Catatan: Fadmin Malau
MENJEMPUT rindu di tanah haram. Meneladani kehidupan Rasulullah Muhammad SAW dimana dari Kota Makkah, tanah haram hijrah/pindah ke Madinah. Jemaah umroh Miqot Awal Hidayah Travel & Hajj Agency Medan juga hijrah dari Kota Makkah ke Madinah. Namun, tentunya perjalan hijrah tidak sama persis seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.
Hijriah atau pindah atau setelah di Kota Makkah melanjutkan perjalanan ke kota Madinah. Perjalanan yang tidak sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Pasalnya kendaraan yang digunakan adalah kereta api cepat.
Jarak dari kota Makkah ke Madinah adalah 450 kilometer jika ditempuh melalui jalur darat utama (Jalan Raya Al-Hijrah) dan bila ditarik garis lurus maka jaraknya sekitar 340 kilometer. Kini, perjalanan dari kota Makkah ke Madinah dapat dilakukan menggunakan Kereta Cepat Haramain, bus antarkota, atau taksi atau mobil pribadi.
Bila dengan Kereta Cepat Haramain atau Haramain High Speed Railway waktu tempuh hanya 2 jam 30 menit dengan kecepatan 300 km/jam dan nyaman karena minim guncangan. Rutenya berangkat dari Stasiun Al Rusayfah Makkah dan turun di Stasiun Madinah dengan melintasi Jeddah dan Rabigh.
Bila dengan Bus Antarkota lama perjalanan 6 jam, tergantung kondisi lalu lintas tapi biasanya lalu lintas lancar sebab tidak mengenal macet lalu lintas. Biayanya tentu jauh lebih murah bila dibandingkan dengan kereta cepat. Bila dengan taksi atau Layanan Ride-Hailing atau Mobil Pribadi waktu tempuh 4 jam 30 menit.
Apa bila di Indonesia, jarak 450 kilometer itu tidak mungkin ditempu dengan waktu seperti yang di Saudi Arabia. Hal itu karena kondisi jalan di Arab Saudi sangat jauh berbeda dengan di Indonesia. Pada hal jalanan yang dilalui adalah gurun, batu cadas yang keras akan tetapi pembangunan jalan yang menembus gurun dan banyaknya terowongan yang membelah gurun sehingga jalan lurus dan mulus, kecepatan kendaraan jauh lebih cepat dari kendaraan di Indonesia disebabkan jalan yang berliku dan kondisi jalan yang tidak mulus.

Ya, sudah. Itu adalah fakta akan tetapi perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah menempuh jarak sekitar 450 kilometer dalam waktu 12 hari dengan rincian perjalanan hijrah, bersembunyi di Gua Tsur Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq selama 3 hari 3 malam untuk menghindari kejaran kaum Quraisy.
Setelah menempuh perjalanan penuh risiko dan menguras fisik, Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, akhirnya tiba di pinggiran Yatsrib (Madinah dahulu namanya Yatsrib). Ketika Nabi Muhammad SAW menuju pusat kota Yatsrib tertahan di perut lembah, kala itu hari Jumat pagi yang cerah, Rasulullah Muhammad SAW menaiki untanya, Al-Qashwa dengan diiringi para sahabat dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang bersenjata lengkap sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan, rombongan itu bergerak Madinah.
Suasana pagi itu dipenuhi rasa haru, rindu, dan takjub. Ketika matahari mulai bergeser ke barat, pertanda waktu zuhur telah masuk, rombongan Rasulullah Muhammad SAW sedang melintasi pemukiman Bani Salim bin Auf. Wilayah yang terletak di perut lembah atau Wadi Ranuna, sebuah kawasan lembah yang tenang, dikelilingi oleh rimbunnya pohon kurma. Disinilah, perintah syariat turun, langkah Al-Qashwa dihentikan. Rasulullah Muhammad SAW memutuskan untuk menunaikan sebuah ibadah yang belum pernah dilakukan secara terang-terangan dan massal yakni Sholat Jumat berjamaah.

Penduduk Bani Salim bin Auf bersama para sahabat Muhajirin dan Anshar segera berkumpul. Sekitar 100 orang laki-laki berdiri membentuk shaf di bawah langit terbuka Lembah Ranuna yang hening, Rasulullah Muhammad SAW berdiri menyampaikan khutbah Jumat yang pertama dalam sejarah Islam.
Rasulullah Muhammad SAW membuka khutbahnya dengan memuji Allah SWT dan bersabda yang artinya: “Wahai manusia! Bertobatlah kepada Allah sebelum kalian mati. Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum kalian sibuk. Ketahuilah bahwa Allah telah mewajibkan atas kalian salat Jumat di tempatku ini, di hariku ini, di bulanku ini, dan di tahunku ini…”
Dalam khutbah pertama Nabi Muhammad SAW mengenai politik dan kekuasaan serta strategi perang. Khutbah juga berisi tentang cinta, persaudaraan, ketakwaan dan persiapan menghadapi hari akhirat. Usai khutbah, Nabi Muhammad SAW maju memimpin Sholat sebagai imam. Sholat, ruku dan sujud bersama, menghirup aroma tanah Lembah Ranuna yang diberkahi.

Itulah sholat Jum’at pertama dilaksanakan yang dipemimpin langsung Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu menjadi monumen abadi adanya Masjid Al-Jum’ah dimana tempat itu mulanya hanya tanah lapang atau hamparan terbuka di perut lembah. Momen itu diabadikan dengan dibangunnya sebuah bangunan masjid bernama Masjid Al-Jum’ah.
Menurut sejarah masjid Al-Jum’ah telah mengalami berbagai tahap renovasi, mulai dari masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kemudian era Kesultanan Utsmaniyah, hingga perluasan megah pada masa modern oleh Kerajaan Arab Saudi. Kini, Masjid Al-Jum’ah berdiri kokoh dengan arsitektur kubah putihnya yang indah, terletak sekitar 900 meter ke arah utara dari Masjid Quba.
Bagi umat Islam atau jamaah haji dan jamaah umroh yang datang ke Madinah melihat masjid Al-Jum’ah dengan struktur bangunan fisik yang megah. Namun, sebuah perjalanan spiritual, sejarah dimulainya persatuan umat Islam melalui ibadah Sholat Jumat di lembah sunyi yang kini tidak lagi sunyi akan tetapi miliaran umat Islam telah mengunjunginya. Kini juga miliaran umat Islam melaksanakan sholat Jum’at pada setiap hari Jum’at di seluruh dunia.@
***
(Tammat tulisan; Menjemput rindu di Tanah Haram. Selanjutnya berlanjut dengan tulisan; Madinah Kota Nabi )