Madinah Kota Nabi; Dulu Yatsrib yang Kelam, Kini Madinah Jadi Kota Modren Bercahaya


Matahari pagi bersinar, suasana kota Madinah bergairah. Aktivitas warga berjalan tenang, tak tergesa-gesa. (Foto: Fadmin Malau)
Matahari pagi bersinar, suasana kota Madinah bergairah. Aktivitas warga berjalan tenang, tak tergesa-gesa. (Foto: Fadmin Malau)

Catatan: Fadmin Malau

MATAHARI pagi bersinar, suasana kota Madinah bergairah. Aktivitas warga berjalan tenang, tak tergesa-gesa. Buktinya kendaraan di jalanan berjalan perlahan, jalanan mulus hanya dilalui mobil tanpa sepeda motor.

Madinah kota nabi yang damai, tidak kenal kemacetan lalulintas, tak terdengar kebisingan deru mesin dan bunyi kelekson mobil sebab mobil berjalan perlahan seakan tidak ada yang mau diburu. Buktinya, para pejalan kaki tidak ragu menyeberang jalan karena mobil berjalan perlahan dan berhenti ketika pejalan kaki menyeberangi jalan.

Ketika matahari terbenam, kota Madinah tetap terang sebab lampu penerangan jalan cukup banyak menerangi dan gedung-gedung, hotel, perumahan memiliki lampu yang banyak bersinar sehingga yang namanya gelap tidak ada.

Itulah suasana di kota Madinah kini. Namun, beberapa abad yang lalu atau 1488 tahun yang silam matahari tergelincir di ufuk barat jajaran bukit batu Hejaz, menyisakan semburat jingga yang perlahan tenggelam ditelan malam.

Ya, berabad-abad lalu, di tanah oase yang subur itu ketika malam bukanlah waktu untuk beristirahat dengan tenang. Suara gesekan pedang, ringkik kuda perang, dan ratapan kehilangan adalah melodi harian yang mencengkeram sebuah kota bernama Yatsrib yang kini bernama Madinah.

Madinah, kini kota modern dengan sarana pusat perbelanjaan dan nyaman di dalam mall terdapat taman pohon kurma. (Foto: Fadmin Malau)

Yatsrib kala itu adalah lambang luka yang menganga. Di balik rimbunnya kebun-kebun kurma dan melimpahnya sumber air, kota Yatsrib menyimpan kutukan konflik menahun. Dua suku besar Arab, Aus dan Khazraj, terjebak dalam lingkaran setan dendam antargenerasi yang seolah tidak memiliki ujung.

Bukan itu saja, kala itu wabah malaria mematikan kerap mengintai, merenggut nyawa siapa saja yang singgah, hingga kota itu menyandang reputasi sebagai tempat yang membawa kerusakan dan kesakitan.

Rasulullah Muhammad SAW berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Mekkah atau bahkan lebih dari itu. Pindahkanlah penyakit demamnya ke daerah Juhfah.” (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).

Yatsrib adalah kota yang hidup dalam kegelapan emosional dan sosial penduduknya. Namun, garis takdir kota Yatsrib berubah total pada musim gugur pada tahun 622 M atau tahun 1 Hijriah.

Muhammad bin Abdullah atau Nabi Muhammad SAW datang sebagai imigran yang membawa sekeranjang kedamaian. Kehadirannya disambut oleh gemuruh selawat dan tangis haru penduduk setempat yang telah lelah berkonflik.

Nabi Muhammad SAW menyembuhkan identitas kota Yatsrib dimana melarang penduduknya menyebut tempat itu dengan nama Yatsrib. Nama kota Yatsrib ditanggalkan seperti pakaian kotor yang using dan menggantinya dengan Al-Madinah.

Secara harfiah, Madinah berarti “kota”. Namun di tangan Nabi Muhammad SAW, kata itu menjelma menjadi simbol peradaban yang tinggi, keteraturan sosial, dan hukum yang adil. Nabi Muhammad SAW menjulukinya Thabah atau Thaybah yang berarti tanah yang baik, suci, dan penuh kebaikan.

Lalu kegelapan konflik perlahan memudar, berganti dengan cahaya iman dan persaudaraan. Sejak saat itulah dunia mengenalnya sebagai Al-Madinah Al-Munawwarah, Kota yang Bercahaya, kota nabi.

