Austin, TX | EGINDO.co – Saham Oracle naik 5,5 persen pada perdagangan pra-pasar hari Jumat setelah kinerja kuartalan perusahaan perangkat lunak dan komputasi Cloud tersebut—yang melampaui ekspektasi—meredakan kekhawatiran terkait belanja besar-besaran yang didanai utang.
Perusahaan yang berbasis di Austin, Texas, ini mencatatkan kontrak Cloud AI tambahan senilai lebih dari $30 miliar pada kuartal fiskal pertama, sehingga mendongkrak nilai kontrak yang belum terealisasi (*backlog*) menjadi $664 miliar—angka yang berada di atas estimasi analis sebesar $639,89 miliar—menurut data dari Visible Alpha.
Hasil positif Oracle ini muncul setelah periode kinerja yang kurang memuaskan, di tengah upaya perusahaan mengejar ketertinggalan dari para pesaing berskala raksasa (*hyperscale*); beban utang yang meningkat dan arus kas yang tertekan sempat memicu keraguan mengenai kapan belanja besar-besaran untuk AI tersebut akan membuahkan hasil.
Hasil kinerja ini diharapkan dapat menjawab kekhawatiran utama investor, termasuk apakah pertumbuhan *backlog* Oracle dapat dipertahankan, konversinya menjadi pendapatan di tengah penundaan pembangunan pusat data, serta kebutuhan untuk penggalangan modal tambahan, menurut analis J.P. Morgan.
Sepanjang tahun ini, saham Oracle sempat turun lebih dari 21 persen, kontras dengan kenaikan hampir 11 persen pada indeks acuan S&P 500.
“Masalah Oracle bukanlah mencari pelanggan, melainkan membuktikan bahwa pembangunan pusat data berskala masif tersebut pada akhirnya dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk membenarkan biayanya. Kendati demikian, hasil ini seharusnya meredakan kekhawatiran bahwa Oracle melakukan pembangunan yang mendahului permintaan pasar,” ujar Lale Akoner, ahli strategi pasar di eToro.
Oracle diperkirakan akan menambah nilai pasar sekitar $24 miliar pada harga saham saat ini di level $161,3, jika kenaikan tersebut bertahan.
Saham ini diperdagangkan pada rasio 16,86 kali estimasi laba masa depan (*forward earnings*), dibandingkan dengan rasio 23,84 untuk Microsoft dan 22,58 untuk Amazon, menurut data yang dihimpun oleh LSEG.
Sumber : CNA/SL