Jakarta|EGINDO.co Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, naik 0,5 poin persentase dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8%. Proyeksi terbaru tersebut tercantum dalam laporan East Asia & Pacific Economic Update (EAP REU) edisi Oktober 2026 yang dirilis pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Kenaikan proyeksi didorong oleh dampak kenaikan harga energi yang dinilai lebih ringan dari perkiraan sebelumnya. Selain itu, pertumbuhan ekonomi turut ditopang peningkatan program prioritas pemerintah, investasi yang terhubung dengan negara, serta besarnya subsidi energi.
Bank Dunia mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,4% pada paruh pertama 2026, meningkat dari 5,1% sepanjang 2025. Pertumbuhan tersebut menjadi rata-rata kinerja dua kuartal terkuat sejak 2022, terutama didorong oleh menguatnya konsumsi masyarakat dan peningkatan belanja pemerintah.
Momentum Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan program makan bergizi gratis turut mendorong belanja pemerintah lebih awal dalam siklus fiskal.
Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa aktivitas ekonomi domestik mulai melambat setelah periode tersebut. PMI manufaktur turun menjadi 49,3 pada Agustus, sementara tingkat kepercayaan konsumen berada di 116,8 pada Juli 2026.
Tekanan juga datang dari pelebaran defisit yang meningkatkan perhatian pasar terhadap kondisi fiskal dan peringkat utang Indonesia. Arus modal keluar tercatat sekitar 0,2% dari PDB pada kuartal I/2026, sementara kekhawatiran terkait status Indonesia di indeks saham global sempat menekan rupiah dan IHSG.
Pemerintah dan Bank Indonesia kemudian merespons melalui intervensi pasar serta sejumlah reformasi sektor keuangan. Suku bunga acuan juga dinaikkan secara kumulatif 100 basis poin pada Mei dan Juni. Kebijakan mempertahankan subsidi bahan bakar turut membantu meredam tekanan inflasi, yang turun dari 4,8% pada Februari menjadi 3,4% pada Juli 2026.
Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 1,5% dari PDB pada 2026, sementara inflasi diproyeksikan tetap berada di sekitar batas atas sasaran 2,5% ± 1%. (Sn)