New York | EGINDO.co – Harga minyak naik pada hari Selasa karena kekhawatiran akan gangguan pasokan terus berlanjut setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi melumpuhkan pipa Timur-Barat milik kerajaan tersebut dan menimbulkan keraguan terhadap upaya mengurangi risiko pelayaran di kawasan Teluk.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik $1,37, atau 1,3 persen, menjadi $107,05 per barel pada pukul 04.06 GMT, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik $1,53, atau 1,51 persen, menjadi $102,92 per barel. Kedua harga acuan tersebut telah naik lebih dari 1 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pasukan Houthi yang didukung Iran di Yaman melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi pada hari Senin, sementara negara-negara Arab Teluk menunda rencana diskusi dengan Iran. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat meluas dan mengganggu pasokan minyak global.
Kelompok Houthi melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) terhadap pangkalan udara militer Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi. Serangan tersebut menghantam hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan gudang amunisi sebagai balasan atas serangan Saudi di Yaman.
Peristiwa ini menyusul serangan hari Jumat terhadap Arab Saudi—yang dituduhkan Riyadh sebagai ulah milisi dukungan Iran di Irak—yang mengganggu pipa Timur-Barat negara tersebut; pipa ini memungkinkan ekspor minyak menghindari Selat Hormuz yang sedang diblokade.
“Para pedagang minyak menganggap setiap serangan baru atau hantaman terhadap infrastruktur sebagai risiko tambahan bagi pasokan, sembari tetap sangat peka terhadap tanda-tanda bahwa aliran minyak melalui pipa Timur-Barat atau Selat Hormuz dapat kembali normal,” ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.
Lalu lintas kapal pengangkut komoditas yang melewati Selat Hormuz turun menjadi kurang dari 10 pelintasan per hari selama akhir pekan, dari rata-rata 14 pelintasan dalam 10 hari sebelumnya. Penurunan ini menimbulkan kekhawatiran terkait rute yang biasanya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari.
Menurut para pembeli dan pedagang minyak Saudi, Arab Saudi bisa kehabisan stok minyak untuk ekspor dalam hitungan hari jika tidak segera memulihkan operasi pipa Timur-Barat. Kondisi ini berpotensi menghilangkan hingga 4 persen pasokan minyak global dari pasar. Eksportir terbesar dunia tersebut telah menggunakan jalur pipa itu untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari—atau sekitar 4 persen dari pasokan global—ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
“Masih banyak ketidakpastian mengenai tingkat kerusakan dan durasi gangguan pada jalur pipa Timur-Barat di Arab Saudi. Harga kemungkinan akan tetap tertopang kuat sampai ada kejelasan,” ungkap para analis ING dalam sebuah catatan.
Secara terpisah, Presiden Volodymyr Zelenskiy pada hari Senin menyatakan bahwa Kyiv siap mendukung usulan AS mengenai gencatan senjata Rusia-Ukraina yang mencakup fasilitas energi, namun hanya jika Washington dapat memastikan bahwa Moskow benar-benar siap mengakhiri perang terhadap Ukraina.
Sumber : CNA/SL