Porlak: Akar yang Menjahit Danau Toba

Dilarang membakar hutan terdapat di kawasan Danau Toba, terlihat plang larangan terpampang di tepi Danau Toba Sipinsur Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. (Foto: Fadmin Malau)
Dilarang membakar hutan di kawasan Danau Toba, plang larangan terpampang di tepi Danau Toba Sipinsur Kabupaten Humbang Hasundutan (Foto: Fadmin Malau)

Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang

DANAU TOBA tidak hanya perlu dilihat dari permukaannya. Kehidupan danau berkaitan dengan bentang alam di sekelilingnya: lereng, tanah, air, vegetasi, dan manusia yang mengelolanya. Karena itu, mencintai Danau Toba tidak cukup dengan menikmati keindahannya. Cinta harus menemukan bentuk dalam tindakan.

Dari kesadaran itu, pada 2016 saya memulai sebuah ikhtiar di Sigulatti, kawasan Pusat Informasi Toba Caldera UNESCO Global Geopark. Saya menyebutnya Porlak Etnobotani Batak.

Gagasannya sederhana. Setiap tokoh yang berkunjung—tokoh adat, tokoh agama, pemerintahan, pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya—saya siapkan tanaman khas dan bernilai etnobotani untuk ditanam. Harapannya, setiap orang yang datang ke Danau Toba tidak hanya membawa pulang kenangan, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang hidup.

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Di Sigulatti, gagasan itu kemudian meninggalkan jejak dalam bentuk pohon. Ibu Iriana Joko Widodo bersama para Ibu Menteri menanam Hariara. Ny. Tri Tito Karnavian turut meninggalkan jejak penanaman dalam kunjungannya ke Sigulatti; dalam catatan Porlak Etnobotani Batak, Sampinur Tali menjadi bagian dari jejak tersebut. Nurhajizah Marpaung menanam Pinus Tapanuli, sedangkan Paulus Waterpauw menanam Beringin. Luhut Binsar Pandjaitan meninggalkan jejak melalui tanaman Macadamia, sementara tokoh-tokoh Tatea Bulan menanam Kemenyan.

Bagi saya, pohon-pohon itu bukan sekadar tanaman. Ia menjadi ingatan yang hidup. Orang datang dan pergi, tetapi pohon tetap tinggal, tumbuh, dan menjadi bagian dari lanskap.

Dari Sigulatti, gagasan porlak berkembang ke kawasan yang lebih luas: Sibelle, Lereng Pusuk Buhit Parombunan, dan Lombang Nabagas. Ketiganya memperlihatkan hubungan yang berbeda antara manusia, lereng, dan danau.

Di Sibelle, aren dikembangkan karena memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi. Nira dapat dimanfaatkan sebagai sumber penghidupan masyarakat. Di Lereng Pusuk Buhit Parombunan, aren ditanam bersama Hariara dan Beringin untuk memperkaya tutupan vegetasi kawasan lereng. Di Lombang Nabagas, aren dikembangkan bersama tanaman buah dan jenis pohon lainnya.

Dari pengalaman itu saya semakin memahami satu prinsip: menjaga Danau Toba tidak cukup dimulai dari danaunya. Ia harus dimulai dari tanah yang menerima hujan, lereng yang menahan air, dan masyarakat yang merawatnya.

Gagasan itu kemudian bergerak menuju Sitatar Palippi, wilayah ulayat Toga Sinaga, dengan penanaman dalam skala yang lebih luas. Namun semakin besar gerakan, semakin besar pula kebutuhan akan bibit. Karena itu, Pusat Pembibitan Pohon Etnobotani di Desa Batu Jagar untuk 2026 dirancang sebagai bagian penting dari keberlanjutan porlak. Tempat ini diharapkan menjadi ruang untuk memperbanyak tanaman, menjaga sumber benih, dan meneruskan pengetahuan tentang tumbuhan yang memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat Batak.

Sementara itu, di sekitar rumah tempat saya tinggal, lahan sekitar satu hektar telah dikembangkan menjadi porlak dengan Ingol, Aren, Bittatar, Jabi-jabi, Cengkeh, Jabon, Mangga Samosir, Kemiri, Nangka, dan Durian. Dari halaman rumah sampai bentang lanskap, prinsipnya tetap sama: menanam, merawat, dan mewariskan.

Porlak bukan jawaban tunggal atas persoalan Danau Toba. Ia adalah bagian dari ikhtiar pemulihan hulu yang mempertemukan ekologi, ekonomi masyarakat, pengetahuan lokal, dan kebudayaan. Sebab akar bekerja dalam diam. Ia menahan tanah, membantu menjaga air, dan memberi ruang bagi kehidupan untuk tumbuh.

Mungkin karena itu, mencintai Danau Toba bukan hanya menjaga danaunya. Kita harus menghidupkan hulunya. Danau membutuhkan hulu yang hidup. Horas. Mari Menanam!

 ***

Penulis adalah Penggagas Porlak Etnobotani Batak, Pegiat Lingkungan dan Budaya, bermukim di lereng Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula, Samosir

 

Scroll to Top