Catatan: Fadmin Malau
KITA atau Anda mungkin pernah mengeluh saat hujan, karena hujan menghalangi hajat yang dilakukan, dalam perjalanan atau melakukan pesta. Hujan juga mungkin pernah membuat Anda merasa kesal sebab jemuran yang tak kunjung kering, jalanan mendadak macet atau rencana bepergian terpaksa batal.
Bisa jadi hampir semua kita pernah mengalaminya. Namun, kita lupa bahwa dibelahan bumi lain atau pada garis waktu yang berbeda butiran air dari langit adalah sebuah kemewahan yang dikejar lewat doa-doa penuh air mata. Bisa jadi kita atau Anda juga pernah mengalami kekeringan, panas yang terik sehingga berharap hujan turun ke bumi.
Pernahkah kita atau Anda dalam hidup meminta cuaca panas, matahari terus bersinar terang dengan panasnya? Jawaban yang jujur pasti tidak pernah meminta cuaca panas, meminta kemarau panjang. Namun, ketika hujan turun ke bumi kita atau Anda juga pernah mengeluh dan hebatnya kini banjir yang melanda selalu yang disalahkan hujan. Para pejabat acapkali mengatakan akibat banjir yang melanda satu daerah disebabkan hujan dengan intensitas tinggi.
Hujan bukan penyebab banjir, penyebab banjir itu karena ekosistem alam sudah rusak, hutan sudah banyak yang hilang, pohonnya ditebang maka terjadi longsor dan banjir bandang. Hujan bukan penyebab banjir, hujan itu rahmat.

Hujan itu rahmat bisa disaksikan jika Anda mengunjungi Madinah kota Nabi Muhammad SAW, melangkahlah sekitar 300 meter ke arah barat daya dari pelataran Masjid Nabawi akan menemukan bangunan klasik berpahat batu basal hitam eksotis dengan kubah-kubah kecil yang menawan. Bangunan itu bernama Masjid Ghamamah, sebuah monumen abadi tentang hujan itu adalah rahmat.
Untuk memahami mengapa Masjid Ghamamah begitu istimewa, kita harus memutar waktu kembali pada 1448 tahun lalu kala itu, Masjid Ghamamah adalah area berupa tanah lapang luas bernama Al-Musalla.
Suatu ketika, Madinah dihantam kemarau panjang yang luar biasa ekstrem. Matahari membakar tanpa ampun, sumur-sumur mengering hingga ke dasarnya dan tanaman yang menjadi sumber kehidupan penduduk mati perlahan. Dalam kondisi kritis itu para sahabat menemui Nabi Muhammad SAW, mereka tidak mengeluh tentang cuaca, melainkan memohon agar Rasulullah Muhammad SAW menjadi perantara untuk mengetuk pintu langit.

Kemudian Rasulullah Muhammad SAW mengumpulkan penduduk Madinah di tanah lapang bernama Al-Musalla untuk melaksanakan Salat Istisqa atau salat memohon hujan. Kala itu dibawah sengatan terik matahari yang membakar kulit, Rasulullah Muhammad SAW membalikkan selendangnya, menghadap kiblat, lalu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke langit dan berdoa dengan ketulusan yang begitu dahsyat.
Kala itu belum selesai Nabi Muhammad SAW berdoa, sebuah keajaiban visual terjadi di langit Madinah. Gumpalan awan tebal yang pekat atau dalam bahasa Arab disebut Ghamamah tiba-tiba datang bergulung, memayungi Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat dari sengatan matahari. Tidak butuh waktu lama, awan tersebut menumpahkan hujan yang sangat lebat. Air hujan hari itu disambut dengan tangis haru dan rasa syukur seluruh penduduk Madinah.
Tanah lapang pembawa berkah pada abad ke-7 masehi, dimana di area tanah lapang itu kini berdiri Masjid Ghamamah. Dahulu di tanah lapang luas pinggiran Madinah yang disebut Al-Musalla itu sering digunakan oleh Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat untuk menggelar ibadah-ibadah besar yang melibatkan banyak massa.
Ya, di Al-Musalla itu untuk pertama kalinya Rasulullah Muhammad SAW memimpin pelaksanaan Salat Idul Fitri dan Idul Adha berjemaah dan di lokasi itu juga Rasulullah Muhammad SAW melakukan salat gaib untuk Raja Najasyi, penguasa Abisinia atau Ethiopia yang wafat jauh di negerinya akan telah beragama Islam.
Untuk mengabadikan momen sacral ketika langit “tunduk” memberi payung awan dan rahmat-Nya, sebuah masjid dibangun di atas tanah lapang tersebut pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Nah, itulah bangunan yang berdiri anggun saat ini dengan nuansa batu hitam yang estetik merupakan hasil pemugaran besar dari era Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di bawah Sultan Abdul Majid, dan terus dirawat dengan sangat detail oleh pemerintah Arab Saudi hingga sekarang.
Untuk menghormati dan mengabadikan tempat penuh berkah tersebut, sebuah masjid fisik pertama kali dibangun pada masa pemerintahan Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz (Dinasti Umayyah) antara tahun 86 hingga 93 Hijriah. Seiring berjalannya waktu, masjid terus dirawat dan mengalami beberapa kali renovasi.
Adapun bentuk arsitektur indah yang bisa kita saksikan saat ini adalah hasil pemugaran besar-besaran pada era Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) di bawah kepemimpinan Sultan Abdul Majid, yang kemudian tetap dipelihara dengan sangat baik oleh pemerintah Arab Saudi modern hingga saat ini.

Kini, meskipun tidak digunakan secara masif untuk salat lima waktu karena letaknya yang sangat dekat dengan Masjid Nabawi, Masjid Ghamamah tetap berdiri kokoh sebagai simbol sejarah spiritual yang mendalam. Ia menjadi pengingat bagi setiap peziarah bahwa tidak ada doa yang mustahil dikabulkan jika dipanjatkan dengan keikhlasan yang penuh.
Nah bagi kita atau Anda ketika langit mendung dan hujan mulai turun membasahi bumi, alih-alih mengeluh dan merutuki keadaan, ingatlah kisah di Masjid Ghamamah. Di tempat itulah, air yang jatuh dari langit pernah menjadi sebuah mukjizat yang paling dinantikan dan disyukuri sepanjang sejarah Islam.
Jadi, saat rintik hujan kembali membasahi jendela rumah Anda hari ini, tersenyumlah. Karena apa yang terkadang kita anggap sebagai “gangguan” adalah jawaban dari doa-doa yang pernah dipanjatkan dengan sangat hebat di masa lalu.@
***
Bersambung Sabtu; Madinah Kota Nabi……