Cairo | EGINDO.co – Arab Saudi pada hari Jumat (12 September) menyatakan telah menutup jalur pipa utama sehari setelah serangan pesawat nirawak (drone), sementara pemberontak Houthi Yaman yang didukung Iran merebut sebuah pulau strategis di pintu masuk selatan Laut Merah. Peristiwa ini membuka front baru dalam konflik yang melibatkan Iran.
Kelompok Houthi mencatat kemajuan wilayah terbesar mereka dalam beberapa tahun terakhir di sepanjang Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran vital dunia. Kemajuan ini dapat memperkuat strategi Iran untuk mendongkrak harga minyak dan gas dunia guna menekan Amerika Serikat.
Arab Saudi menyatakan telah menutup jalur pipa Timur-Barat (East-West pipeline) setelah serangan terjadi sehari sebelumnya. Kementerian Energi Saudi menyebut penutupan tersebut sebagai “langkah pencegahan”.
Kementerian Luar Negeri Saudi menuding serangan itu dilakukan oleh sejumlah pesawat nirawak yang berasal dari Irak. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita pemerintah Saudi Press Agency, kerajaan tersebut menyatakan tidak akan melakukan serangan balasan demi memberikan “kesempatan bagi pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan”.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, yang juga menjabat sebagai panglima tertinggi militer, memerintahkan penyelidikan terhadap komando operasi Provinsi Maysan dan mencopot komandannya dari jabatan. Langkah ini diambil setelah pihak berwenang memastikan bahwa serangan yang menargetkan Arab Saudi diluncurkan dari sebuah lokasi di provinsi tersebut, demikian disampaikan juru bicara pemerintah Sabah al-Numan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu dini hari.
Arab Saudi dan Amerika Serikat membom milisi yang didukung Iran di Irak pada bulan Juli, setelah menuding mereka sebagai pihak di balik serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Saudi—serangan yang sebelumnya diklaim oleh Houthi. Pejabat regional mengatakan kepada The Associated Press bahwa Houthi membantu milisi Irak dalam merencanakan dan melancarkan serangan-serangan tersebut.
Jalur Pipa Dibangun pada Tahun 1980-an
Dibangun pada tahun 1980-an, jalur pipa Timur-Barat memainkan peran penting dalam kemampuan Arab Saudi mengekspor minyak setelah terganggunya akses melalui Selat Hormuz selama perang Iran. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), hingga awal Juni, Arab Saudi telah meningkatkan ekspor minyak dari pelabuhan Laut Merah di ujung jalur pipa tersebut hingga lebih dari dua kali lipat, mencapai angka lebih dari 5 juta barel per hari.
Penguasaan kelompok Houthi atas Mayun—sebuah pulau vulkanik kecil dan gersang di dalam selat tersebut yang juga dikenal sebagai Perim—dikonfirmasi oleh seorang pejabat militer senior dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta seorang pejabat Houthi. Keduanya berbicara dengan syarat anonimitas karena mereka tidak memiliki wewenang untuk berbicara kepada wartawan.
Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, semakin mengandalkan Laut Merah untuk menyalurkan minyak mentahnya ke pasar sebagai alternatif dari Selat Hormuz, tempat Iran kerap menyerang kapal-kapal. Upaya Houthi untuk menutup jalur Bab el-Mandeb yang lebarnya 28 km telah membuat rute tersebut menjadi lebih rumit.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, angkatan bersenjata Houthi membanggakan keberhasilan mereka di sepanjang pesisir tanpa menyebutkan pulau tersebut, Mokha, ataupun Selat Bab el-Mandeb. Mereka bersumpah akan melakukan “eskalasi sebagai balasan atas eskalasi” dalam konfrontasi dengan Arab Saudi, sembari menyatakan bahwa “pelayaran maritim aman bagi semua perusahaan kecuali kapal-kapal Saudi”.
Meski demikian, pasar merasa cemas, dan para ahli menilai kelompok Houthi sebagai pihak yang sangat sulit diprediksi. Harga minyak mentah pekan ini kembali melonjak hingga di atas US$100 per barel, yang memberikan posisi tawar lebih kuat bagi Teheran dalam setiap perundingan.
Pemerintah Yaman Terkejut Oleh Lambatnya Respons Saudi
Kelompok Houthi telah menyerang kapal-kapal Saudi di Laut Merah sejak mengumumkan blokade pada bulan Juli, serta menghantam infrastruktur minyak di dalam wilayah Arab Saudi. Kelompok pemberontak tersebut menyatakan bahwa tindakan mereka merupakan respons terhadap blokade yang telah diberlakukan kerajaan itu selama bertahun-tahun atas wilayah Yaman yang dikuasai Houthi.
Arab Saudi melancarkan serangan udara ke bandara di kota pelabuhan Mokha setelah Houthi merebutnya pada hari Kamis, menurut laporan penyiar Houthi. Tidak ada laporan mengenai kerusakan maupun korban jiwa.
