Presiden Iran ke Fox News: AS “Harus Memilih” Apakah Akan Mengakhiri Perang

Presiden Iran Masoud Pezeshkian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian

Washington | EGINDO.co – Amerika Serikat-lah yang harus memilih apakah akan mengakhiri perang dengan Iran, karena Teheran tidak ingin melanjutkan pertempuran, ujar Presiden Iran Masoud Pezeshkian kepada Fox News dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Kamis (24 September).

Pezeshkian mengambil sikap tegas di PBB pada hari Rabu—setelah melakukan perjalanan ke New York—dengan menyatakan kepada dunia bahwa Iran tidak akan “bertekuk lutut” di hadapan Washington, bahkan saat Presiden AS Donald Trump mengakui adanya pembicaraan yang sedang berlangsung antara AS dan Iran.

“Ketika kita bisa menyelesaikan masalah melalui dialog, kita seharusnya tidak saling membunuh. Namun, akibat provokasi yang dilakukan Israel, mereka memaksakan perang ini kepada kita,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan oleh pihak penyiar.

“Tetapi kami tidak ingin melanjutkannya. Amerika-lah yang harus memilih apakah mereka ingin mengakhirinya atau tidak.”

Pezeshkian menegaskan bahwa Iran siap mencapai kesepakatan dengan Trump untuk mengakhiri konflik tersebut.

“Mengapa hanya dalam waktu dua minggu setelah penandatanganan kesepakatan, mereka memilih untuk menghancurkannya?” ujarnya merujuk pada kegagalan gencatan senjata yang rapuh.

“Jika pemerintah Amerika saat ini, dalam kerangka hukum internasional, ingin mencapai kesepakatan, silakan saja. Jika tidak—baik sebelum pemilihan (paruh waktu AS) maupun setelah pemilihan—apa bedanya bagi kami?”

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut serta dalam pertemuan dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. Pembicaraan mereka tidak segera menghasilkan terobosan.

Pendukung Houthi ?

Di tengah berkecamuknya kekerasan antara gerakan militan Houthi di Yaman—yang secara luas dianggap didukung oleh Iran—dengan Arab Saudi beserta sekutu Yaman-nya, Pezeshkian menegaskan bahwa kelompok Houthi tidak menerima arahan dari pemerintah Teheran.

Washington dan sekutunya, termasuk Arab Saudi serta pemerintah Yaman yang didukung Saudi, menuduh Iran mendukung gerakan militan Houthi yang terus menghujani kerajaan tersebut dengan rudal balistik dan bertempur melawan pasukan yang didukung Riyadh demi menguasai Yaman. “Kelompok Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Mereka tidak menerima arahan dari kami—sebagai pihak yang melakukan perlawanan di kawasan tersebut—melainkan bertindak berdasarkan situasi yang dipaksakan kepada mereka,” ujar Pezeshkian, sebagaimana dikutip dalam terjemahan pernyataan tersebut oleh penyiar berita.

“Kami memang menjalin kontak dengan mereka. Namun, tidak ada hubungan yang bersifat sistematis,” tambahnya.

Arab Saudi mencegat rudal balistik Houthi pada hari Kamis setelah mengeluarkan peringatan untuk beberapa wilayah, termasuk Mekkah.

Kelompok Houthi telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi, menyerang kapal tanker dan wilayah negara itu, serta menguasai sebagian besar pesisir Laut Merah Yaman—jalur yang vital bagi ekspor minyak Saudi—sehingga memicu lonjakan harga energi.

Keberhasilan mereka memperkuat kendali Iran dan sekutunya atas dua jalur perairan yang menjadi tumpuan kawasan Teluk—termasuk Arab Saudi sebagai eksportir minyak mentah terbesar—untuk mendistribusikan minyak serta produk bahan bakar lainnya.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top