Kuala Lumpur | EGINDO.co – Gas Malaysia menargetkan untuk mengambil keputusan investasi final terkait rencana pembangunan terminal regasifikasi pertamanya pada paruh kedua tahun depan, dengan fasilitas tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2030, menurut pernyataan CEO perusahaan.
Terminal yang diusulkan tersebut—yang pertama kali diumumkan pada bulan Maret—sedang dikembangkan bersama dengan Tokyo Gas dari Jepang dan grup VTTI asal Belanda, dengan perkiraan biaya antara 2 miliar hingga 3 miliar ringgit (490 juta hingga 735 juta dolar AS).
Rencananya akan dibangun di distrik Yan, negara bagian Kedah di wilayah utara, fasilitas ini akan menjadi sarana impor gas alam cair (LNG) pertama di Semenanjung Malaysia yang tidak dibangun oleh perusahaan energi negara, Petronas.
Petronas saat ini mengoperasikan dua terminal regasifikasi di wilayah selatan semenanjung, dan sedang mengembangkan terminal ketiga di negara bagian Perak di wilayah barat. Perusahaan milik negara bagian Sarawak, Petros, baru-baru ini juga mengumumkan rencana pembangunan terminal impor LNG di Sarawak bersama perusahaan Norwegia, Höegh Evi.
CEO Gas Malaysia, Azli Mohamed, dalam sebuah wawancara dengan Reuters mengatakan bahwa fasilitas perusahaannya bertujuan untuk mengisi celah dalam distribusi gas di wilayah utara Malaysia.
Malaysia, yang saat ini merupakan eksportir LNG terbesar kelima di dunia, diperkirakan akan mengalami peningkatan permintaan listrik berbahan bakar gas. Peningkatan ini didorong oleh pesatnya pertumbuhan pusat data dan ekspansi ekonomi yang lebih luas, serta rencana penghentian bertahap pembangkit listrik tenaga batu bara pada tahun 2044.
Azli menepis kekhawatiran mengenai potensi kelebihan kapasitas di wilayah tersebut, dengan merujuk pada rencana Malaysia untuk menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga gas sebesar 9 gigawatt pada tahun 2032.
“Jika kita menghitungnya, jelas terdapat kebutuhan dan permintaan yang kuat untuk mengimpor LNG melalui berbagai terminal yang berbeda, dan menurut saya kami merupakan bagian dari perhitungan tersebut,” ujar Azli.
Proyek yang digarap oleh Gas Malaysia—satu-satunya pemasok gas alam melalui jaringan pipa di Semenanjung Malaysia—ini diperkirakan mampu menghasilkan hingga 6 juta ton per tahun. Untuk saat ini, perusahaan berencana memfokuskan diri pada impor LNG guna memperkuat ketahanan energi di Semenanjung Malaysia, namun tidak menutup kemungkinan adanya ekspor gas melalui pipa ke negara-negara tetangga seperti Thailand di masa mendatang, ujar Azli.
Ia juga menyoroti adanya ekspektasi mengenai pasar gas yang lebih liberal, menyusul akan berakhirnya perjanjian yang mengatur pasokan dan penetapan harga antara Petronas dan sektor pembangkit listrik pada tahun depan.
Liberalisasi pasar akan menjadi langkah kunci bagi Malaysia untuk pada akhirnya menjadi importir neto LNG—sebuah kondisi yang mungkin tercapai dalam kurun waktu 10 hingga 15 tahun atau bahkan lebih cepat, kata Azli.
Sebagai fasilitas impor LNG pertama di negara tersebut yang beroperasi berdasarkan mekanisme pasar, terminal ini akan memberikan opsi bagi Gas Malaysia—yang saat ini memperoleh pasokan gas dari Petronas—untuk membeli gas dari pemasok lain, tambahnya.
Menurut data badan statistik pemerintah, Malaysia mengimpor 2,42 juta metrik ton LNG dan mengekspor 27,03 juta metrik ton pada tahun 2025.
Kebijakan penetapan harga untuk sektor pembangkit listrik setelah tahun 2028 akan menjadi faktor krusial bagi Gas Malaysia.
Saat ini, Malaysia memberikan subsidi atas harga jual gas ke sektor pembangkit listrik, sementara industri lainnya membayar dengan harga pasar.
“Kebijakan di masa mendatang… akan berdampak pada kemampuan kami untuk bersaing di sepanjang rantai nilai,” ujar Azli.
Sumber : CNA/SL