PM Denmark ‘Optimistis’ Soal Pembicaraan Greenland dengan AS

PM Denmark, Mette Frederiksen
PM Denmark, Mette Frederiksen

Rovaniemi | EGINDO.co – Perdana Menteri Denmark pada hari Senin (14 September) menyatakan dirinya “optimis” bahwa diskusi yang dimulai antara Denmark, Amerika Serikat, dan Greenland—menyusul ancaman AS untuk mengambil alih wilayah tersebut—dapat menyelesaikan sengketa ini.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya pada tahun ini bersikeras bahwa Washington perlu menguasai Greenland—sebuah wilayah otonom Denmark—demi alasan keamanan nasional, meskipun pada akhirnya ia tidak berniat mencaplok wilayah itu dengan kekerasan.

Sebuah “kelompok kerja tingkat tinggi” yang melibatkan perwakilan dari Denmark, Amerika Serikat, dan Greenland dibentuk pada bulan Januari untuk menanggapi kekhawatiran AS, namun sejak pembentukannya, hanya sedikit informasi yang muncul mengenai negosiasi tersebut.

“Kelompok kerja ini masih terus bekerja, jadi masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan, namun saya cukup optimis bahwa kita dapat menemukan jalan keluarnya,” ujar Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dalam sebuah pertemuan puncak mengenai keamanan Arktik di Finlandia utara.

“Selama kelompok kerja masih bekerja, belum ada kesimpulan yang diambil, namun harapan saya tentu saja kita akan menemukan jalan keluar secara damai,” kata Frederiksen kepada para wartawan di Rovaniemi.

Menurut sejumlah media, Amerika Serikat ingin membuka tiga pangkalan militer baru di wilayah selatan Greenland, sebagai tambahan bagi pangkalan Pituffik yang sudah mereka miliki di wilayah utara pulau tersebut.

Sebuah pakta pertahanan tahun 1951, yang diperbarui pada tahun 2004, sebenarnya telah mengizinkan Washington untuk meningkatkan pengerahan pasukan dan instalasi militer di pulau itu, dengan syarat mereka harus memberi tahu Denmark dan Greenland terlebih dahulu.

Pada puncak krisis, Trump sempat tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk merebut wilayah berpenduduk 57.000 jiwa tersebut, yang memicu kekhawatiran di kalangan Uni Eropa dan NATO.

Sejak saat itu, ketegangan telah sedikit mereda, dan dalam langkah yang tampaknya bertujuan untuk meredakan kekesalan Trump, NATO meluncurkan misi baru guna memperkuat keamanan di wilayah Arktik.

“Saat saya menjabat sebagai perdana menteri Denmark, kawasan Arktik tidak benar-benar menjadi agenda utama di Uni Eropa maupun NATO,” ujar Frederiksen.

“Kini, saat kita berbicara, ada 10 negara sekutu yang sedang melakukan latihan bersama di Greenland.”

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top