Zelenskyy Menyatakan Siap Bertemu Putin di KTT G20 Miami

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy

Berlin | EGINDO.co – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan kesediaannya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada KTT G20 bulan Desember mendatang. Hal ini disampaikannya dalam sebuah wawancara yang dirilis pada hari Sabtu (12 September), di tengah upaya yang semakin intensif untuk mengakhiri konflik tersebut.

Washington berupaya menghidupkan kembali negosiasi yang telah lama macet guna mencari solusi atas konflik ini—yang merupakan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Para negosiator AS baru-baru ini mengunjungi Kyiv dan Moskow, sementara Presiden Donald Trump dan Putin juga telah melakukan pembicaraan telepon mengenai konflik tersebut pekan ini.

Amerika Serikat memegang presidensi G20 tahun ini—kelompok yang terdiri dari 19 negara ekonomi utama ditambah Uni Eropa dan Uni Afrika—yang puncaknya adalah pertemuan puncak para pemimpin di Miami pada bulan Desember.

Menteri Keuangan Rusia sebelumnya telah menghadiri satu pertemuan G20, yang menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan sebagian sekutu Ukraina; selain itu, seorang diplomat Rusia pada hari Sabtu menyatakan bahwa Moskow juga akan mengirimkan sejumlah pejabat ke pertemuan energi G20 di Houston pekan depan.

Saat ditanya apakah ia bersedia bertemu Putin pada KTT bulan Desember jika kedua pemimpin diundang, Zelenskyy mengatakan kepada lembaga penyiaran Jerman, Deutsche Welle: “Ya, tentu saja.”

“Kita harus hadir. Kita harus bertemu, berbicara, dan mengambil keputusan.”

“Ini bukan soal kata-kata. Apa yang akan saya sampaikan kepadanya atau apa yang ingin ia sampaikan kepada saya, itu tidak penting. Itu tidak penting. Yang penting hanyalah hasilnya. Hasil itulah yang penting. Itu saja.”

Akhir pekan lalu, negosiator AS Steve Witkoff dan Jared Kushner mengunjungi Moskow. Putin dan Trump juga membahas perang tersebut pada awal pekan dalam sebuah percakapan telepon selama satu jam yang digambarkan oleh Kremlin sebagai pembicaraan yang “sangat terus terang” dan konstruktif.

Upaya Diplomatik Semakin Intensif

Dalam wawancara dengan Deutsche Welle yang berlangsung pada hari Jumat di Kanada, Zelenskyy menyebut kunjungan Witkoff dan Kushner sebagai “sinyal yang baik”, seraya menekankan pentingnya fakta bahwa keduanya mengunjungi Kyiv maupun Moskow.

“Itu merupakan bentuk penghormatan terhadap rakyat kami,” ujarnya.

Zelenskyy juga telah mengumumkan rencananya untuk bertemu dengan Trump pada akhir September, seiring langkah Washington yang mendorong diadakannya kembali pembicaraan tatap muka antara Moskow dan Kyiv. Saat ditanya mengenai posisi Ukraina menjelang kemungkinan negosiasi, Zelenskyy menjawab: “Ukraina saat ini jauh lebih kuat dibandingkan tahun lalu di medan perang.”

Rusia menderita kerugian besar di medan perang dan harus membayar “harga mahal” atas “pergerakan yang sangat lambat di medan perang,” ujarnya.

“Itulah sebabnya kami berpendapat bahwa saat ini kami memiliki posisi yang kuat untuk negosiasi.”

Kyiv menyatakan bahwa perundingan tersebut bisa saja terlaksana paling cepat bulan ini, namun Kremlin pada hari Senin mengatakan bahwa masih “terlalu dini” untuk membahas lokasi atau tanggal pelaksanaannya.

Beberapa putaran negosiasi sebelumnya telah gagal. Tingkat kepercayaan antarpihak sangat rendah, dan tidak ada tanda-tanda bahwa Moskow maupun Kyiv telah mengubah posisi mereka.

Baik Moskow maupun Kyiv telah meningkatkan serangan jarak jauh terhadap satu sama lain dalam beberapa bulan terakhir, yang mengakibatkan jumlah korban jiwa di kalangan warga sipil mencapai angka tertinggi sejak awal perang.

Zelenskyy juga kembali mendesak sekutu Ukraina untuk menyediakan lebih banyak rudal pencegat guna menangkal serangan udara Rusia.

“Rusia memproduksi… saat ini 140 rudal balistik per bulan. Jadi, menurut aturan NATO, jika Anda ingin menghancurkan 140 rudal, Anda membutuhkan 280 rudal… Anda tidak akan pernah memiliki 280 rudal per bulan,” ujarnya.

Mencapai angka 100 rudal per bulan saja merupakan “tantangan besar,” katanya.

Sumber : CNA/SL

Scroll to Top