Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Ada ungkapan dalam khazanah folklor Batak Toba yang menarik untuk direnungkan: sipatubi manuk sasunut. Manuk adalah ayam. Sasunut menggambarkan ayam yang berkokok tidak pada waktunya. Sedangkan sipatubi menunjuk pada sesuatu yang menjadi pemicu atau menimbulkan akibat.
Ungkapan ini sederhana. Tetapi, bila dibaca lebih dalam, ia menyimpan pertanyaan yang tidak sederhana: Apa yang terjadi kepada sebuah kampung ketika satu suara muncul pada waktu yang salah, lalu orang banyak segera mempercayainya dan bereaksi sebelum memeriksa kebenarannya?
Di sinilah saya melihat kekuatan folklor. Ia tidak selalu memberikan nasihat secara langsung. Kadang ia menghadirkan seekor ayam, sebuah suara, dan sebuah keadaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sana manusia diajak belajar membaca dirinya sendiri.
Ketika ayam berkokok sebelum waktunya
Ayam berkokok pada pagi hari adalah sesuatu yang biasa. Kokoknya menjadi tanda bahwa malam telah berlalu dan hari baru akan dimulai. Tetapi bagaimana kalau kokok itu terdengar tengah malam?
Suara yang sama, tetapi waktunya berbeda, dapat menghasilkan makna yang berbeda pula. Orang yang sedang tidur dapat terbangun. Sebagian mungkin bertanya-tanya. Sebagian lagi dapat mengira sesuatu sedang terjadi. Kegelisahan satu sumber suara dapat menyebar kepada banyak orang.
Di situlah letak pelajaran pentingnya: bukan setiap suara yang keras adalah tanda yang benar, dan bukan setiap suara yang terdengar harus segera diikuti dengan reaksi.
Kita hidup dalam masyarakat yang jauh lebih ramai daripada kampung masa lalu. Kini satu suara dapat bergerak dari satu orang ke ribuan orang hanya dalam hitungan menit. Cerita, kabar, dugaan, potongan percakapan, bahkan informasi yang belum diperiksa dapat menjadi “kokok tengah malam”.
Yang semula hanya suara seseorang, berubah menjadi kegaduhan bersama. Saya melihat persoalannya bukan hanya pada “ayam”
Folklor ini menarik justru karena kita tidak perlu sibuk mencari siapa “manuk sasunut”-nya. Sebab, kalau kita menunjuk orang lain sebagai ayam yang berkokok salah waktu, kita mungkin lupa bertanya:
Jangan-jangan kita sendiri sedang menjadi bagian dari kegaduhan itu karena terlalu cepat mempercayai dan meneruskan suaranya?
Di sinilah menurut saya folklor menjadi cermin, bukan senjata. Ia tidak terutama mengajarkan kita untuk membenci sumber kegaduhan. Ia mengajarkan masyarakat untuk mempunyai kebijaksanaan dalam merespons suara.
Tidak semua suara harus dilawan//Tidak semua suara harus diteruskan//Tidak semua suara harus dipercaya//Dan tidak semua suara harus dijawab pada malam yang sama.
Melihat matahari, bukan hanya mendengar kokok ayam. Bagi saya, di sinilah ada pembacaan baru yang menarik dari manuk sasunut. Tanda pagi bukan semata-mata karena ayam berkokok. Pagi menjadi nyata ketika terang mulai datang.
Maka dalam kehidupan bersama, jangan hanya bertanya: Siapa yang paling keras bersuara?
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apa yang benar-benar menerangi persoalan? Apa yang dapat diperiksa? Apa yang membawa kebaikan bagi kehidupan bersama?
Inilah yang saya sebut sebagai etika mendengar. Masyarakat yang dewasa bukan masyarakat yang tidak pernah mendengar suara yang keliru. Masyarakat dewasa adalah masyarakat yang tidak kehilangan akal sehat hanya karena mendengar suara yang keras.
Ia berhenti sejenak//Ia memeriksa//Ia bertanya//Ia mendengar suara yang lain//Barulah ia mengambil sikap.
Kampung yang baik bukan kampung tanpa kegaduhan. Kita tidak mungkin membangun keluarga, organisasi, parsadaan, atau masyarakat yang sama sekali bebas dari perbedaan suara.
Kegaduhan akan selalu mungkin terjadi. Karena itu, menurut saya, ukuran kedewasaan sebuah komunitas bukanlah ketiadaan manuk sasunut. Ukurannya adalah kemampuan komunitas mengelola akibat dari suara yang muncul tidak pada waktunya.
Di sinilah sipatubi manuk sasunut menjadi lebih dari sekadar ungkapan lama. Ia menjadi literasi sosial. Ia mengingatkan bahwa sebuah komunitas dapat menjadi gaduh bukan selalu karena persoalannya besar, tetapi karena reaksinya lebih cepat daripada pertimbangannya.
Satu suara dapat memulai kegaduhan. Tetapi kegaduhan menjadi besar karena banyak orang memilih untuk meneruskannya. Dari Pusuk Buhit untuk kehidupan bersama. Folklor tidak boleh hanya disimpan sebagai kenangan masa lalu. Ia perlu dibaca kembali agar dapat berbicara kepada zaman.
Dari kampung-kampung tua di tanah Batak, kita memperoleh gambaran sederhana tentang ayam yang berkokok tidak pada waktunya. Dari sana kita dapat belajar menghadapi zaman ketika setiap orang memiliki ruang untuk bersuara.
Kebebasan bersuara membutuhkan tanggung jawab mendengar. Sebelum meneruskan sebuah kabar, periksa. Sebelum menyimpulkan, dengarkan. Sebelum bereaksi, tenangkan diri.
Sebelum membuat orang lain gaduh, tanyakan kepada diri sendiri: apakah suara ini benar-benar membawa terang, atau hanya memindahkan kegelisahan saya kepada orang lain?
Mungkin inilah makna yang dapat kita bawa dari sipatubi manuk sasunut ke kehidupan hari ini. Bukan untuk mencari siapa ayamnya. Melainkan untuk memastikan kampung kita tidak kehilangan ketenangan hanya karena satu kokok yang belum waktunya.
Sebab pada akhirnya, masyarakat yang matang bukan masyarakat yang tidak pernah mendengar suara yang salah. Masyarakat yang matang adalah masyarakat yang mampu membedakan kokok yang menandai datangnya pagi dari kokok yang hanya menimbulkan gaduh. Horas.@
***
Penulis pemerhati masalah social, lingkungan dan budaya, berrada di Dolok Pusuk Buhit, Sianjur Mula-Mula