Tanpa Hilirisasi, Ekonomi Daerah Terancam: BPS Dorong Teknologi dan Nilai Tambah

Ilustrasi alur industri hilirisasi, dari ekstraksi komoditas sumber daya alam (kiri) menuju pengolahan bernilai tambah tinggi dengan teknologi (tengah dan kanan).
Ilustrasi alur industri hilirisasi, dari ekstraksi komoditas sumber daya alam (kiri) menuju pengolahan bernilai tambah tinggi dengan teknologi (tengah dan kanan).

Jakarta|EGINDO.co Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan bahwa perekonomian daerah yang mengandalkan komoditas sumber daya alam mentah tanpa hilirisasi dan teknologi tidak akan berkelanjutan dalam jangka panjang. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan, minimnya penciptaan nilai tambah telah membuat pangsa ekspor komoditas unggulan Indonesia merosot tajam secara global dibanding era kolonial, seperti karet yang kini tinggal 2,4%, gula 0,75%, dan teh 0,67%.

Dalam acara Mata Lokal Fest 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026), Amalia menegaskan pentingnya mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah tinggi. Urgensi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi nasional semester I/2026 yang mencapai 5,45%, di mana 17 dari 38 provinsi tumbuh di atas rata-rata nasional. Provinsi Maluku Utara dan Nusa Tenggara Barat mencatatkan pertumbuhan tertinggi masing-masing 17% dan 10,42%, yang didorong kuat oleh hilirisasi sektor pertambangan.

Namun, BPS menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi dan nilai tambah tidak harus selalu bertumpu pada sektor tambang. Sektor pertanian dan peternakan yang didukung inovasi teknologi terbukti mampu mengerek ekonomi daerah secara signifikan. Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) semester I/2026, sebanyak 99 dari 514 kabupaten/kota berhasil tumbuh di atas 6%.

  • Kabupaten Ngawi (Jawa Timur): Tumbuh 8,14% berkat pertanian ramah lingkungan berkelanjutan seluas 35.000 hektare, penerapan smart farming berteknologi drone, dan budidaya melon premium di rumah kaca.

  • Kabupaten Sidrap (Sulawesi Selatan): Tumbuh 6,85% melalui optimalisasi perkebunan porang, penarikan investor, serta modernisasi peternakan ayam petelur yang menggunakan teknologi pengatur udara (AC) asal Jerman dan standar sterilisasi tinggi.

Sebaliknya, BPS menyoroti wilayah Sumatra yang masih memiliki pekerjaan rumah besar. Baru 9 kabupaten/kota di Sumatra yang mampu tumbuh di atas 6%, tertinggal dari Jawa (39 kabupaten/kota) dan Sulawesi (29 kabupaten/kota).

BPS menilai saatnya Indonesia naik kelas dengan melipatgandakan nilai tambah komoditas perkebunan. Sebagai contoh, pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng dapat menaikkan nilai tambah 4 hingga 6 kali lipat, biji kopi menjadi kopi bubuk naik 2-3 kali lipat, serta kelapa utuh menjadi minyak kelapa naik 2-5 kali lipat. Dengan inovasi dan teknologi, daerah memiliki peluang besar untuk mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. (Sn)

Scroll to Top