Beijing | EGINDO.co – Harga minyak naik lebih dari US$3 per barel saat pembukaan pasar pada hari Senin, menyusul serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk pada hari Minggu (13 September).
Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$3,62, atau 3,46 persen, menjadi US$108,23 per barel pada pukul 22.14 GMT hari Minggu. Kontrak berjangka WTI naik US$3,15, atau 3,15 persen, menjadi US$103,20 per barel.
Media pemerintah Arab Saudi pada hari Minggu merilis rekaman video yang memperlihatkan kerusakan pada rumah-rumah dan sebuah masjid akibat serangan yang disebut sebagai serangan Houthi di provinsi Jazan, wilayah selatan negara itu. Kelompok Houthi menyatakan bahwa mereka juga telah menyerang pangkalan militer Saudi di provinsi tetangga.
Sebuah kapal di Selat Hormuz terkena proyektil, yang menyebabkan kebakaran dan mengharuskan awak kapal dievakuasi, demikian disampaikan oleh badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, pada hari Minggu.
Iran menyatakan bahwa satu orang tewas dan empat awak kapal terluka di atas kapal komersial Iran yang terkena serangan di lepas pantainya.
Harga minyak diperkirakan akan naik pada hari Senin di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai risiko pasokan dari Arab Saudi—eksportir minyak terbesar di dunia—yang jalur pipa minyak Timur-Baratnya sempat ditutup pekan lalu akibat serangan pesawat nirawak (drone) yang berasal dari Irak.
“Ke depannya, kecuali jika pembicaraan minggu ini di Oman menghasilkan langkah konkret—atau jalur pipa Timur-Barat kembali beroperasi dengan cepat—risikonya adalah harga minyak mentah akan terus melanjutkan kenaikannya menuju level tertinggi US$119,48 yang tercatat pada awal Maret,” ujar analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan pada hari Minggu.
Namun, Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menyatakan melalui platform X pada hari Minggu bahwa pertemuan yang dijadwalkan pada hari Senin di Oman antara negara-negara Teluk dan Iran untuk membahas masalah Selat Hormuz telah ditunda.
Sumber : CNA/SL