Rantai Pasok Global Bergejolak, BI Ungkap Alasan Rupiah Tertekan Sentimen Pasar

Ilustrasi transmisi tekanan global terhadap nilai tukar Rupiah
Ilustrasi transmisi tekanan global terhadap nilai tukar Rupiah

Jakarta|EGINDO.co Tekanan yang mendera nilai tukar rupiah dalam sebulan terakhir dinilai lebih banyak digerakkan oleh transmisi sentimen dan persepsi global, alih-alih mencerminkan kondisi fundamental ekonomi domestik.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,42% dalam kurun waktu satu bulan. Mata uang Garuda melemah dari posisi Rp17.746 per dolar AS pada 31 Agustus 2026 menjadi Rp17.998 per dolar AS pada penutupan perdagangan 29 September 2026.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa pergerakan mata uang merupakan hasil persilangan antara faktor global dan domestik melalui jalur sentimen serta fundamental.

“Jalur terjadinya pelemahan nilai tukar itu tidak semata-mata hanya supply dan demand—karena kebutuhan. Tapi ada jalur harga, persepsi, yang juga bekerja,” ujar Erwin dalam Taklimat Media BI di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Efek Domino Konflik Geopolitik hingga Kebijakan The Fed

Erwin mengilustrasikan bagaimana ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz sejak awal tahun mengganggu rantai pasok energi global dan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Lonjakan harga minyak ini secara otomatis mengerek ekspektasi inflasi di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar global untuk memperhitungkan kemungkinan bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga di penghujung tahun ini, bahkan berpotensi melanjutkan siklus pengetatan pada 2027 guna meredam inflasi dan menambal defisit fiskal lewat penerbitan surat utang berbunga tinggi.

Dinamika ini membuat investor global melakukan penyesuaian portofolio (repositioning). Pasar keuangan Amerika Serikat dinilai lebih menarik, memicu terjadinya capital outflow, meningkatkan permintaan dolar AS, hingga membuat Indeks Dolar (DXY) menguat ke level 101.

Transmisi Tekanan ke Pasar Domestik

Tekanan global tersebut kemudian merembet ke pasar domestik melalui dua tahap transmisi utama:

  • Jalur Harga: Persepsi pasar telah lebih dulu mematok harga aset yang lebih tinggi akibat penguatan DXY sebelum pasar domestik dibuka.

  • Jalur Eksekusi: Persepsi tersebut berubah menjadi realitas supply and demand. Investor asing melepaskan instrumen portofolionya seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) karena imbal hasilnya kalah menarik dibanding instrumen AS.

Dana hasil penjualan aset tersebut kemudian dikonversi ke dolar AS. Lonjakan permintaan valas inilah yang akhirnya menggerus ketahanan nilai tukar rupiah.

Langkah Strategis Bank Indonesia

Menghadapi tekanan eksternal yang berada di luar kendali domestik—seperti konflik geopolitik—BI menegaskan komitmennya untuk memperkuat bauran kebijakan di dalam negeri. BI terus bersinergi dengan pemerintah guna menjaga iklim ekonomi domestik tetap kondusif demi meredam sentimen negatif.

Selain itu, Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun NDF. BI juga aktif mendorong pendalaman pasar valas domestik agar kebutuhan valuta asing pelaku usaha tidak hanya bergantung pada pasar tunai, melainkan juga memanfaatkan instrumen hedging serta diversifikasi transaksi guna mengurangi ketergantungan penuh terhadap dolar AS. (Sn)

Scroll to Top