Sektor Kesehatan Indonesia: Dari Pos Biaya Menjadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi Infografis transformasi sektor kesehatan Indonesia dari pos biaya menjadi motor pertumbuhan ekonomi.
Ilustrasi Infografis transformasi sektor kesehatan Indonesia dari pos biaya menjadi motor pertumbuhan ekonomi.

Jakarta|EGINDO.co Sektor kesehatan kini selayaknya dipandang sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi, alih-alih sekadar pos pengeluaran. Potensi besar ini mengemuka dalam episode siniar (podcast) Peer to Peers by Permata Bank yang tayang pada Selasa (22/9/2026). Diskusi ini dipandu oleh Chief Economist Permata Bank sekaligus Head of Permata Institute for Economic Research (PIER), Josua Pardede, dengan menghadirkan narasumber Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang Kesehatan Kadin Indonesia, David Utama.

Pertumbuhan Konsisten di Atas PDB Nasional

Josua Pardede memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh lebih tinggi dibanding produk domestik bruto (PDB) nasional pada 12 dari 14 tahun terakhir (periode 2012–2025). Pengecualian hanya terjadi pada 2022 dan 2023 akibat normalisasi aktivitas pascapandemi.

Setelah fase tersebut, sektor ini kembali melaju kencang dengan pertumbuhan sebesar 8,11% pada 2024 dan 5,59% pada 2025, mengungguli pertumbuhan ekonomi nasional yang masing-masing berada di level 5,03% dan 5,11%. Kinerja positif ini turut tercermin dari pendapatan rumah sakit di bursa yang tumbuh solid serta margin operasional yang kembali pulih.

Multiplier Effect dan Ruang Investasi yang Luas

Potensi sektor kesehatan juga diperkuat oleh temuan white paper kolaborasi Kadin Indonesia dan Kementerian Kesehatan bertajuk Health is the New Wealth. Dokumen tersebut mencatat total belanja kesehatan Indonesia mencapai Rp614,5 triliun (2,94% PDB) pada 2023. Menariknya, setiap rupiah yang diinvestasikan pada sektor ini diestimasikan mampu menghasilkan PDB hingga 3,2 kali lipat serta menciptakan 3,5 juta hingga 4 juta lapangan kerja langsung baru hingga 2030.

Kendati demikian, dari sisi belanja kesehatan per kapita, Indonesia masih tertinggal. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023 menunjukkan belanja kesehatan per kapita Indonesia baru berada di angka US$132. Angka ini jauh di bawah Thailand (US$327), Malaysia (US$450), dan Singapura (hampir US$3.900), yang sekaligus menandakan masih luasnya ruang investasi di tanah air. Selain itu,analisis Permata Bank mencatat pergeseran perilaku konsumen: porsi layanan preventif seperti medical check-up, imunisasi, hingga vitamin meningkat dari sekitar 15% menjadi 17% sepanjang 2019–2025.

Transformasi Layanan dan Tantangan Devisa Rp170 Triliun

Menanggapi dinamika tersebut, David Utama menilai Indonesia tengah berada di tengah transformasi besar sistem kesehatan, dengan fondasi utama berupa akses, kualitas, dan keterjangkauan. Pemerintah di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dinilai telah memahami tiga pilar kunci ini.

Namun, tantangan besar berikutnya adalah kualitas layanan dan kepercayaan publik. David mengungkapkan bahwa Indonesia selama ini kehilangan devisa sekitar Rp170 triliun karena banyaknya masyarakat yang memilih berobat ke luar negeri. Oleh karena itu, fokus utamanya adalah mengembalikan kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan domestik.

Pembenahan ini harus berjalan seiring dengan penyediaan tenaga medis. Berdasarkan white paper Kadin, Indonesia masih membutuhkan sekitar 34.000 dokter untuk menutup kesenjangan tenaga spesialis. Pembahasan mendalam mengenai strategi penguatan kualitas layanan kesehatan dan tenaga medis ini dapat disaksikan selengkapnya melalui episode Peer to Peers by Permata Bank. (Sn)

Scroll to Top