Seorang pejabat militer senior dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan kepada AP bahwa mereka terkejut karena angkatan udara Saudi tidak berupaya mencegah perebutan Mokha, yang terletak sekitar 80 km dari selat tersebut. Ia menilai bahwa Arab Saudi tidak mendapatkan lampu hijau dari AS untuk melancarkan operasi udara berskala besar.
Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonimitas karena tidak diizinkan berbicara kepada media, juga menyoroti “kurangnya koordinasi” antara tentara Yaman dan berbagai milisi sekutu, seraya mengatakan bahwa hal itu memberikan “kesempatan yang sangat berharga” bagi kelompok Houthi.
Aktivitas pelayaran melalui Selat Bab al-Mandeb telah turun sekitar 60 persen sejak kelompok Houthi mulai menyerang sejumlah kapal di wilayah tersebut pada akhir tahun 2023 dan menyatakan solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza. Aktivitas pelayaran sempat meningkat tahun ini seiring upaya Arab Saudi mencari alternatif selain Selat Hormuz, namun ancaman Houthi yang kembali muncul telah “membatasi” aktivitas tersebut, menurut Lloyd’s List Intelligence.
Hal itu memaksa Arab Saudi mencari alternatif lain, yakni mengalirkan minyaknya ke arah utara—keluar dari Laut Merah menuju Laut Tengah—baik melalui Terusan Suez maupun jalur pipa yang melintasi Mesir; sebuah rute yang jauh lebih panjang bagi para pelanggannya di Asia. Kelompok Houthi juga telah mengancam rute tersebut, dengan menyerang sebuah kapal Saudi di bagian utara Laut Merah pada akhir Agustus.
Iran Menyerukan Kembalinya Perundingan Saudi-Houthi
Sebelumnya pada hari Jumat, pemerintah Iran menyerukan diakhirinya blokade Arab Saudi terhadap wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi sebagai bentuk dukungan bagi sekutunya itu. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyerukan dimulainya kembali perundingan antara Arab Saudi dan Houthi.
Sebagai tanda betapa pentingnya Houthi bagi Teheran, juru bicara Garda Revolusi Iran yang berpengaruh pada hari Rabu menyerukan agar setiap penyelesaian yang dirundingkan dengan AS juga mencakup Yaman; ini merupakan penyebutan eksplisit pertama mengenai front tersebut.
Arab Saudi, yang menyatakan selalu menawarkan “peluang untuk berunding”, juga menegaskan haknya untuk membela diri. Menteri Luar Negeri Iran dan Arab Saudi telah berbicara pada hari Kamis mengenai upaya diplomatik untuk “memulihkan stabilitas”, demikian disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui media sosial.
Pertikaian Berisiko Mengembalikan Perang Saudara Yaman
Saat kelompok Houthi bergerak menyusuri pesisir Laut Merah menuju selat Bab el-Mandeb, pemerintah Yaman yang didukung Saudi menyerukan dukungan internasional.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat yang merujuk pada pertemuan sehari sebelumnya, Dewan Pertahanan Nasional Yaman menyatakan bahwa mereka berada di garis depan dalam mempertahankan kebebasan navigasi dan mengecam serangan baru Houthi terhadap Arab Saudi.
Eskalasi pertempuran ini mengancam akan mengakhiri gencatan senjata rapuh yang sebagian besar telah menghentikan perang saudara Yaman sejak tahun 2022. Nasib 40 juta penduduk di negara termiskin di dunia Arab ini menjadi taruhannya. Konflik tersebut telah menewaskan 150.000 orang dan membuat banyak warga lainnya berada di ambang kelaparan.
Lonjakan pertempuran dalam sepekan terakhir telah menyebabkan lebih dari 46.000 orang mengungsi, menurut keterangan badan migrasi PBB pada hari Jumat.
Mereka yang mencari keselamatan pergi dengan membawa “apa pun yang bisa mereka ambil”, ujar Abdusattor Esoev, kepala misi Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) di Yaman, pada hari Jumat. Ia mengatakan jumlah pengungsi meningkat lebih dari dua kali lipat pekan ini dan masih bisa melonjak tajam.
“Anda bisa melihat ketakutan di mata mereka; orang-orang merasa takut,” ujar Esoev.
Di antara mereka yang mengungsi terdapat dokter dan tenaga medis lainnya. Lou Cormack, koordinator Yaman untuk organisasi Doctors Without Borders (Dokter Lintas Batas), mengatakan pada hari Jumat bahwa kelompok bantuan tersebut memprioritaskan agar rumah sakit di Mokha tetap beroperasi setelah sebagian besar stafnya pergi.
Kelompok Houthi telah terlibat perang dengan pemerintah Yaman sejak tahun 2014, ketika kelompok pemberontak tersebut merebut sebagian besar wilayah utara dan tengah Yaman serta ibu kota Sanaa. Arab Saudi turut serta dalam perang tersebut pada tahun berikutnya untuk mendukung pihak pemerintah.
Sumber : CNA/SL