Oman Umumkan Perundingan Hormuz dengan Iran dan Negara Teluk Ditunda

Perundingan Selat Hormuz Ditunda
Perundingan Selat Hormuz Ditunda

Muscat | EGINDO.co – Oman telah mengumumkan penundaan pertemuan yang dijadwalkan pada hari Senin (14 September) antara Iran dan negara-negara Teluk mengenai Selat Hormuz, titik ketegangan utama dalam perang di Timur Tengah.

Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menyatakan akan ada pertemuan yang diselenggarakan oleh Oman untuk merundingkan masa depan selat tersebut, yang merupakan jalur vital bagi aliran minyak dan gas dunia.

Tehran menyebutkan bahwa Irak dan negara-negara Teluk akan berpartisipasi—tanpa merinci negara mana saja yang terlibat—namun belum ada negara di kawasan tersebut yang mengonfirmasi keikutsertaannya, sementara Bahrain telah menyatakan tidak akan hadir.

“Telah diputuskan untuk menunda pertemuan regional yang sedianya digelar pada hari Senin di Salalah ke waktu yang akan ditentukan kemudian, demi menciptakan kondisi yang kondusif bagi dialog yang konstruktif,” demikian pernyataan Kantor Berita Oman pada hari Minggu.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyatakan melalui platform X bahwa “kami tetap bertekad untuk mendorong dialog yang berkontribusi pada stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan kami”.

Selat Hormuz telah mengalami blokade oleh Iran dan kemudian oleh AS sejak 28 Februari, saat AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang memicu perang lebih luas di kawasan tersebut.

Kesepakatan bulan Juni antara Washington dan Tehran sempat terhambat akibat perbedaan pendapat mengenai Hormuz, sementara serangan gencar yang dilakukan pemberontak Houthi Yaman dalam beberapa hari terakhir telah memberikan posisi tawar lebih kuat bagi kelompok sekutu Tehran tersebut atas jalur perairan krusial lainnya, yakni Bab el-Mandeb.

Setelah lebih dari enam bulan perang Timur Tengah berlangsung, blokade Hormuz terus memicu kenaikan harga minyak, yang pada pekan ini melonjak hingga melampaui angka US$100 per barel.

Oman dan Iran telah melakukan pembahasan selama beberapa pekan mengenai cara mengelola jalur perairan vital tersebut.

Sebelum perang pecah, selat ini bebas dilalui kapal, namun kini Iran mewajibkan kapal-kapal untuk mendapatkan izin dan sedang mempertimbangkan mekanisme pengenaan biaya layanan.

Kapal-kapal yang tidak mematuhi aturan tersebut kerap menjadi sasaran serangan Iran, sementara Amerika Serikat secara berkala membombardir garis pantai Iran sebagai upaya menantang kendali Republik Islam tersebut atas selat itu.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top