,1, turun dari 118,5 pada Agustus. Jika dibandingkan dengan posisi Januari 2026 yang mencapai 127, IKK September telah merosot 8,9 poin.
Meski menurun, angka IKK masih berada di atas level 100 yang menjadi batas antara zona optimistis dan pesimistis. Artinya, konsumen masih memandang kondisi ekonomi secara relatif positif.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, hasil Survei Konsumen September menunjukkan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.
Pelemahan IKK terutama dipengaruhi oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang turun dari 109,4 menjadi 107,5. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru meningkat dari 127,6 menjadi 128,7.
Dari sisi kelompok pengeluaran, keyakinan menurun pada konsumen dengan pengeluaran Rp1–2 juta, Rp3,1–4 juta, serta di atas Rp5 juta. Sementara itu, kelompok pengeluaran Rp2,1–3 juta dan Rp4,1–5 juta mencatat peningkatan keyakinan.
Berdasarkan usia, penurunan terjadi pada kelompok 31–40 tahun, 41–50 tahun, 51–60 tahun, serta di atas 60 tahun. Sebaliknya, konsumen berusia 20–30 tahun justru semakin optimistis.
Secara spasial, penurunan IKK terbesar terjadi di Semarang, Mataram, dan Ambon. Sementara itu, peningkatan keyakinan konsumen terutama terjadi di Pontianak.
Di tengah melemahnya IKK, perilaku konsumsi masyarakat menunjukkan arah berbeda. Proporsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% menjadi 74,9%.
Pada saat yang sama, porsi pendapatan untuk tabungan turun dari 15,8% menjadi 15,4%, sedangkan alokasi untuk pembayaran cicilan atau utang turun dari 10% menjadi 9,7%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa optimisme konsumen memang melemah, tetapi hasrat belanja masyarakat masih cukup kuat. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2026. (Sn)