Kota Madinah, kotanya nabi memanjakan para pejalan kaki dengan trotoar yang lebar dan bersih serta tanaman di tepi jalan. (Foto: Fadmin Malau)

Dalam perjalanan waktu, terjadi transformasi dimana Madinah bukan sekadar perubahan nama di atas secarik peta sejarah. Namun, kota madinah menjadi mukjizat sosial terbesar abad ke-7 pada waktu itu. Suku Aus dan Khazraj yang sebelumnya saling menghunuskan pedang, tiba-tiba duduk melingkar dalam satu majelis, menangis bersama, dan berikrar menjadi saudara di bawah nama kaum Ansar atau Sang Penolong.

Kemudian Nabi Muhammad SAW merajut sebuah mahakarya hukum yang melampaui zamannya yakni Piagam Madinah atau Constitution of Medina. Dunia mencatat buat pertama sekali dalam sejarah dunia ada piagam.

Selanjutnya di atas lembaran piagam itu untuk pertama kalinya dalam sejarah Arab, keberagaman diakui dan dilindungi. Kaum Muslimin, warga Yahudi, dan suku-suku pagan setempat diikat dalam satu kesepakatan yakni mereka adalah satu bangsa atau umma yang wajib saling membela jika kota mereka diserang. Tidak ada lagi hukum rimba antar suku akan tetapi yang ada adalah keadilan kolektif.

Ada sebuah bangunan di pusat kota, bangunan sederhana berdinding tanah liat dan beratap pelepah kurma didirikan, itulah Masjid Nabawi. Masjid yang bukan sekadar tempat bersujud, melainkan jantung dari seluruh aktivitas peradaban baru yakni tempat bermusyawarah, posko bantuan sosial, hingga ruang diplomasi politik.

Akhirnya Nabi Muhammad SAW memilih untuk menetap di Madinah hingga embusan napas terakhirnya pada tahun 632 M. Meskipun Mekkah telah ditaklukkan dan dibersihkan dari berhala, Nabi Muhammad SAW tidak pernah kembali untuk tinggal di kota kelahirannya karena memilih berbaring selamanya di tanah Madinah, di samping masjid yang beliau bangun dengan tangannya sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda yang artinya, “Barangsiapa diantara kalian yang mampu untuk wafat di Madinah, maka wafatlah di sana. Karena sesungguhnya aku akan memberi syafaat bagi siapa saja yang wafat di dalamnya.” (Hadist Riwayat Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani).

Madinah, aman dan nyaman bagi penghuninya, meski berada di gurun tetapi rindang pepohonan membuat sejuk. (Foto: Fadmin Malau)

Nah, kisah itu telah ribuan tahun berlalu. Kini, Madinah telah bersolek menjadi kota metropolitan modern dengan arsitektur megah. Namun, jika kita atau Anda berjalan di pelataran Masjid Nabawi di bawah payung-payung raksasanya yang mekar perlahan, atau mencium aroma minyak wangi mawar yang bercampur dengan embusan angin gurun, Anda akan sadar bahwa jiwa kota ini tidak pernah berubah.

Artinya, Madinah tetap menjadi kota yang menyembuhkan emosional para peziarahnya. Madinah tetap menjadi saksi bisu, bagaimana sebuah tempat yang dulunya dikutuk oleh kebencian dan penyakit, bisa diubah oleh ketulusan seorang manusia menjadi kota yang paling dirindukan oleh jutaan jiwa di seluruh dunia.

Subhannallah. Dulu dikutuk, kini paling dirindukan oleh jutaan jiwa manusia di seluruh dunia. Madinah bukan sekadar kota geografi akan tetapi kota dengan monumen hidup tentang bagaimana perdamaian seharusnya dibangun.

Tepatlah Madinah kota Nabi Muhammad SAW. Dulu Madinah bernama Yatsrib yang kelam, Kini kota Madinah menjadi kota modren bercahaya yang membuat bagi semua orang yang ada di kota Madinah merasa aman dan nyaman.@

***

Bersambung Jum’at pekan depan; Madinah Kota Nabi……

Scroll to Top